Foto: Ashar/Ceknricek.com

Firli Jadi Ketua KPK, Saut Situmorang Mundur dari Wakil Ketua KPK

Ceknricek.com -- Saut Situmorang menyatakan mundur dari jabatan Wakil Ketua KPK, terhitung Senin (16/9). Sebelum mundur, dia akan melaksanakan dua kegiatan lagi di luar Jakarta.

"Saudara-saudara yang terkasih, dalam nama Tuhan yang mengasihi kita semua. Izinkan saya bersama ini menyampaikan beberapa hal sehubungan dengan pengunduran diri saya sebagai pimpinan KPK, terhitung mulai Senin 16 September 2019 (masih ada dua kegiatan lagi di Yogyakarta Sabtu-Minggu 14/15 September 2019, Jelajah Dongeng Anti Korupsi)," kata Saut dalam suratnya, Jumat (13/9).'

Pengunduran diri itu disampaikan setelah Komisi III DPR RI mengumumkan lima formasi pimpinan KPK periode 2019-2023. Mereka yang terpilih melalui voting itu adalah Firli Bahuri, Alexander Marwata, Nawawi Pomolango  Lili Pintauli dan Nurul Ghufron. Komisi III DPR kemudian secara bulat menetapkan Firli Bahuri sebagai Ketua KPK periode 2019-2023. 

Nama Firli Bahuri sebelumnya menuai kontroversi karena mendapat penolakan sejumlah pihak, termasuk dari internal KPK. Komisi antirasuah itu menyatakan bahwa Irjen Firli yang mantan Deputi Penindakan KPK telah melakukan pelanggaran etik berat.

Sumber: Antara

Menurut Penasihat KPK Muhammad Tsani Annafari, Firli melakukan pelanggaran hukum berat berdasarkan kesimpulan musyawarah Dewan Pertimbangan Pegawai KPK.

"Musyawarah itu perlu kami sampaikan hasilnya adalah kami dengan suara bulat menyepakati dipenuhi cukup bukti ada pelanggaran berat," kata Tsani dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Rabu (11/9).

Baca Juga: Presiden Tolak Empat Poin Revisi UU KPK Usulan DPR

Menurut Tsani, pelanggaran etik berat yang dilakukan Firli itu berdasarkan pada tiga peristiwa.

Pertama, pertemuan Firli dengan mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat M Zainul Majdi pada 12 dan 13 Mei 2019. Padahal, saat itu KPK sedang menyelidiki dugaan korupsi kepemilikan saham PT Newmont yang melibatkan Pemerintah Provinsi NTB. Firli tercatat pernah menjadi Kapolda NTB pada 3 Februari 2017 hingga 8 April 2018, sebelum menjadi Deputi Penindakan KPK.

Kedua, Firli melanggar etik saat menjemput langsung seorang saksi yang hendak diperiksa di lobi KPK Pada 8 Agustus 2018.

Ketiga, Firli pernah bertemu petinggi partai politik di sebuah hotel di Jakarta pada 1 November 2018.

Sumber: Detik

Berikut isi Surat perpisahan Saut Situmorang.

Saudara saudara yang terkasih, dalam nama Tuhan yang mengasihi kita semua. Izinkan saya bersama ini menyampaikan beberapa hal sehubungan dengan pengunduran diri saya sebagai pimpinan KPK, terhitung mulai Senin 16 September 2019 (masih ada dua kegiatan lagi di Yogyakarta Sabtu-Minggu 14/15 September 2019, Jelajah Dongeng Anti Korupsi).

1. Terlebih dahulu saya mohon maaf sekaligus mengucapkan banyak terima kasih kepada semua Pimpinan KPK Jilid IV ( Bunda BP, Bro Alex M, Bro LM Syarif dan Pak Bro Ketua Agus R) struktural, staf, security, semua OB yang bersihkan ruangan saya setiap hari dan yang membantu menyiapkan makanan (terutama Mbak Wati dan Mas Dul). Driver saya Edy dan Syukron, pengawal (E, J dan Sdw, dll). Setelah hampir 4 tahun kurang beberapa bulan kita bersama-sama. Saya tahu beberapa di antara teman-teman pasti pernah sebel bingit sama saya karena style saya. Saya mohon maaf karena dalam banyak hal memang kita harus bisa membedakan antara cemen dengan penegakan 9 nilai KPK yang kita miliki (jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani dan adil) yang kita tanamkan dan ajarkan selama ini, sebagai bagian dari nilai di KPK yaitu RI-KPK (religius, integritas, kepemimpinan, profesional dan keadilan). Mari kita pegang itu sampai kapanpun.

2. Buat sekjen: Id card, asuransi JS, saya serahkan hari ini titip di Mbak Arien (mohon izin cuti pada hari Jumat ini 13 September 2019) saya pulang jam 08.00 WIB. Oh ya, bersama saya tidak ada barang-barang elektronik kantor.

3. Untuk tim Pinda agar alamat email dan akses aplikasi sprint dan lain-lain agar segera di-delete.

4. Buat Mas Yudi (Ketua WP tetaplah konsisten Bro, Antum masih komandan). Kunci sepeda yang saya sumbangkan untuk doa dan momentos/harapan kita agar siapa pelaku kejahatan atas Novel bisa ditemukan, saya titipkan di Mbak Arien (with thanks).

5. Untuk Korsepim (Mbak Arien) terima kasih sudah menata jadwal dan kegiatan pimpinan, demikian juga tim protokol yang selama ini bersama saya bila berjalan (Mas Ikbal, Bro Ardan, Bli Gede, Mbak Henny, sebelumnya juga ada Mbak Komang yang saat ini menjabat Ka Rutan). Terima kasih. Kapan-kapan kita pasti ketemu lagi. Trims juga untuk semua staf ACLC, Mbak Dinov, Lae Sinaga, Tim PJKAKI, Dikyanmas Mas Giri dll yang tidak bisa saya sebut satu per satu. Pasti teman-teman jadi bagian yang paling manis dalam sejarah hidup saya. Termasuk Tim Biro Hukum.

6. Untuk semua Koordinator Wilayah (1-9), tetaplah semangat menjaga Indonesia dari Timur sampai barat, seperti yang sering saya ucapkan berkali-kali di depan kepala daerah (gub, wali kota/bupati DPRD) kita hadir untuk menjaga orang-orang baik agar tetap baik, semangatlah meningkatkan intervensi kita pada: www.korsupgah.kpk.go.id dan lakukan terus inovasi, termasuk tim Korsupdak dengan komandan Mas Setyo (bantu terus koordinasi supervise kasus-kasus mangkrak di daerah karena rakyat lokal membutuhkan itu selesai).

7. Secara khusus pula saya sampaikan semua teman-teman yang setiap Jumat melakukan Oikumene di ruang konferensi press, tetaplah memegang 9 nilai dan RI-KPK kita sampai kapanpun, ingat-ingat pesan beberapa pendeta yang pernah kita undang ke KPK sebagai pegangan. Terima kasih buat semua, maaf kalau saya belum bisa ikut aktif melayani, hanya sebagai jemaat saja. Tuhan Yesus memberkati kita semua sampai kapanpun.

Di akhir pesannya, Saut juga menyampaikan salam dari keluarganya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita HEADLINE Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini



Berita Terkait