KOLOM

Mundurnya Putra Mahkota Dahlan Iskan

Dahlan Iskan, Raja Media dari Surabaya, lagi galau. Bukan cuma gara-gara bisnis medianya yang sedang loyo. Tapi, lebih karena pukulan tak enak yang baru saja diterimanya. Azrul Ananda, 40, putranya, mundur dari semua posisi pucuk pimpinan Jawa Pos, koran yang dibesarkannya.

Ada apa? Tak ada yang menyangka. Secara beruntun, November ini, Raja Koran Daerah itu kehilangan tongkat penerus kejayaannya di industri media.

Jumat (24/11), Dahlan harus melepas Azrul dari kursi pimpinan puncak PT Jawa Pos Koran (JPK). Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) PT JPK yang berlangsung singkat di markas induk Jawa Pos di Gedung Graha Pena, Surabaya, resmi menerima pengunduran diri Azrul, biasa dipanggil Ulik, sebagai direktur utama PT JPK. Ia digantikan oleh Leak Kustiyo, salah seorang direksi PT JPK dan mantan pemred koran Jawa Pos.

Keputusan penggantian tersebut dihadiri para pemegang saham PT JPK, di antaranya Goenawan Mohamad (GM), mantan pemimpin redaksiTempo, salah seorang pemegang saham PT JPK.

Tak ayal, inilah pukulan telak kedua bagi Abah, begitu Dahlan biasa dipanggil anak buahnya. Sebelumnya pada 15 November lalu, di Kantor Graha Pena, Jakarta, honorary chairmanGroup Jawa Pos itu, ikut hadir dalam RUPS LB Jawa Pos Holding (JPH) — induk grup usaha Jawa Pos — yang juga menerima pengunduran diri Ulik dari kursi direktur JPH.

Apa penyebab Ulik sampai harus mundur dari posisi puncak di Jawa Pos? Itulah yang masih dirahasiakan Abah. Ia tak mau menjawab dan menjelaskan ihwal itu kepada wartawan yang mencegatnya di Surabaya dan Jakarta.

Usai melakukan senam pagi di Lapangan Monas, Jakarta, Kamis (16/11) lalu — semalam setelah pengunduran diri Ulik — bos media yang keranjingan senam sehat itu, hanya melengos meninggalkan wartawan yang menungguinya.

“Abah tak mau diwawancarai, ” lapor seorang reporter Jakarta kepada redaksinya di kantor pusat di Surabaya. Jawaban serupa sebelumnya pernah disampaikan Mohammad Ihsan, Pemimpin Umum Majalah Warta Ekonomi. Ihsan menangkis kritik di WhatsApp grup PWI Lintas Provinsi tertuju kepada media sibernya yang menulis ihwal Dahlan Iskan tanpa mewancarainya.

Media siber wartaekonomi.co.id sebelumnya merilis berita bertajuk; “Dahlan Lego Saham di JP Group ke Taipan Properti Ciputra,”. Berita ini kemudian dibantah sendiri oleh media tersebut. Memang, dalam dua RUPS yang diadakan JPK dan JPH tidak dibahas ihwal pelepasan saham.

Toh, sejak berita itu muncul, Abah, menurut teman dan anak buahnya tampak agak uring-uringan. Dia tak mau ngomong soal pencopotan Azrul yang terasa mendadak dan mengejutkan.

Mantan wartawan senior Majalah Tempo itu bahkan tak merespons telepon dan pesan WhatsApp dari teman lamanya yang ingin mengklarifikasi berita miring tersebut.

“Berita Dahlan lego saham itu hoax. Dahlan tetap sebagai pemegang saham. Hanya anaknya mundur dari pimpinan,” penjelasan seorang pemegang saham JP di Jakarta.

