Sumber: AFP

Casey Stoner, Fenomena Pembalap Pendorong Batas

Ceknricek.com -- Siapa tak kenal Valentino Rossi? Nama pembalap MotoGP asal Italia ini selalu menghiasi headline koran atau tabloid olahraga khususnya otomotif di era 2000-an. Namun eksistensi Rossi sempat ternoda pada tahun 2007. Ada satu nama yang mengguncang dunia saat itu, yakni pembalap asal Australia, Casey Stoner.

Stoner genap berusia 34 tahun, Rabu (16/10). Kini ia sedang menjalani kehidupan indahnya bersama istrinya, Adriana Tuchyna dan dua putrinya Alessandra Maria dan Caleya Maria. Sesekali Stoner masih mengendarai motor gede dan mengikuti festival motor seperti Goodwood Festival, Juli lalu. Stoner juga kerap menghabiskan waktunya bersama keluarga dengan memancing, hobinya di luar dunia motor.

Stoner mundur sebagai pembalap MotoGP pada tahun 2012, saat usianya masih berada di periode emas 27 tahun. Apakah dia mundur karena sudah tidak kompetitif lagi?

Tidak. Musim 2012 Stoner masih berada di posisi tiga klasemen akhir, di belakang rekannya Dani Pedrosa dan sang juara, Jorge Lorenzo. Bagi Stoner, sudah tidak ada lagi yang perlu dibuktikan yang membuat ia akhirnya meninggalkan dunia yang membesarkan namanya itu.

Sumber: Wikimedia

“Olahraga ini telah berubah dan saya sudah tidak menyukainya. Saya tidak memiliki semangat lagi untuk balapan, dan bagi saya ini saat yang tepat untuk pensiun,” kata Stoner, 17 Mei 2012. Keputusan itu bagaikan petir di siang bolong. Lorenzo dan Rossi sendiri terkaget-kaget mendengar keputusan Stoner.

Sumber: Twitter @Official_CS27

Ya, bukan Stoner namanya jika tak membuat kejutan. Saat menjadi juara dunia tahun 2007, ia seolah datang dari negeri Antah Berantah yang tiba-tiba merusak pesta sang Doctor, Valentino Rossi. Baru promosi ke kelas premier di tahun 2006, Stoner pindah dari Honda ke Ducati di tahun 2007. Stoner dan Ducati, pabrikan asal Italia juga mampu merusak dominasi motor-motor pabrikan Jepang seperti Honda, Yamaha dan Suzuki yang mendominasi arena balapan roda dua sejak 1975.

Banyak yang mencibir prestasi Stoner tak lepas dari kekuatan yang dimiliki oleh motor Ducati Desmosedici GP7. Namun, perlu diingat saat itu Ducati memiliki pembalap yang jauh lebih berpengalaman daripada Stoner, Loris Capirossi yang faktanya hanya berhasil memenangi balapan sekali di musim itu, GP Jepang. Sementara Stoner sukses menjuarai 10 dari 18 balapan di musim 2007.

Ibarat banteng, Ducati memang memiliki tenaga yang kuat, namun sulit dikendalilan. Stoner dianggap sebagai satu-satunya pembalap yang mampu mendorong motor hingga mencapai batasnya. Hingga saat ini, pria yang lahir di Southport, Queensland itu menjadi satu-satunya pembalap yang mampu juara bersama Ducati.

Bahkan Rossi yang membela Ducati di tahun 2011 dan 2012, atau Lorenzo yang membela Ducati di tahun 2017 dan 2018 juga gagal membawa tim pabrikan yang bermarkas di Bologna itu menjadi juara, baik sebagai pembalap atau juara konstruktor seperti yang dilakukan Stoner di tahun 2007. Hal ini membuktikan keberhasilan Stoner bukan hanya faktor motor semata.

Stoner juga telah membuktikan itu dengan menjadi juara bersama Honda di tahun 2011, sekaligus mematahkan dominasi Yamaha di tiga musim sebelumnya. Jadi apa lagi yang perlu dibuktikan?

Sumber: Redbull

Mulai Balapan Sejak Empat Tahun

Pada buku autobiografinya Pushing the Limits (2013), Stoner menceritakan kisahnya secara eksklusif. Anak kedua dari Colin Stoner dan Bronwyn ini mulai balapan sejak masih balita, tepatnya empat tahun pada balapan tanah kelas U9 di trek balap Mike Hatcher, Gold Coast, Australia. Colin adalah seorang tukang cat keliling yang sesekali terjun di balapan amatir.

Sumber: Bikesmedia.in

Kakak perempuan Stoner, Kelly Stoner disebut-sebut sebagai orang yang menjajalkan motor kepada Stoner kecil. Kelly juga sering tampil di ajang balapan motor amatir setempat. Stoner memenangi balapan pertamanya di usia 6 tahun, lalu menunjukkan potensi hingga usia 14 tahun. Stoner dipercayai telah memenangi 41 balapan dirt dan long track, serta mengoleksi 70 gelar juara negara bagian.

