Akankah Covid-19 Mengulangi Pandemi Maut Hitam? | Cek&Ricek
Foto: Istimewa

Akankah Covid-19 Mengulangi Pandemi Maut Hitam?

Ceknricek.com -- Kalau sejarah bisa berulang niscaya pandemi pun seakan tidak ingin ketinggalan. Sejak beberapa waktu belakangan ini umat manusia diganasi oleh virus corona baru – COVID-19.

Sebenarnya bukan baru sekali ini virus dalam berbagai jenisnya telah menghajar umat manusia. Cuma, sekali ini, di abad ke-21, manusia sudah (paling tidak merasa) berada di atas angin dengan segala kemajuan teknologi dan ilmiah yang telah dicapai.

Hanya sang virus seolah tidak tahu atau tidak menggubris segala ini. Pokoknya bagi puteri corona “bujur lalu melintang patah”. Dan umat manusia gempar, saking paniknya sampai-sampai Presiden negara adi kuasa Amerika Serikat, pemimpin yang suka dijuluki sebagai manusia paling berkuasa di dunia, menyarankan agar penderita COVID-19 minum disinfektan atau disuntik disinfektan saja. Karena disinfektan diyakini dapat membantai virus kalau disemprotkan.

Sudah terlalu banyak yang ditulis dan diulas tentang COVID-19. Oleh sebab itu, dalam “kisah” ini penulis ingin mengajak sidang pembaca kembali merenungkan apa yang pernah terjadi sekitar 7 abad yang lalu di Eropa, yang dikenal dengan julukan “Maut Hitam”.

Wikepedia Indonesia menjelaskan tentang Maut Hitam sebagai berikut:

“Maut Hitam, disebut juga Wabah Hitam atau Black Death, adalah suatu pandemi hebat yang pertama kali melanda Eropa pada pertengahan hingga akhir abad ke-14 (1347 – 1351) dan membunuh sepertiga hingga dua pertiga populasi Eropa. Pada saat yang hampir bersamaan, terjadi pula epidemi pada sebagian besar Asia dan Timur Tengah, yang menunjukkan bahwa peristiwa di Eropa sebenarnya merupakan bagian dari pandemi multiregional,"

Baca juga: Bersiap Memasuki The New Normal

"Jika termasuk Timur Tengah, India, dan Tiongkok, Maut Hitam telah merenggut sedikitnya 75 juta nyawa. Penyakit yang sama diduga kembali melanda Eropa pada setiap generasi dengan perbedaan intensitas dan tingkat fatalitas yang berbeda hingga dasawarsa 1700-an. Beberapa wabah penting yang muncul kemudian antara lain Wabah Italia (1629 – 1631), Wabah Besar London (1665 – 1666), Wabah Besar Wina (1679), Wabah Besar Marseille (1720 – 1722), serta wabah pada tahun 1771 di Moskwa. Penyakit ini berhasil dimusnahkan di Eropa pada awal abad ke-19, tetapi masih berlanjut pada bagian lain dunia (Afrika Tengah dan Oriental, Madagaskar, Asia, beberapa bagian Amerika Selatan).”

Tidak mustahil bahwa Maut Hitam yang disebutkan di atas adalah suatu akibat dari perbuatan “kualat” umat Kristen/Katolik terhadap umat Islam 9 abad yang silam.(Rasanya dalam bahasa Inggris tidak ada padanan kata kualat).

Alkisah dalam abad ke 11 dan 12 di Eropa, begitu menurut para sejarawan Barat, berkecamuk berbagai bentuk kekerasan dan penyamunan, kezaliman dalam bentuk yang kuat menggagahi yang lemah. Saling bersibunuhan antara sesama penganut ajaran Katolik merajalela. Yang terlibat bukan saja rakyat biasa melainkan juga, dan terutama, para bangsawan, meski sebelumnya sudah disepakati apa yang disebut sebagai gerakan “Perdamaian Demi Tuhan” (The Truce of God).(The Lessons of Terror” – Caleb Carr).

