Sumber: Pedoman Bengkulu

Ketika Pangeran Antasari Melawan Penjajahan Belanda

Ceknricek.com -- Wajahnya menghiasi pecahan uang Rp2.000 yang dicetak oleh Bank Indonesia dan diedarkan sejak 2009. Hal ini menegaskan status Pangeran Antasari sebagai pahlawan nasional yang sudah ditetapkan pemerintah melalui SK No. 06/TK/1968 yang dikeluarkan pada 23 Maret 1968.

Pahlawan nasional yang meninggal tepat pada tanggal hari ini, 157 tahun yang lalu, pada 11 Oktober 1862, di Bayan Begok, juga diabadikan sebagai nama Komando Resort Militer 101 Antasari, serta Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Kiprah Pangeran Antasari

Pangeran Antasari atau Gusti Inu Kertapati adalah putra dari pasangan Gusti Hadijah binti Sultan Sulaiman dan Pangeran Masohut (Mas’ud) bin Pangeran Amir yang lahir pada tahun 1809 di Kayu Tangi, Banjar, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Antasari adalah keturunan penguasa-penguasa kesultanan Banjar abad 18 yang pengaruhnya bahkan mencapai hingga Kalimantan Timur bagian selatan yang berbatasan dengan Banjar. 

Kakeknya, Pangeran Amir adalah seseorang yang seharusnya dijadikan sultan, namun ia dijauhkan dari kekuasaan oleh Pangeran Nata, seseorang yang semula menjadi wali dari anak-anak sultan sebelumnya (Sultan Tahmidillah I).

Sumber: Istimewa

Baca Juga: Kiprah Gatot Subroto, Jenderal "Gila" dari Banyumas 

Pangeran Nata kemudian didapuk menjadi Sultan Tahmidillah II, setelah dua saudara Pangeran Amir, Pangeran Rachmat dan Pangeran Abdullah terbunuh. Dalam pembunuhan ini hanya Pangeran Amir yang selamat.

Dengan dibantu orang Bugis, Pangeran Amir kemudian berusaha melawan Pangeran Nata yang telah didapuk menjadi sultan. Namun Ia mengalami kekalahan karena lawan mereka dibantu oleh VOC Belanda hingga akhirnya dibuang ke Sri Lanka.

Tentu saja bantuan dari Belanda ini tidaklah gratis, kemenangan Sultan Tahmidillah II itu harus dibayar mahal karena mereka harus memberi konsensi-konsensi yang tercantum dalam kontrak pada tahun 1787, salah satunya terkait monopoli perdagangan lada di kerajaan itu.

Selain itu, untuk menghindari peperangan terus berlanjut, putra Pangeran Amir, Pangeran Masohut kemudian dinikahkan dengan Gusti hadijah, putri Sultan Soleiman yang berkuasa antara 1801-1825. Dari perkawinan ini lahirlah Gusti Inu Kertapati atau Pangeran Antasari.

Keluarga Pangeran Masohot ini  kemudian hidup jauh dari lingkungan istana di Banjar. Mereka hidup di sebuah lahan yang membuat mereka hidup relatif sederhana.

Pada masa pemerintahan Daendels, Banjarmasin sempat ditinggalkan oleh VOC akibat bangkrut. Namun mereka kembali ke sana pada 1817 dimana untuk mencari salah satu sumber daya alam di sana, yakni tambang batu bara.

Sementara itu perlahan namun pasti, cengkraman Belanda yang masih menancap kuat di Banjar juga mulai ikut mengatur konstelasi kepentingan di sana, yakni pengangkatan Sultan yang baru, Pangeran Tamijidillah yang tidak disukai rakyat.

Baca Juga: Sepak Terjang Pahlawan Revolusi Jenderal Ahmad Yani

Di kalangan istana sendiri yang anti Belanda, antara lain Pangeran Hidayat II  yang juga seharusnya secara sah diangkat sebagai Sultan kemudian ikut membantu rakyat dengan melakukan perlawanan terhadap Belanda dan Sultan Tamijidillah.

