Ada La Nina, BMKG: Tingkatkan Kewaspadaan Hadapi Musim Hujan | Cek&Ricek
Foto: Ashar/Ceknricek.com

Ada La Nina, BMKG: Tingkatkan Kewaspadaan Hadapi Musim Hujan

Ceknricek.com -- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan awal musim hujan dimulai secara bertahap pada Oktober. Pengaruh La Nina dan IOD negatif diprediksi mengakibatkan sebagian wilayah Indonesia atau 27,5 persen Zona Musim (ZOM) berpotensi mengalami musim hujan yang cenderung lebih basah daripada rerata klimatologisnya

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengimbau pemerintah yang daerahnya mengalami musim hujan lebih basah untuk meningkatkan mitigasi dan kewaspadaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi.

"Perlunya kewaspadaan dan penyiapan secara lebih dini dan optimal untuk upaya mitigasi oleh para pemangku kepentingan dan Pemerintah Daerah yang wilayahnya diprakirakan akan mengalami musim hujan lebih maju atau lebih basah," kata Dwikorita dalam rilis yang diterima di Jakarta, Senin, (7/9/20).

Mitigasi tersebut dijelaskan Dwikorita dengan melakukan pengelolaan tata air yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, antara lain dengan upaya memenuhi dan menyimpan air lebih lama ke danau, waduk, embung, kolam retensi, dan penyimpanan air buatan lainnya, serta penyiapan kapasitas sungai dan kanal untuk antisipasi debit air berlebih.

Baca juga: Bencana Banjir, Sudan Umumkan Status Darurat Nasional 3 Bulan

Sementara itu, Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim, Dodo Gunawan mengimbau para pemangku kepentingan dan masyarakat untuk tetap mewaspadai wilayah-wilayah yang akan mengalami musim hujan lebih awal, yaitu di sebagian wilayah Sumatera dan Sulawesi, serta sebagian kecil Jawa, Kalimantan, NTB dan NTT.

Perlunya peningkatan kewaspadaan dan antisipasi dini untuk wilayah-wilayah yang diprediksi akan mengalami musim hujan lebih basah dari normalnya yaitu di Sumatera, Jawa dan sebagian kecil Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara dan Papua.

Selain itu perlu diwaspadai pula wilayah-wilayah yang akan mengalami awal musim hujan sama atau sedikit terlambat (10-20 hari), terutama di wilayah-wilayah sentra pangan seperti Jawa, Bali, NTB dan Sulawesi.

"Masyarakat diharapkan dapat lebih siap dan antisipatif terhadap kemungkinan dampak musim hujan terutama di wilayah yang rentan terjadi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor," kata Dodo. (Antara)

BACA JUGA: Cek BREAKING NEWS, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini


Editor: Prasetyo Agung G


Berita Terkait