Tak ada rilis atau pemberitahuan resmi dari grup usaha media raksasa itu berkaitan dengan penggantian pucuk pimpinan manajemennya. Setelah RUPS LB, koran Jawa Pos hanya menuliskan dimasthead koran. Perubahan nama direktur utama PT Jawa Pos Koran. Dari sebelumnya tertulis Azrul Ananda, kini menjadi Leak Kustiyo. Dirut baru didampingi dua direksi lain, yakni Andreas Didi dan Ivan Firdaus.

 

Putra GM

Tak ada nama Hidayat Jati, putra GM, di jajaran direksi baru JPK. Padahal, Hidayat Jati, sebelumnya santer disebut-sebut akan menggantikan posisi Ulik di JPK.

Barangkali itulah jalan kompromi antara para pemegang saham JPK. Peserta RUPS akhirnya setuju memberikan kursi dirut kepada Leak Kustiyo, yang dekat dengan Ulik dan abahnya. Ulik sendiri nanti akan diminta mengurus klub sepak bola Persebaya. Klub ini Februari lalu diakuisisi PT JPK. Sekaligus, Ulik juga akan meneruskan pelbagai kegiatan olahraga bola basket yang dirintis dan dikelolanya melalui PT DBL (Development Basketball League).

Sempat muncul spekulasi di internal markas Jawa Pos di Surabaya. Pengunduran diri Ulik karena desakan para pemegang JPK di Jakarta yang semuanya tokoh yang paham media. Benarkah?

“Tidak ada di antara kami di JP yang ingin Ulik mundur. Tapi kalau dia tetap ingin mundur mesti bagaimana lagi,” tegas seorang pemegang saham lain di Jakarta.

Seorang yang dekat dengan lingkaran Ulik — bos muda ini sejak tahun 2011 menggantikan abahnya menjadi orang nomor satu di koran JP — mengatakan Ulik sudah resah sejak mendengar kabar bahwa kinerjanya sedang disorot para pemegang saham di Jakarta.

“Dia kayaknya tidak suka dievaluasi bos-bos Jakarta. Makanya, sebelum itu terjadi di RUPS buru-buru mundur,” ujar orang dalam JP. Sama dengan ayahnya, Ulik juga tak mau menjawab pertanyaan mengapa dia mengundurkan diri.

Yang sudah jelas, para pemegang saham JPK belakangan ini memang mencemaskan kinerja usaha JP yang terus merosot turun sejak tiga tahun lalu.

Tahun 2013 pendapatan koran JP masih mantap di angka Rp686,56 miliar. Tapi setelah itu mulai menurun. Tahun 2014 menurun tipis ke angka Rp653,57 miliar. Pada 2015 dan 2016, angka tersebut terus menurun hingga Rp520,40 miliar. Penurunan paling tajam terjadi pada tahun ini. Hingga Oktober 2017, pendapatan JP baru berkisar Rp345,57 miliar.

Pendapatan turun, otomatis laba juga berkurang. Pada 2013, koran JP tercatat meraup laba bersih Rp257,52 miliar. Selang tiga tahun berikutnya, jumlah laba hanya mencapai Rp148,81 miliar. Laba ini hampir pasti merosot lagi pada 2017. Sebab sampai bulan Oktober, laba bersih diperkirakan baru sekitar Rp65 miliar (lihat: grafik).

Tak heran, jika para pemegang saham JPK makin khawatir melihat perkembangan JP. GM tak membantah realitas kinerja JP memang sedang merosot terutama tiga tahun terakhir ini.

“Betul, memang ada penurunan. Selain Jawa Pos, juga semua koran di grup,” katanya.

Itulah juga sebabnya sekitar tiga bulan lalu, atas persetujuan pemegang saham lain, GM menyetujui putranya Hidayat Jati — sebelumya bekerja sebagai direksi di Femina Group— ditarik masuk untuk memperkuat jajaran direksi JPH.

Langkah itu juga salah satu upaya GM dan para pemegang saham JPH lain di Jakarta, untuk memonitor jalan usaha media dan bisnis lain yang bernaung di grup JP.

