Foto : Tirto.id

Kemerdekaan Indonesia dari Belanda diperjuangkan dari Rumah Kartanegara No. 4

Ceknricek.com - Pledoi Sumitro (31 tahun) ke Pemerintah Amerika yang diterbitkan New York Times tanggal 21 Desember 1948 berhasil hentikan aliran dana Amerika ke Belanda yang digunakan untuk operasional tentara Belanda di Nusantara.

“There is no other alternative for the Republic of Indonesia than to lead its own life and carry on to the best of its abilities as a separate independent and sovereign state.”

“We respectfully but urgently request the United States Government to discontinue rendering American dollars to the Netherlands under the European Recovery Program or otherwise.”

Demikian kata-kata Sumitro Djojohadikusumo, ayah dari Prabowo Subianto, yang saat itu berperan sebagai Acting Head of the Indonesian Delegation to the United Nations, dalam memorandumnya ke Menteri Luar Negeri AS Robert A. Lovett yang diterbitkan di harian New York Times 21 Desember 1948.

Sumber : Dok Pribadi

Setelah Perang Dunia Kedua, Belanda sebenarnya dalam posisi bangkrut. Belanda bergantung pada uang bantuan pembangunan kembali Eropa dari Amerika (Marshall Plan) untuk membiayai operasi militernya di Indonesia.

Sumitro, pada saat itu masih berusia 31 tahun ditugaskan oleh Presiden Sukarno untuk menghentikan aliran uang Amerika yang digunakan oleh Belanda untuk menjajah Indonesia. Sumitro berjuang di Washington melobi Departemen Luar Negeri AS, dan di New York melobi PBB.

Akhirnya, karena perjuangan Sumitro, Menteri Luar Negeri AS saat itu Robert A Lovett meminta ke Pemerintah Belanda agar dana bantuan yang diberikan ke Belanda, tidak digunakan untuk operasi militer di Indonesia. Penghentian aliran dana ini memaksa Belanda berunding dengan Indonesia di Konferensi Meja Bundar dan akhirnya mengakui kemerdekaan Indonesia.

Catatan sejarah inilah yang membuat saya merasa “merinding” setiap kali melangkah masuk ke rumah Prof. Sumitro di Jalan Kartanegara No. 4, yang sekarang menjadi center of gravity kegiatan politik anaknya Prabowo Subianto.

Di rumah ini, pernah tinggal seseorang, yang karena kecerdasannya dalam bernegosiasi, dalam bergaul di tingkat internasional, ditunjuk oleh Presiden Sukarno untuk melaksanakan tugas yang begitu penting. Tugas yang menentukan kemerdekaan Republik Indonesia pasca proklamasi.



Berita Terkait