Sumber: History Conflict

Fakta di Balik Jatuhnya Bom Atom di Jepang

Ceknricek.com -- Pada tanggal hari ini, 9 Agustus 1945, pesawat bomber Boeing B-29 berjuluk Bock’s Car, dengan Pilot Mayor  Charles W. Swenney menjatuhkan bom atom berkode ‘Fat Man’ di atas kota Nagasaki, Jepang pukul 11.02 waktu setempat. 

Tiga hari sebelumnya, dengan menggunakan peswat yang lain, lewat pesawat Enola Gay dengan  Pilot Letkol Paul W. Tibbets, bom atom ‘Little Boy’ lebih dulu dijatuhkan di kota Hiroshima.

Enola gay
Enola gay. Sumber: Medium

Peristiwa dan tragedi di dua kota di Jepang ini menandai akhir perang dunia II, hingga kaisar imperial Negeri Matahari Terbit menyerah kalah. 

Namun, kenapa Hiroshima dan Nagasaki yang menjadi target bom atom? Seberapa dahsyatkah efek kerusakan yang dihasilkan bom tersebut? 

Hiroshima dan Nagasaki Bukan Target Pertama

Daftar pertama target penjatuhan bom sebenarnya adalah kota Kyoto, Yokohama, Kokura, Niigata, Nagasaki, dan Hiroshima. 

Namun setelah melewati perdebatan panjang, tempat penjatuhan pertama bom atom dalam sejarah dunia adalah kota Hiroshima. 

Baca Juga: Hiroshima Peringati Tragedi 74 Tahun Jatuhnya Bom atom

Pemilihan kota tersebut dinilai terbaik karena selain dipadati oleh sekitar 318.900 penduduk, Hiroshima juga menjadi pusat berkumpulnya tentara dan embarkasi penting di Jepang.

Sementara Nagasaki sempat dipilih sebagai tempat penjatuhan bom kedua, namun sempat dicoret karena medannya yang terlalau berbukit sehingga tidak memaksimalkan efek bom.

ledakan
Sumber: Fox

Setelah melewati pertimbangan, dipilihlah kota Kokura, wilayah ini merupakan basis industri penyuplai alat militer terbesar bagi Jepang.

Namun, pesawat Bock’s Car yang membawa bom mengalami masalah teknis dan baru datang setengah jam  kemudian, sehingga kota Kokura terlanjur diselimuti awan.

History of Sorts
Sumber: History of Sorts

Karena khawatir bom akan jatuh jauh dari titik target dan tak mencapai kesuksesan maksimal, setelag berputar-putar di atas kota Kokuro hingga bahan bakar mulai habis, maka dipilihlah kota terdekat dari sana, yakni Nagasaki.

Karakteristik dan Efek yang Ditimbulkan

Little Boy berdimensi panjang 300 cm, diameter 71 cm dan bobot total 4.400 kg. Bom ini memiliki inti isotop uranium u-235, berbobot 64 kg. Inilah peledak pertama di dunia yang menggunakan bahan dasar uranium dengan daya ledak 15 kilotons.

Selepas diluncurkan di Hiroshima, 44 detik kemudian Little Boy meledak dalam radius kehancuran mencapai 1,6 km dan menyebabkan 11 km persegi area kota terbakar hebat. Kurang lebih 20.000 tentara meninggal seketika bersama 70.000-126.000 rakyat sipil yang kala itu sedang melaksanakan aktivitas harian. Meski sebagian tak langsung meninggal, namun efek radiasi dampaknya tak kalah mengerikan. 

ap
Sumber: AP

Fat Man, diambil sebuah tokoh bernama Sydney Greenstreet dalam novel The Meltese Falcon oleh Robert Serber. Penggunanan nama Fat Man merupakan sebuah kode yang sangat dirahasiakan agar tak mudah dideteksi oleh musuh.

Sesuai namanya, ukurannya memang lebih besar dibandingkan Little Boy. Panjangnya 3,3 meter, diameternya 1,5 meter, dan beratnya 4.670 kilogram. Isinya bukan uranium, melainkan plutonium seberat 6,4 kilogram dengan daya ledak 21 kilotons.

Baca Juga: Hari Ini Dalam Sejarah: Muhammadiyah Resmi Berdiri

Selepas diluncurkan di Nagasaki, 43 detik kemudian Ledakan maha dahsyat menciptakan bola api besar yang suhunya mencapai 3.900 derajat Celcius. 

Efek ledakan pun menghasilkan angin yang bertiup hingga 1.000 km per jam, menyapu bangunan rata dengan tanah, menyeret nyawa 40.000 penduduk Nagasaki. Sementara 40.000 yang lain kemudian mati karena radiasi yang mengakibatkan paparan leukimia serta penyakit mengerikan lainnya.

Setelah 74 tahun

Warga Jepang memperingati 74 tahun tragedi jatuhnya bom atom di Hiroshima, Selasa (6/8) waktu setempat, di Monumen Perdamaian Hiroshima. Mereka mengheningkan cipta, menaruh karangan bunga sekaligus berdoa dan mengenang para korban tragedi tersebut.

warga jepang
Sumber: Reuters

Walikota Hiroshima Kazumi Matsui pun meminta pemerintah Jepang untuk lebih bertindak tegas sambil menyerukan penghapusan senjata yang pernah melenyapkan kota itu. Dalam pidatonya, ia mengingatkan akan bangkitnya egoisme politik di dunia dan mendesak para pemimpin untuk terus bekerja sama demi mencapai dunia tanpa senjata atom.

Baca Juga: Mengenang Marah Rusli, Salah Satu Sosok Cemerlang Balai Pustaka

“Kita bisa melihat dunia saat ini dipenuhi nasionalisme egois yang terus meningkat, ketegangan yang memuncak akibat eksklusivitas dan persaingan, dengan perlucutan senjata nuklir yang masih mandek,” ujar Matsui dalam pidato damainya.

Matsui juga meminta pemerintah Jepang untuk dapat mewakili harapan para korban selamat bom atom dengan menandatangani perjanjian PBB mengenai larangan senjata nuklir. Permintaan tersebut menjadi wajar dikarenakan Jepang hingga saat ini belum ikut berjanji dalam pelarangan senjata nuklir. 

Itu karena Jepang masih menampung kurang lebih 50.000 tentara Amerika dan terlindungi oleh payung nuklir A.S. Perdana Menteri Shinzo Abe sendiri mengakui adanya perbedaan pendapat antara negara-negara bersenjata nuklir dan yang tidak.

Ia  bertekad untuk menjaga prinsip perdamaian dan antinuklir yang dianut Jepang, tetapi tidak berjanji untuk menandatangani perjanjian tersebut. 

BACA JUGA: Cek SENI & BUDAYA, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini.



Berita Terkait