CNR INDONESIA MOVIE RATING 0003: ANTOLOGI RASA | Cek&Ricek
Foto: Idntimes

CNR INDONESIA MOVIE RATING 0003: ANTOLOGI RASA

IMR & AMR

(Indonesia Movie Rating)
(Anjuran Menonton Rating)

NILAI IMR

(Indonesia Movie Rating)
4 : Terserah
5 : Biasa Saja
6 : Cukup
7 : Lumayan
8 : Menarik
9 : Bagus
10 : Luar Biasa

NILAI AMR
(Anjuran Menonton Rating)
4 : Membuang Waktu dan Uang
5 : Tunggu, tak Perlu Ditonton
6 : Boleh Nonton kalau ada Waktu
7 : Memenuhi Syarat Tontonan
8 : Asyik sebagai Hiburan
9 : Direkomendasikan untuk Ditonton
10 : Jangan Lewatkan!

---

IMR 003
ANTOLOGI RASA
Cinta Canggung Empat Profesional Muda
Ulasan : Yan Widjaya

Foto: Idntimes

Credit Title
Produksi : Soraya Intercine Films
Produser : Ram Soraya, Sunil Soraya
Sutradara : Rizal Mantovani
Cerita : Ika Natassa
Skenario : Ferry Lesmana, Donny Dhirgantoro
DOP : Muhammad Firdaus
Para Pemain : Herjunot Ali, Carissa Perusset, Refal Hady, Atikah Suhaime, Angel Pieters, Hans de Kraker
Genre : Drama Dewasa
LSF : Untuk 17 Tahun ke Atas
Durasi : 108 Menit
Tayang : Mulai 14 Februari 2019


JAKARTA, Keara, gadis muda, cantik, cerdas, berpendidikan tinggi, diterima bekerja di sebuah bank besar. Tepat pada hari pertama, dalam lift, ia berkenalan dengan tiga profesional muda lainnya, yang juga sama-sama baru masuk bekerja dan agak terlambat. Mereka adalah Rully yang langsung membuat Keara jatuh hati pada pandangan pertama, Harris, yang seketika terpikat pada Keara, dan Denise, yang disukai Rully.
Lewat prolog lima menit pertama durasi film sudah terpapar masalah cinta segi empat antar empat profesional muda tersebut. Toh mereka berupaya merahasiakan isi hati masing-masing di balik tabir persahabatan yang terjalin. Padahal sekilas sempat terlihat Harris begitu mudah menaklukkan hati gadis-gadis cantik lain, anehnya di depan Keara, ia mendadak kelu, tak berdaya. Sampai Keara diajak Harris ke Singapura untuk menonton balapan F 1 GP di sana. Dan dalam kondisi sama-sama mabuk di hotel malam itu, terjadilah sesuatu yang sudah bisa kita duga... 


Keara murka dan kecewa berat pada Harris yang sudah dianggap sebagai sahabat sejati, namun ternyata memanfaatkan kesempatan bak kucing garong melahap ikan asin tersaji di meja makan. Hati Keara memang hanya tertuju pada Rully, malangnya Rully justru mengabaikannya karena mencintai Denise yang memilih menikah dengan Kemal. Padahal Kemal bukan lelaki yang patut menjadi suami teladan, bahkan tak segan melakukan KDRT hingga Denise dirawat di Rumah Sakit. Bukan Kemal melainkan Rully yang setia mendampinginya...


Cerita yang berputar-putar antar para profesional muda ini memaksa mereka untuk memilih antara perasaan dan persahabatan, sesuai tagline, “Untuk mereka yang sudah menemukan tapi tidak bisa memiliki.”
Atau seperti pameo dari sahabat Keara yang lain, Dinda yang sudah berkeluarga, “Kata orang, kalau dia bisa bikin lu tertawa, itu tandanya elu suka sama dia, kalau dia bisa bikin lu menangis, itu tandanya elu cinta sama dia!”