Para pemegang saham JPK hampir semua adalah para senior Dahlan di Majalah Berita Tempo. PT Grafiti Pers, penerbit Tempo sebelum majalah berita tersebut dibredel pemerintah Orde Baru di tahun 1994, adalah pemegang saham mayoritas (sekitar 71 persen). Sedangkan 29 persen lainnya dimiliki tujuh pemegang saham perorangan: mendiang Eric Samola (kini diwakili istri Ny. Dorothea Samola), Goenawan Mohamad, Fikri Jufri, Harjoko Trisnadi, Lukman Setiawan, Dahlan Iskan, dan Ratna Dewi Wenny. Dua orang terakhir ini belakangan didapuk masuk sebagai pemegang saham karena dianggap berjasa membesarkan koran Jawa Pos.

Koran JP dibeli oleh Eric Samola pada 1982. Waktu itu, Eric adalah direktur utama PT Grafiti Pers, penerbit Majalah Berita Tempo. Atas persetujuan manajemen Grafiti, Eric kemudian mengangkat Dahlan, kala itu wartawan yang menjadi kepala biro Tempo di Surabaya, sebagai pucuk pimpinan baru Jawa Pos.

Berkat kerja keras Dahlan, sistem kerja media profesional yang diperolehnya dari Tempo, koran itu cepat eksis dan kemudian melejit dengan pesat. Ketika pengambilan alih terjadi, oplah koran JP berkisar 6.000 eksemplar saja. Dalam lima tahun, Dahlan, yang didukung oleh semua awak militan JP ditambah sejumlah wartawan Tempo yang pada awal penerbitan berperan sebagai kontributor, berhasil menaikkan jumlah oplah hingga 300.000 eksemplar.

Kisah sukses Jawa Pos harus diakui sebagai sesuatu yang fenomenal bagi industri pers Indonesia. Wajar, jika semua pemegang saham koran itu sangat puas pada pencapaian Dahlan dan kawan-kawan. Setelah itu, JP segera berkembang beranak pinak menjadi satu grup media besar. Bernaung dalam Jawa Pos Holding (JPH), grup media ini pernah tercatat menaungi sedikitnya 134 koran dan tabloid di pelbagai daerah, 40 jaringan percetakan di beberapa kota, 20 stasiun televisi lokal dan beberapa usaha lain di luar media. Ini adalah pencapaian gemilang sebuah koran daerah dalam tiga dekade.

Hampir sama dengan di JPK, para pemegang saham JPH adalah PT Grafiti Pers (49 persen) dan tujuh figur perorangan lain sebanyak 51 persen — (lihat: grafik).

Pukulan Internet

Bisnis media hari-hari ini tengah mengalami perubahan besar. Pembaca media cetak beralih ke media baru difasilitasi internet. Media cetak sudah makin ditinggal pembacanya. Ini adalah dampak samping meluasnya pemakaian internet dan digitalisasi media. Banyak koran ditutup pemiliknya karena rugi.

Mengantisipasi naiknya pembaca melalui internet dan mencegah kerugian lebih besar, sejumlah kelompok media sibuk berbenah. Kelompok media besar macam KKG (Kelompok Kompas Gramedia), misalnya, pada akhir 2016 telah mengumumkan penutupan delapan majalah dan tabloidnya. Kelompok media lain, Femina, Tempo, MNC, dan lain-lain memilih jurus yang bertujuan sama. Efisiensi ketat dan besar-besaran. Mulai dari mengurangi oplah cetak, memutus hubungan kerja dengan wartawan dan karyawan, atau migrasi ke media siber (online media).

Masa depan media cetak memang suram. Perusahaan riset PT The Nielsen Company Indonesia belum lama ini menuliskan hasil riset mereka. Pada 2015, mereka mencatat sudah 16 dari 117 surat kabar di Indonesia gulung tikar. Sejumlah 38 majalah lokal juga bernasib sama. Kini, Indonesia hanya memiliki 132 dari 170 majalah yang masih bertahan terbit.

