Sumber Foto: Mister Angka

DIbalik Kisah Anak Krakatu

Ceknricek.com – Berawal dari kisah Kerajaan Krakata untuk merebutkan kotak Pandora yang dapat membawa siapapun pemiliknya ke negeri gaib.

Terletaknya Indonesia pada tiga lempengan benua, membuat ketiga lempeng itu bertemu dan menghasilkan tekanan pada kulit bumi yang terdesar ke atas membentuk sebuah gundukan yang sangat tinggi, dan salah satunya adalah Gunung Krakatau.

Tepat oada tanggal 26-27 Agustus 1883, Gunung Krakatau meletus dengan dahsyat, memilik daya ledak mencapai 30.000 kali bom atom yang mengakibatkan tsunami setingggi 40 meter bahkan terdengar hingga 4600 km serta memakan korban jiwa sekitar 36.000 jiwa.

Kejadian tersebut menghancurkan 60% tubuh Krakatau pada bagian tengah, sehingga membentuk lubang kaldera sepanjang 7 km dan menyisakan 3 pulau kecil, yakni Pulau Rakata, Pulau Sentung dan Pulau panjang.

Gumpalan abu vulkanik yang tak hanya dirasakan oleh masyarakat Indonesia namun dunia. Kejadian itu membuat matahari yang bersinar seakan redup hingga setahun berikutnya. Hamburan debu pun tampak hingga ke langit Norwegia dan Newyork

Pada tahun 1927, sekitar 43 tahun setelah Gunung Krakatau meleteus, muncul gunung api dari kaldera purba yang masih aktif. Proses perubahannya sekitar 20 inci per bulan, setiap tahun semakin meninggi hingga 20 kaki.

Hingga kini ketinggian Anak Krakatau mencapai 450 meter di atas permukaan laut, sementara Gunung Krakatau pada dulunya mencapai ketinggian 813 meter di atas permukaan laut.

Daya tarik Anak Gunung Krakatau tersebut membuat banyak wisatawan yang datang untuk sekedar berlibur atau sekedar mencari tau tentang gunung tersebut.

Akan tetapi, wisatawan hanya dapat mengunjunginya hingga ketinggian 200 meter saja atau pos terakhir wisatawan.

Menurut laporan Antara, Gunung Anak Krakatau meletus pada September 2012 mencapai 18 kali letusan, kejadian ini berdampak pada pemukiman warga yang berada di sekitar wilayah Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan hujan abu material. 

Dilansir dari Kumparan.com, hingga 18 juli lalu, gunung ini sudah mengalami peningkatan aktivitas vulkanik, bahkan terjadi erupsi dan membuat kolom abu setinggi 1.000 meter.

Bahkan hingga November ini, Anak Gunung Krakatau mengalami 673 kali gempa, dan melontatkan material pijar mencapai 100-200 meter dari puncak, hal tersebut membuat status gunung ini menjadi waspada hingga saat ini.