Alhasil dapatlah diibaratkan bahwa waktu itu memang mewabah suatu bentuk “haus darah” yang menjangkiti banyak kalangan. Pimpinan Gereja Katolik Paus Urban II cukup risau melihat keonaran yang sudah mewabah itu. Dalam tahun 1095, seraya menghela napas panjang, Paus Urban II menghimbau para hulu balang yang bolak balik terlibat dalam pertarungan antara sesama mereka itu, agar melakukan sesuatu yang suci, tanpa harus meletakkan senjata mereka.Yakni membebaskan kota suci Yarusalem (Al Quds) dari tangan Muslim.

Baca juga: Corona dan Kiamat

Dalam apa yang kemudian disebut sebagai salah satu “khutbah terampuh dalam sejarah” Paus Urban II menyerukan kepada para hulu balang tersebut agar menumpas ancaman yang datang dari kalangan Muslim (Saracen dari kata Arab Syarqiyin yang berarti mereka yang dari Timur).

Kata Paus Urban II: “Biarlah mereka yang selama ini menjadi penyamun berubah menjadi laskar Kristus. Biarlah mereka yang selama ini saling berbaku hantam dengan sesama saudara seiman kini bertarung melawan kaum barbar (Muslim).” (The Lessons of Terror – Caleb Barr).

Dalam bukunya “The First Eden” tokoh lingkungan Inggris David Attenborough mengatakan, seruan dan himbauan Paus Urban II itu, yang kemudian dikenal sebagai Perang Salib, dapat disamakan seperti ajakan melakukan jihad dalam Islam.

Paus Urban II juga menjanjikan setiap yang gugur, meski pun sebelumnya dia adalah pendosa karena melakukan kejahatan, seperti misalnya penggarongan, akan bulat-bulat masuk surga.

Seruan itu laksana api yang merebak di rumput kering. Di seluruh Eropa himbauan Paus untuk membebaskan dan merebut kembali kota suci Yarusalem (Al Quds) menggema di berbagai gereja, biara dan katedral. Berbagai laporan menyebutkan sekitar 100-ribu orang akhirnya berangkat menuju Al Quds atau Yarusalem untuk membebaskannya dari tangan Muslim.

Singkat cerita kemenangan dan kekalahan silih berganti terjadi.

Yang menarik,begitu disebutkan dalam buku The First Eden, adalah betapa banyak pelajaran yang dipetik umat Kristen dari Eropa dalam pertarungan mereka dengan kaum Muslim.

Dari Muslim-lah umat Kristen Eropa waktu itu berkenalan dengan berbagai jenis buah-buahan dan sayur-sayuran. Orang-orang Eropa tersebut sangat kagum melihat pohon jeruk yang berbuah dan berbunga pada waktu yang sama; kemudian mereka berkenalan dengan buah tin, delima, anggur, melon, mentimun dan banyak lagi.

Baca juga: Negara, Warga Negara dan Corona

Dan rempah-rempahan seperti cengkih, kayu manis, buah pala. Dari bangsa Arab (yang waktu itu merupakan bagian dari bala tentara Muslim) orang-orang Eropa belajar menikmati manisan terbuat dari air tebu – kata sugar dalam bahasa Inggris yang berarti gula dipinjam dari bahasa Arab sukkar.

Ketika bala bantuan pihak Eropa tiba di medan laga Timur Tengah, mereka terkesima melihat para salibiyah yang sudah terlebih dahulu “berkenalan” dengan Muslim, mengenakan busana yang lebih sesuai dengan iklim setempat, sering mendatangi kamar-kamar mandi umum, menggunakan parfum terbuat dari bunga mawar dan bedak yang dalam bahasa Arab disebut talcum/talkum – talc.

Lelaki Eropa meniru, misalnya, sorban yang suka dikenakan lelaki Muslim, sementara perempuan Eropa menyontoh hijab. Juga lelaki Eropa mulai memelihara janggut, lagi-lagi meniru kebiasaan (bahkan ada yang menyebutnya sunnah) lelaki Muslim waktu itu.