Semua grup media berbenah. Bagaimana Grup Jawa Pos? Orang menduga grup ini masih aman karena mereka masih bisa melakukan ekspansi bisnis. Malah ada yang berisiko. Contohnya, bulan Februari lalu, JPK baru mengakuisisi klub sepak bola Persebaya 1927 dengan jumlah nilai sekitar Rp7,5 miliar.

Langkah manajemen yang dipimpin Ulik itu disesali dan dikecam dari dalam. “Blunder. Itu proyek rugi. Pasti nanti makin membebani perusahaan,” kecam seorang senior JPK di Surabaya.

Dia lalu menambahkan, setelah akuisisi, manajemen harus menanggung biaya operasional. Besarnya sekitar Rp10 miliar per musim kompetisi.

Memang ada tambahan pendapatan dari sponsor. Jawa Pos punya klien bernama besar seperti perusahaan otomotif Honda dan kopi Kapal Api. Tapi, semua pemasukan palingbanter hanya menutup separuh dari pengeluaran.

Rekannya yang lain menyebut Ulik egois. Mau jalan sendiri. Kurang mau mendengar pendapat koleganya.

Ya, itulah agaknya otokritik. Ulik, bos muda yang sejak 2011 menggantikan abahnya sebagai CEO (chief executive officer) JPK rupanya memang tipikal bos yang sulit dibendung jika sudah berkeinginan.

Pengeritiknya mengakui Ulik pernah berhasil dengan gagasannya “meremajakan” pembaca Jawa Pos.

Oplah JP pernah naik. Antara lain dari para pembaca muda yang tertarik pada berita khas anak muda yang tersaji di JP. Itu karena redaksi memenuhi gagasan Ulik agar mereka lebih intens menggarap pembaca muda. Di antaranya dengan menggiatkan dan memberitakan pelbagai kegiatan atau pertandingan olahraga seperti bola basket, khusus untuk anak-anak muda.

Agaknya jurus itu mau diulanginya di sepak bola. Peminat olahraga ini jauh lebih besar ketimbang basket. “Di atas kertas benar. Tapi, sekarang ini pasar koran lagi turun dan sepak bola kita kansedang terpuruk,” tukas seorang senior Ulik di JP. Dia yakin para pemegang saham tidak tahu rencana bisnis baru itu. “Mungkin juga tidak diberi tahu,” ungkapnya lagi.

 

Pesan Pemegang Saham

GM mengatakan, ia juga mendengar pelbagai kritik terhadap manajemen dibawah Ulik. Makanya, sesaat setelah usai RUPS JPK, ketika diminta memberi sambutan, GM meminta para direksi baru JPK agar memperhatikan masukan dan kritik.

“Saya memesankan pada mereka Tiga T. Tekad, team work, dan target,” ungkapnya. Direksi perlu bertekad berusaha mencapai target, memperbaiki kesalahan, kompak dan menjaga kepercayaan. “Harus transparan. Gak boleh seenaknya sendiri,” tambah GM.

Mungkin, merespons kritik dari orang dalam dan dari luar, dia mengusulkan segera dibentuk dua komisi baru yang selama ini terabaikan di JPK. Komisi investasi dan remenurasi.

Yang terakhir ini memang keluhan lama di internal JP. Gaji mereka rendah. Kalah dari media lain. Padahal, perusahaan setiap tahun meraup laba. Hal lain yang juga menyesakkan adalah tingkat perbedaan gaji. Antara karyawan, staf, dan direksi amat mencolok.

“Gaji direksi bisa ratusan juta. Silakan aja cek,” gerutu seorang staf JPK yang sudah keluar dari media itu.

Demikian juga kebijakan investasi. Sering kali hanya mengandalkan perasaan dan insting perorangan, dan kurang dilakukan kajian komprehensif. Evaluasi juga kurang. “Dah lama gak ada rapat SWOT. Padahal itu penting,” kata GM.

Apa pun, itulah mungkin masukan yang patut direspons para pemegang saham dan manajemen Jawa Pos. Primadona koran daerah itu kini sedang menghadapi pasang surut.