Di tahun 1999, Stoner dan keluarganya pindah ke Inggris demi menunjang karier balapnya. Mereka hidup dalam kesulitan keuangan, tak mampu membayar biaya sewa dan pajak apartemen, hingga terpaksa tinggal dalam sebuah karavan. Stoner saat itu berusia 14 tahun, atau usia legal untuk mengikuti balapan di Inggris.

Sumber: Motogp.com

Dari 2000 hingga 2002, Stoner mengikuti kejuaraan nasional 125cc di Inggris dan Spanyol. Stoner memenangi Kejuaraan Inggris Aprilia 125cc di tahun 2000. Di tahun 2001, Stoner mulai balapan MotoGP 125cc bersama tim Telefonica MoviStar Junior Team. Semusim berikutnya, Stoner bersama tim LCR menjajal kelas 250cc sebelum pindah lagi ke 125cc.

Di kelas 125cc, Stoner sukses memenangi 2 balapan, yakni GP Valencia 2003 dan GP Malaysia 2004. Tahun 2005, dirinya naik kelas ke 250cc dan langsung menjadi runner up klasemen akhir dengan memenangi 5 balapan. Inilah yang membuka dirinya untuk promosi di tahun 2006 dan akhirnya menjadi juara di tahun 2007.

Family Man

Bukan Rossi, Lorenzo atau Dani Pedrosa yang bisa menghalangi seorang Stoner. Kalau ada yang bisa menghambat kariernya, itu karena dirinya mengidap penyakit anemia akut dan gangguan perut. Tahun 2009, Stoner juga didiagnosis menderita intoleransi laktosa. Rentetan penyakit inilah yang juga dituding sebagai alasan pembalap bertinggi 171 centimeter itu mundur, dan ingin fokus menghabiskan waktunya untuk tiga wanita cantik di keluarganya.

Sumber: Redbull

Stoner dianggap sebagai seorang family man. Ia pertama kali bertemu Adriana Tuchyna tahun 2003 di balapan di GP Australia, Sirkuit Phillip Island. Menurut ceritanya, Adriana yang saat itu masih berusia 14 tahun ialah fans iseng yang meminta Stoner menandatangani perutnya.

Sumber: Motorland

Dari fans iseng, hubungan cinta itu akhirnya benar-benar dimulai pada 2005 hingga berakhir di pelaminan pada tahun 2007. Jika para pembalap selalu ditemani gadis-gadis payung cantik sebelum balapan, maka hanya Adriana yang diizinkan menjadi umbrella girl.

Baca Juga: Beda Nasib Sang Juara dan Rekan Satu Tim

Sumber: whosdatedwho.com

“Saya lebih memilih tradisi sebagai masyarakat kuno, sebab seperti Anda ketahui saat ini pemuda dan pemudi Australia terkenal akan kebiasaan hidupnya yang bebas. Saya masih ingin mempertahankan tradisi masa lampau Australia, dan karena itulah tidak ada jalan lain bagi saya selain meminang Adriana secara baik-baik daripada melakukan hal-hal yang kurang terpuji,” kata Stoner seperti dikuti biografinya karya Tom Bapallaz, 2008.

Anak pertama Stoner, Alessandra Maria lahir pada 16 Februari 2012. Uniknya, tanggal ulang tahun Alessandra sama dengan Valentino Rossi. Pada 06 Oktober 2017, anaknya yang kedua, Caleya Maria lahir.

Spesialis Pengembang

Usai pensiun, Stoner sempat menghabiskan waktu dengan balapan mobil Supercars V8. Stoner juga sempat menjadi pembalap penguji dan pengembang motor Honda di tahun 2013 hingga 2015. Jika kita melihat Honda dan Marc Marquez saat ini begitu dominan, itu tak lepas dari jasa Stoner.

Sumber: Carsales

Predikat pembalap pengembang pun kembali disematkan Stoner usai dirinya kembali ke Ducati di tahun 2016. Terbukti, Ducati dalam beberapa tahun terakhir berhasil kembali kompetitif, seperti ketika Andrea Dovisiozo mampu menjadi runner up di bawah Marquez di musim 2017 dan 2018.

“Kami sangat berterima kasih kepada Casey atas semua kerja kerasnya. Berkat bantuannya, kami telah merakit motor yang sangat kompetitif. Casey merupakan salah satu rider paling populer bagi fans Ducati," kata Direktur Olahraga Ducati, Paolo Ciabatti seperti dilansir Motorcyclesports.

Sumber: Foxspor

Ciabatti pun mengakui Stoner adalah talenta terbaik di dunia.

BACA JUGA: Cek Berita BIOGRAFI, Persepektif Ceknricek.com, Klik di sini



Berita Terkait