Ilustrasi: Tim Ilustrator Ceknricek

Kecelakaan Lion Air JT-610 (Berita Ilustrasi)

Ceknricek.com - Sebelum berangkat, pilot dan kru kabin berkumpul untuk briefing. Para kru akan melakukan pengecekan ulang berkas rencana dan informasi penerbangan. Tak lupa juga mereka berdoa agar penerbangan berjalan sempurna, dan seluruh penumpang beserta kru mendapat keselamatan.

Pesawat Lion Air PK-LQP nomor penerbangan JT-610 dengan rute Jakarta-Pangkal Pinang lepas landas pada 29 Oktober 2018 pukul 06:10 WIB. Pesawat itu mengangkut 179 penumpang dewasa, 2 bayi, 1 anak-anak, 2 pilot dan 5 pramugari.

 

Tak berapa lama, 13 menit setelah mengudara, pesawat hilang kontak. Kemudian Badan SAR Nasional (Basarnas) memastikan pesawat jatuh di Laut Jawa.

 

Sejak dipastikan jatuh, Basarnas melakukan pencarian korban dan puing-puing pesawat pada area yang sudah ditentukan. Evakuasi korban dan puing pesawat dibantu oleh berbagai pihak mulai TNI, Polri, hingga Badan Keamanan Laut RI. Tercatat pada 2 November, 858 personel dikerahkan untuk pencarian.

 

Proses identifikasi korban sudah mendapat titik cerah. Korban pertama yang berhasil diidentifikasi adalah Jannatun Cintya Dewi (24), pegawai Kementerian ESDM.

 

Setelah 4 hari pencarian, akhirnya salah satu bagian Black Box Lion Air JT-610 ditemukan oleh tim penyelam TNI Angkatan Laut di kedalaman 25-35 meter. Bagian itu adalah Flight Data Recorder (FDR) yang berisi data-data penerbangan pesawat tersebut. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) berhasil mengunduh data dalam FDR 3 hari kemudian. Bagian lainnya, Cockpit Voice Recorder (CVR) masih belum ditemukan hingga 7 November.

 

Hingga saat ini, seluruh personel yang diturunkan masih melakukan evakuasi korban dan puing-puing pesawat. Proses identifikasi pun masih berlangsung untuk mengungkap identitas jasad yang ditemukan. Tim juga masih melakukan pencarian CVR untuk dapat mengungkap penyebab jatuhnya Lion Air JT-610.

Konferensi pers proses evakuasi Lion Air JT-610 digelar. Saat itu, Basarnas, TNI, Kementerian Perhubungan, KNKT, DVI Polri, Jasa Raharja, Lion Air, dan keluarga korban bertemu. Berbagai ungkapan perasaan keluarga korban mencuat. Saat berbicara, Kepala Basarnas M. Syaugi tak kuasa menahan air mata, ia tetap terus berjuang untuk evakuasi. Pemilik Lion Air, Rusdi Kirana diminta berdiri di depan keluarga korban, ia berdiri terdiam menelangkupkan tangan sebagai bentuk permohonan maaf.

Mari kita berdoa agar evakuasi korban dan pesawat segera selesai, seluruh jasad teridentifikasi, keluarga korban diberi ketabahan, dan Lion Air semakin berkualitas.