Alhasil tidak sedikit pelajaran yang dibawa kembali ke Eropa oleh para peserta Perang Salib, termasuk barang-barang terbuat dari kaca dan lampu-lampu dari tembaga yang kemudian disumbangkan ke gereja yang memajangnya tanpa menyadari bahwa pada barang-barang tersebut termaktub kata-kata yang memuji kebesaran Allah (swt).

Banyak di antara para bangsawan yang kembali ke Eropa kemudian mendirikan kastil atau rumah yang dilengkapi dengan kamar mandi; atau memugar rumah lama mereka agar dapat dibangun di dalamnya kamar mandi. Agar mereka dapat terus mengamalkan kebiasaan yang mereka contoh dari kaum Muslim di Yarusalem dan sekitarnya. (Dan Kami turunkan air dari langit yang membersihkan (QS 25:48) sementara menurut Hadits: Kebersihan adalah bagian dari iman).

Sebelum itu, banyak gereja di Eropa yang menganjurkan kepada jema’at mereka agar sedapat mungkin menghindari mandi, karena ketika mandi seseorang bukan saja akan melihat auratnya melainkan juga cenderung akan menyentuhnya. Suatu hal yang patut dihindari. (East and West – Prof. C. Northcote Parkinson).

Ternyata tanpa disadari, di antara segala bawaan tersebut (barang maupun mode dan kebiasaan) rupanya ada penumpang gelap – tikus hitam, yang kemudian sebagaimana sudah lazimnya, beranak pinak dan berkembang biak di wilayah baru mereka. Gegara tikus hitam itu, dalam tahun 1347 berjangkitlah wabah Maut Hitam di Eropa.

Baca juga: Maut Hitam dan Runtuhnya Peradaban?

Awalnya di Sisilia, Italia, dan kemudian berjangkit di dan ke mana-mana. Tubuh mereka yang terjangkit dipenuhi dengan bengkak-bengkak laksana bisul, khusus di sekitar kemaluan dan di bawah ketiak. Bau mulut mereka lebih dahsyat ketimbang kakus; mereka muntah darah dan meninggal dalam sehari atau dua hari, bahkan terkadang dalam hanya beberapa jam setelah terjangkit.

Memang sebelum itu sudah pernah berjangkit wabah ta’un sejenisnya namun dalam abad ke-14 itu, keadaan daerah-daerah permukiman yang padat, dengan sarana kebersihan yang sama sekali tidak mendukung, dan tampilnya sang tikus hitam dan kutu-kutunya melahirkan malapetaka yang belum pernah ada taranya sebelum itu. Cepatnya penyakit itu menyebabkan kematian, dan penyebarannya yang tidak pula kalah cepatnya, mengguncang Eropa.

Jenazah para korban dengan cepat dikubur, namun tidak ada upaya apa pun yang dapat mencegah dan menghabisinya. Dalam jangka waktu tiga tahun sejak pertama kali kemunculannya, Maut Hitam, mampu merenggut nyawa satu dari tiap-tiap tiga orang penduduk Eropa. (The First Eden – David Attenborough).

Lalu dengan segala keterbatasan teknologi dan ilmiah di zaman itu, bagaimana ta’un ini akhirnya pudar?

Menurut teori yang populer dianut selama ini, virus atau kuman atau apalah nama penyebabnya, akhirnya tidak berdaya ketika penduduk yang tidak atau belum terjangkit mengurung diri (melakukan karantina), dan hanya keluar rumah apabila perlu sangat, sementara yang mampu meninggalkan kawasan permukiman yang padat penduduk dan hidup dalam “pengasingan” di tempat lain. Meski begitu diperkirakan antara 70 sampai 200 juta orang tewas.

Ada satu mitos/dongeng yang sudah dibantah oleh Musium Inggris yang menyebutkan bahwa wabah ketiga yang berjangkit sekian tahun kemudian, terutama di Inggris, akhirnya punah akibat kebakaran besar yang menghanguskan kota London dalam tahun 1666.

Adakah hikmah yang dapat ditarik dari semua ini ketika umat manusia di abad ke-21 ini diganasi oleh virus corona baru – COVID -19? Allahu a’lam.

BACA JUGA: Cek EKONOMI & BISNIS, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini



Berita Terkait