Pangeran Antasari yang merasa khawatir dengan keadaan yang terjadi di Banjar pun berusaha membela hak Pangeran Hidayat II. Ia bersekutu dengan kepala-kepala daerah Hulu Sungai, Martapura, Barito, Pleihari, Kahayan, kapuas dan yang lainnnya untuk merobohkan kekuasaan tersebut.

Penyerangan Berlangsung

Pada 18 April 1859, Pangeran Antasari memimpin perang pertamanya melawan Belanda dengan menyerang tambang batu bara di Pengaron . Perang inilah yang kemudian dikenal dengan nama Perang Banjar. 

Meski tentara Belanda di sana bisa dilumpuhkan, sebagaimana dikutip Tirto, menurut Gusti Mayur dalam buku Perang Banjar (1979), “sangat disayangkan di dalam penggempuran-penggempuran ini, walau beberapa benteng pertahanan (milik Belanda) dapat direbut, namun tidak banyak merebut senjata api.”

Sumber: Istimewa

Sementara itu pihak Belanda yang saat itu juga bercokol di sekitar istana Banjar berusaha keras untuk meredam gejolak perlawanan Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayat II. Salah satu siasat mereka adalah dengan menyandera keluarga Pangeran Hidayat.

Hal ini  tentu saja membuat Hidayatullah II terpaksa keluar dari arena gerilya agar keluarganya tak dibunuh oleh Belanda. Dengan akal bulus itu, Pangeran Hidayatullah II kemudian dibuang ke Cianjur pada 1861 hingga meninggal dunia pada 1904.

Setelah kepergian Pangeran Hidayat II, Pangeran Antasari kemudian didaulat menjadi pemimpin tertinggi oleh para gerilyawan dengan gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin pada 14 Maret 1862.

Baca Juga: Kiprah Jenderal Moestopo, Pahlawan Nyentrik dari Kediri

Di usia tuanya yang lebih dari setengah abad itu, Pangeran Antasari tetap melanjutkan perjuangan untuk memerdekakan Kasultanan Banjar dari campur tangan Belanda yang saat itu tengah mengincar sumber daya alam mereka serta hasil bumi yang lain.

Sayang, pada tahun 1862 terjadi wabah penyakit cacar di daerah Banjar. Padahal, Pangeran Antasari dan pasukannya sedang menyiapkan serangan besar-besaran terhadap Belanda. Wabah penyakit cacar ini menyerang dan melemahkan pasukan Banjar termasuk Pangeran Antasari, pemimpinnya.

Menjelang wafatnya, Pangeran Antasari juga sempat terkjena sakit paru-paru dan cacar yang dideritanya setelah terjadinya pertempuran di kaki bukit Bagantung. Akhirnya, Pangeran Antasari wafat pada 11 Oktober 1862 pada usia 53 tahun dan dimakamkan di daerah Hulu Sungai barito, dan kemudian dipindahkan ke Taman Makam Perang Banjar pada tahun 1958.

Sumber: Indopos

Setelah kematiannya, perjuanagan Pangeran Antasari lalu dilanjutkan oleh putranya yang bernama Muhammad Seman. Sepanjang perlawanan Pangeran Antasari ada salah satu pesannya yang dihafal oleh para pengikutnya dan menjadi semboyan masyarakat Kalimantan Selatan.

“Jangan Becakut papadaan, haram menyarah waja sampai kaputing.” Makna dari pesan Antasari itu, menurut sejarawan dari Banjarmasin yang kini mengajar di IAIN Palangkaraya, Muhammad Iqbal, adalah: “Jangan kalian bermusuh-musuhan, berkelahi (dengan) sesama saudara (seagama maupun sebangsa, konteknya Dayak dan Banjar), haram (atau pantang) menyerah hinga tetesan darah penghabisan.”

BACA JUGA: Cek SEJARAH, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini.



Berita Terkait