Foto: Antara

Hadapi Ancaman Resesi, Pemerintah Jaga Konsumsi

Ceknricek.com -- Alarm peringatan mengenai bahaya resesi semakin kencang usai Dana Moneter Internasional (IMF) mengeluarkan proyeksi ekonomi terbarunya. Ekonomi dunia diproyeksikan hanya mampu tumbuh 3 persen untuk tahun 2019, atau yang terendah sejak tahun 2008.

Menghadapi hal itu, pemerintah Indonesia memilih fokus menjaga konsumsi domestik untuk menghadapi ancaman perlambatan ekonomi maupun resesi. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan, selama ini konsumsi domestik menjadi sumber pertumbuhan paling besar bagi Indonesia. Dengan menjaga konsumsi domestik, pertumbuhan ekonomi pun bisa dipertahankan.

"Selama permintaan domestik masih cukup kuat, mungkin kita bisa menetralisir," kata Sri Mulyani usai menghadiri pelantikan anggota BPK RI di Gedung Mahkamah Agung di Jakarta, Kamis (17/10).

Selama ini, konsumsi domestik atau konsumsi rumah tangga memang menjadi kontributor utama yang membentuk produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Menilik data Badan Pusat Statistik, porsi konsumsi rumah tangga terhadap total PDB tiap tahunnya pada periode 2014-2018 saja rata-rata mencapai 56,17 persen.

Hadapi Ancaman Resesi, Pemerintah Jaga Konsumsi
Sumber: Antara

Namun dalam tiga tahun terakhir, sebenarnya ada penurunan porsi konsumsi rumah tangga dalam PDB. Terjadi penurunan porsi konsumsi sebesar 1,69 persen dalam periode 2016-2018. Konsumsi rumah tangga tadinya bersumbangsih sebesar 56,69 persen bagi PDB pada tahun 2016. Namun pada 2018, kontribusinya tinggal 55,73 persen.

Dalam dua kuartal pada tahun ini pun, konsumsi rumah tangga kembali penurunan porsi dalam PDB. Konsumsi rumah tangga tercatat bersumbangsih sebesar 55,04 persen terhadap total PDB Indonesia.

Baca Juga: IMF: Ekonomi Dunia 2019 Terendah Satu Dekade Terakhir

Sri Mulyani menegaskan, konsumsi rumah tangga akan dijaga untuk tidak mengalami penurunan porsi ke depannya. Caranya dengan upaya menjaga sisi permintaan dalam negeri untuk tidak tertekan situasi ekonomi global. Untuk menjaga konsumsi rumah tangga, pemerintah akan menjaga agar permintaan dari dalam negeri tidak tertekan mencermati situasi ekonomi global.

Perhatian lebih kepada konsumsi rumah tangga di sisi domestik dinilai menjadi jalan keluar untuk mengarasi risiko pertumbuhan ekonomi global akibat perang dagang. Pasalnya Sri Mulyani menyatakan, IMF sudah melihat risiko yang sudah terjadi dan menimpa negara berkembang dan negara maju.

Hadapi Ancaman Resesi, Pemerintah Jaga Konsumsi
Sumber: Antara

"Kita harus waspada dari sisi kondisi eksternal kita, ekspor kita masih hadapi tekanan, dan itu juga pasti akan memengaruhi pertumbuhan," tuturnya.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pun diproyeksi bisa tetap berada pada kisaran 5 persen. Sri Mulyani menyatakan, kondisi tersebut lebih baik dibandingkan negara-negara lain yang mengalami penurunan pertumbuhan lima persen. Sedangkan negara lain, menurut Sri Mulyani, mengalami prediksi penurunan ekonomi yang cukup tajam.

Contohnya India yang diperkirakan hanya tumbuh 6,1 persen dari sebelumnya 7,3 persen. Ada pula China yang pertumbuhan ekonominya diproyeksi tak akan mencapai 6 persen. Padahal tadinya, ekonomi Negeri Tirai Bambu tersebut ditaksir bisa mencapai 6,1 persen.

BACA JUGA: Cek POLITIK, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini. 


Editor: Farid R Iskandar


Berita Terkait