Bestseller
Ngomong-ngomong soal pameo, maka para emak-emak pasti dengan tegas akan memberi petuah pada anak gadisnya yang tengah galau dalam percintaan, “Lebih baik kaupilih lelaki yang mencintaimu daripada yang kaucintai!”
Iya sih, itulah nasihat yang terbaik dari para ibu, kendati pada hakekatnya yang terbaik adalah bila kalian saling mencintai sepenuh hati serta sudah mapan, sepakat untuk bergotong-royong melayarkan bahtera rumah tangga.
Nah, para profesional muda yang bekerja sebagai bankir dalam film ini semuanya sudah mapan, tinggal di apartemen, punya mobil mewah, saldo tabungan lebih dari cukup (buktinya bisa membeli tiket menonton balap mobil Formula One yang setara dengan harga sebuah motor made in China!). Namun sebagai kalangan menengah ke atas, mereka juga digambarkan seperti maaf, kurang gaul, hanya berkubang dalam lingkungan yang sangat terbatas, bahkan hidup sendiri mandiri di ibukota, tanpa orang tua dan sanak-keluarga. Terasa janggal bagi orang Indonesia yang kita kenal dalam hidup di sekeliling kita. Bukan cuma Keara yang seorang gadis, tapi juga Harris dan Rully, bagai ujug-ujug hadir di muka bumi.


Persamaan paling kental di antara mereka adalah hanya ingin mencintai seorang dan acuh pada lawan jenis yang lain. Padahal sungguh sulit terjalin persahabatan sejati antara pria dan wanita, beda halnya antara pria dengan pria, atau wanita dengan wanita. Kenapa demikian? Karena setulus-tulusnya rasa persahabatan antar beda jenis, akan tetap terselip hasrat seksual. Semua tokoh berwatak keras kepala, hanya mengikuti suara hati sendiri, hingga terasa kurang realistis dan tidak bernalar sehat, bahkan sangat kikuk bin canggung dalam menangani problema asmara. Tapi memang itulah yang hendak dituturkan mengenai mereka.


Skenario digubah dari novel perdana karya Ika Natassa yang sehari-hari memang bekerja di sebuah bank di Medan. Justru novel sesudahnya, Critical Eleven, mendahului difilmkan dan menangguk sukses besar. “Sesungguhnya right untuk memfilmkan Antologi Rasa sudah lama dibeli produser Sunil Soraya, tapi baru belakangan difilmkan,” aku novelis laris ini. Tak urung cukup banyak tokoh yang berseliweran dalam novel aslinya karena berbagai pertimbangan tercerabut dari filmnya hingga pada akhirnya hanya ditonjolkan tiga tokoh utama belaka.


Foto: youtube/Soraya Intercine Films

Didapuk berperan sebagai Harris adalah aktor muda Herjunot Ali yang memang sudah langganan Soraya. Sebelumnya Junot sudah menampilkan akting menarik antara lain lewat 5 Cm, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, dan Supernova, di bawah bendera perusahaan yang sama. Saingannya, Refal Hady, baru setahun angkat nama di dunia film lewat debutnya, Galih dan Ratna (2017), versi baru dari Gita Cinta di SMA.
Penemuan terbesar film ini adalah pendatang baru Carissa Perusset, gadis model yang keruan cantik, serta cukup berhasil ditempa untuk menghidupkan sang karakter utama, Keara. Ada pun tokoh pendukung Denisse, dipercayakan pada aktris impor dari Singapura, Atikah Suhaime, yang sebelumnya mendukung komedi My Stupid Boss sebagai seorang kerani. Pemeran pendukung lainnya, Angel Pieters, sebagai Dinda, sahabat tempat curhat Keara.


Sutradara Rizal Mantovani memang mengawali kariernya dengan menggarap iklan dan video klip musik. Debutnya sebagai sutradara film bioskop berawal dari omnibus Kuldesak (1999) dan horor Jelangkung (2001) yang dibuat berdua dengan Jose Poernomo. Sejak itu, Rizal membuat belasan film bergenre horor, baru kini kembali ke genre drama. Mungkin saking hati-hatinya dalam mengalihkan novel laris yang sudah mendapat tempat di hati puluhan ribu pembacanya, maka alur penuturan terasa agak lamban. Untungnya didukung oleh kemampuan seni peran para pemain, serta gambar yang apik, berlatar negeri tetangga, Singapura, plus keindahan Bali. Ada pula imbuhan musik dari D’Masiv yang bernada ceria, Nidji, serta Geisha yang mendayu-dayu.
*
Nilai IMR     : 7,5
Nilai AMR   : 7,5



Berita Terkait