Sumber: twiiter @aniesbaswedan

Anies Baswedan, Terima Kasih Tempo

Ceknricek.com -- Majalah Tempo kembali bikin heboh. Setelah menyajikan cover Presiden Joko Widodo seperti tokoh kartun Pinokio, kali ini Gubernur DKI Anies Baswedan yang dijadikan karikatur dalam edisi terbaru.

Di cover edisi 11-17 November, digambarkan Anies dengan baju seragam ASN tampak dipenuhi lem. Lem yang dimaksud tak lain adalah aibon yang menjadi viral belakangan dalam penyusunan APBD DKI Jakarta.

"Aib Anggaran Anies, Rancangan Bujet DKI Jakarta bertabur proyek janggal. Gubernur Anies Baswedan Ditengarai bakal bagi-bagi dana hibah buat pendukungnya," begitu bunyi keterangan di cover Tempo tersebut.

Sumber: Tempo

Berbeda dengan gambar sampul Pinokio Presiden Jokowi yang memicu reaksi keras dari lingkar kekuasaan, Anies Baswedan menyikapinya dengan santai. Ia bahkan menyampaikan terima kasih karena menilai Tempo telah menjalankan tugasnya sebagai pilar keempat demokrasi. Apresiasi itu setidaknya ia utarakan di akun resmi Twitternya, Minggu (10/11).

"Terima kasih Tempo telah jalankan tugasnya sbg pilar keempat demokrasi. Semoga perbaikan sistem yang sedang berjalan bisa segera kami tuntaskan. Terus awasi kami yg sdg bertugas di pemerintahan... Karikaturnya boleh juga. Kalau tidak begitu bukan Tempo namanya," tulis Anies.

Anies rupanya merasa bersyukur pembelaannya terhadap Tempo saat dibredel pada 1994 silam tak sia-sia. Ia yang saat itu masih tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta memang turun ke jalan menentang pembredelan Tempo, Editor dan Detik. Bersama rekan-rekannya, Anies menolak kesewenangan pembredelan yang dilakukan pemerintah Orde Baru kala itu.

Sumber: Twitter

Konsistensi sikap Anies terhadap kebebasan pers mendapat respons positif dari rekan-rekannya sesama alumni UGM, yang kini tersebar di berbagai negara.

"25 tahun lalu saat memimpin mahasiswa, dia berjuang untuk kebebasan pers. Kini saat menjadi pemimpin pemerintahan dia konsisten hormati kebebasan pers. Menjadi demokrat sejati itu dibuktikan dengan jejak rekam," tulis akun @qusyhasan, Minggu (10/11).

Anies Dipopor Laras Senjata

Keterlibatan Anies dalam aksi menolak pembredelan Tempo, Editor, dan Detik, setidaknya terekam oleh salah seorang rekannya, Ferizal Ramli, seperti dikutip dari ferizalramli.wordpress.com, Senin (11/11). Artikel tersebut dipublikasikan pertama kali pada 21 Mei 2007, saat Anies terpilih sebagai rektor Universitas Paramadina Jakarta.

Berikut catatan lengkap Ferizal Ramli.

Baca Juga: Anies Baswedan Hindari Perdebatan yang Tidak Perlu

Dari kesaksian seorang sahabat tentang Anies Baswedan. Sebut saja sahabat kita itu: Faraz Ramadhan. Dia mantan pimpinan senat mahasiswa UGM dari kelompok hijau (bukan hijau militer lho, kalo pinjem kata Clifford Geertz; kelompok hijau santri).

Tahun 1994 kalau tidak salah, mahasiswa Yogya demo di bunderan. Menentang pembredelan Detik, Tempo dan Editor. Mahasiswa menolak kesewenangan pembredelan itu. Mereka demo menentang!

Saat itu 1994, Wak Dhe (Uwak Gede) dari pada Haji dari pada Muhammad dari pada Soeharto sedang represif-represifnya. Setiap demo langsung dihadapi oleh laras senapan militer.

Siang terik. Jam menunjukkan pukul 13.30. Mahasiswa yang sudah capek berdemo sejak pagi, bersiap ingin membubarkan diri.

Tiba-tiba komandan militer kasih perintah melalui pengeras suara kepada mahasiswa:

"Dalam 30 menit lagi Anda harus bubar! Jika tidak, maka kami yang akan membubarkan dengan paksa!!!”

Mendapat perintah represif tersebut, justru membangkitkan semangat perlawanan mahasiswa. Bukannya bubar, massa mahasiswa bersatu merapatkan barisan. Mereka bertekad tidak mau bubar. Siap melawan.

Papan batu hijau muda bertuliskan “Selamat Datang di Kampus Universitas Gadjah Mada”, terletak tepat di tengah Bunderan” dijadikan D’ Alamo, benteng perlawanan massa mahasiswa. Sementara batalyon pasukan militer (Brimob) berjejer rapi, profesional jali, di depan RS Panti Rapih. Hanya berjarak 100 meter persis di depan D’ Alamo -nya mahasiswa.

