Foto: Tweet247

Kemenkes: Indonesia Masuk Negara Pengidap "Thalassemia" Tinggi

Ceknricek.com -- Indonesia termasuk salah satu negara dalam “sabuk thalassemia” dunia. Maknanya, negara dengan frekuensi gen (angka pembawa sifat) thalassemia yang tinggi. Thalassemia merupakan salah satu penyakit kelainan darah genetik yang cukup banyak diderita oleh masyarakat di dunia.

Hal ini diungkapkan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kemenkes RI dr. Cut Putri Arianie, M.H.Kes. saat peringatan Hari Thalassemia Sedunia di Gedung Kemenkes, Jakarta, Senin (20/5).

Cut mengungkapkan, terdapat lebih dari 10.531 pasien thalassemia, dan diperkirakan 2.500 bayi baru lahir dengan thalassemia setiap tahunnya di Indonesia.

“Kasus thalassemia yang tercatat sampai 2016 mencapai lebih dari 9 ribu penyandang thalassemia. Diyakini masih ada kasus yang tidak tercatat,” ujar Cut.

Cut mengatakan, tahun 2016, prevalensi thalassemia mayor di Indonesia berdasarkan data UKK Hematologi Ikatan Dokter Anak Indonesia mencapai jumlah 9.121 orang. Berdasarkan data Yayasan Thalassemia Indonesia/Perhimpunan Orang Tua Penderita (YTI/POPTI) diketahui penyandang Thalassemia di Indonesia mengalami peningkatan dari 4.896 penyandang di tahun 2012 menjadi 9.028 penyandang pada tahun 2018.

Sumber: Tweet247

"Angka kejadian pembawa sifat thalassemia banyak terdapat di daerah-daerah seperti Mediterania, Timur Tengah, Asia Tenggara termasuk Indonesia dan Cina Selatan," kata Cut.

Cut menjelaskan, pembiayaan kesehatan untuk tata laksana thalassemia menempati posisi kelima di antara penyakit tidak menular setelah penyakit jantung, kanker, ginjal, dan stroke sebesar Rp225 miliar di tahun 2014, menjadi Rp452 miliar  tahun 2015, Rp496 miliar tahun 2016, Rp532 miliar tahun 2017, dan Rp397 miliar sampai dengan bulan September 2018.

Berdasarkan manifestasi klinisnya, thalassemia terbagi menjadi thalassemia mayor, thalassemia intermedia, dan thalassemia minor/karier/pembawa sifat. Pasien dengan thalassemia mayor membutuhkan transfusi rutin seumur hidupnya, biasanya setiap empat minggu sekali.

Dokter Spesialis Anak, RSCM dr. Teny Tjitra Sari, Sp.A. (K) mengatakan, seseorang perlu dicurigai thalassemia jika menunjukkan tanda dan gejala seperti pucat kronik, kuning, perubahan bentuk wajah, perut membesar, kulit semakin menghitam, tinggi badan tidak seperti teman sebaya, dan pertumbuhan seks sekunder yang terhambat.

“Biasanya didapatkan riwayat transfusi rutin pada anggota keluarga besar. Saat ini, pengobatan thalassemia di Indonesia masih bersifat suportif, belum sampai pada tingkat penyembuhan,” ujar Teny.

Menurut dia, pengobatan suportif yang diberikan pada pasien thalassemia bertujuan untuk mengatasi gejala-gejala yang muncul. Transfusi rutin seumur hidup, pemberian kelasi besi, dan dukungan psikososial merupakan tata laksana utama untuk pasien thalassemia.

Teny menjelaskan, penyakit thalassemia  belum bisa disembuhkan dan harus transfusi darah seumur hidup, tetapi dapat dicegah dengan mencegah pernikahan sesama pembawa sifat thalassemia.

Oleh karena itu, deteksi dini sangat penting untuk mengetahui status seseorang apakah dia pembawa sifat atau tidak. Pembawa sifat thalassemia sama sekali tidak bergejala dan dapat beraktivitas selayaknya orang sehat.



Berita Terkait