Pukul 13.45. Suasana semakin heroik. Keberanian menggelora di dada. Idealisme tinggi membumbung menembus lapisan awan tertinggi. Seakan seluruh mahasiswa siap menyerahkan selembar nyawa di badan.

Tapi benarkah demikian?

Pukul 13.55, berarti 5 menit sebelum deadline, Faraz dengan cemas melihat kebelakang. Kaget dia tidak percaya dengan penglihatannya!

Bambang Nursanto Suryolaksono (bukan nama sebenarnya, tokoh aktivis FE UGM), atau aktivis gadis Amoy Rekena (juga bukan nama sebenarnya, tokoh aktivis juga), dan lain-lain sedang lari sipat tukang menyelamatkan diri. 

Wuss…, wuss…, wuss…, kabur nyaris tak terdengar. Mereka tidak mempedulikan nasib mahasiswa lain yang berhadapan langsung dengan laras senapan.

Faraz cemas. Dia sadar hanya dia dan Anies Baswedan-lah yang berada di garis terdepan. Memang mereka bersama ribuan massa mahasiswa. Tapi mereka itu massa mengambang. Bukan tokoh aktivis. Sementara para tokoh aktivis lain sudah lari menyelamatkan diri.

Faraz menoleh, bertanya pada Anies seniornya:

“Anies, semua pimpinan aktivis dari kelompok-kelompok lain sudah kabur. Cuma kita yang berada di garis depan. Kenapa kita tidak ikut lari?,” tanya Faraz dengan suara bergetar menahan takut tak terkira.

(Iyalah Faraz cemas. Saat itu bukan jaman pasca reformasi Bung! Laras senjata di depan mata. Ancaman hidup mati riil hanya berjarak beberapa jengkal)

Baca Juga: Gaduh Dipicu Politikus Dungu

Anies senyum tenang menoleh dengan kalem:

Sumber: Ashar/Ceknricek.com

“Raz, kita ini pemimpin. Kita tidak boleh lari meninggalkan mereka (massa mengambang). Mereka berdemo dengan keberanian di dada karena mereka percaya pada kita. Haruskah kita meninggalkan mereka ketika ancaman hidup mati di depan mata?”

Faraz diam sambil lirih menjawab:

"Bener Nis, tapi aku takut sekali”.

"Justru pada saat seperti inilah kita harus percaya bahwa Allah SWT pasti melindungi kita. Yang membedakan kita dengan mereka (para pemimpin mahasiswa yang lari) cuma satu, yaitu : Iman!," jawab Anies dengan tegas!

Berbagai cita rasa bercampur aduk antara takut, cemas, malu di dada Faraz.

Sumber: Ashar/Ceknricek.com

Sadar bahwa Faraz sangat tertekan, Anies kembali senyum bicara:

"Raz, kalau kamu mau lari, larilah sekarang. Mumpung belum terlambat. Aku sangat memahami keputusanmu untuk lari. Tapi aku tetap akan bertahan disini. Dan aku akan berterima kasih jika kamu juga tetap disini bertahan bersamaku,” begitulah Anies menutup pembicaraan.

Selanjutnya seluruh fokus dan konsentrasinya diarahkan untuk menghadapi lawannya, sebatalyon pasukan tempur yang siap membantai!

Keberanian dan ketulusan Anies menginspirasi Faraz. Dengan sisa-sisa  keberanian disertai doa-doa terakhirnya, Faraz tegak membatu di samping Anies. Dia memutuskan untuk bertahan apapun yang terjadi, um jeden Preis!

Tepat pukul 14.00, dalam satu komando; "Bantai!”, maka gerak pasukan topan badai menyerbu.

Bukannya lari, Anies malah maju kedepan beberapa langkah. Berteriak dia mengusir:

"Hey, ini kampus mahasiswa! Keluar kalian semua! Kalian tidak pantas masuk kampus ini!!!”

Tapi apalah arti teriakan Anies itu dalam telinga, pasukan "robot-robot pembunuh profesional”.

Detik berikutnya, Anies, Faraz, dan seluruh mahasiswa terjungkal di garis depan. Sahabat-sahabat Anies dari kelompok hijau, yang berada di "Gelanggang Mahasiswa” segera maju menuju "Bunderan” untuk memperkuat barisan dan mencoba "menyelamatkan” Anies. Sayang keberanian dan ketulusan itu justru dibayar mahal dengan percikan darah.

Hari itu, Anies Rasyid Baswedan terjungkal kena popor senapan. Tapi hari itu juga membuktikan bahwa keteguhan Anies untuk mempertahankan kebenaran tidak pernah terjungkal meskipun berhadapan dengan laras senapan dan nyawanya adalah taruhannya.

BACA JUGA: Cek Berita AKTIVITAS PRESIDEN, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini. 


Editor: Farid R Iskandar


Berita Terkait