Foto: Istimewa

Kisah Luki, Budidayakan Jagung Pelangi 12 Warna

Ceknricek.com - Seorang petani di Cianjur bernama Luki Lukmanulhakim, sukses membudidayakan jagung warna-warni. Jagung warna-warni budidaya Luki ini sontak bikin heboh warga. Pasalnya, budidaya jagung Luki ini punya 12 varian warna yang mirip dengan jagung mainan.

Tanaman jagung Luki ini berderet di sebuah lahan perkebunan di Kampung Lebak Saat, Desa Cirumput, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Banyak warga terlihat takjub dengan warna jagung yang ditanamnya di lahan seluas 3 hektar itu. Jika biasanya jagung berwarna kuning, jagung yang ada di lahan tersebut memiliki warna yang beragam.

Foto: Istimewa

"Jarang sekali saya lihat jagung seperti ini. Yang saya tahu jagung itu warna kuning, ada juga yang putih dan hitam. Tapi di sini bisa berwarna warni seperti ini bahkan ada yang banyak warna di satu tongkol. Unik dan cukup menarik,” ujar Elsya salah satu warga Cimahi, seperti dikutip Kompas.com, Sabtu (13/7).

Elsya mengatakan dirinya sengaja datang untuk melihat jagung warna-warni tersebut setelah mendengar kabar adanya budidaya jagung pelangi di kebun hortikultura.

Ia juga mengaku sudah mencicipi jagung warna-warni karena penasaran dengan rasanya. Menurutnya, rasa jagung yang dikenal dengan istilah "glass gem corn rainbow" itu tidak jauh beda dengan jagung biasa.

“Meski tidak seenak jagung manis tentunya. Teksturnya sedikit lebih pulen. Kalau jagung manis kan kriuk gitu,” kata Elsya.

“Saya sengaja datang ke sini untuk melihat langsung. Saya memang senang dengan dunia pertanian apalagi yang agak anti-mainstream seperti ini,” kata Elsya.

Pengunjung lainnya, Farhan Fauzan mengaku awalnya mengira jagung yang dilihatnya itu mainan karena warnanya yang sangat kontras mulai warna ungu, merah, hitam, putih, dan warna lainnya.

“Ternyata asli dan bisa dimakan. Saya baru tahu ada jagung selain warna kuning. Bahkan ada yang berwarna seperti butiran mutiara dan bercorak seperti ini,” kata Farhan.

Koleksi Plasma Nutfah Jagung

Foto: Istimewa

Luki mengisahkan ide awal dirinya menanam jagung varian ini karena senang mengoleksi plasma nutfah dari berbagai tanaman, salah satunya plasma nutfah dari jagung.

Selain itu, jagung yang ditanam ternyata memiliki kandungan gizi yang tinggi dan sangat baik bagi kesehatan dibandingkan jagung biasa.

"Karena beberapa referensi menjelaskan kandungan warna yang ada pada jagung ini sangat baik untuk kesehatan, misal jagung yang berwarna hitam ternyata sangat baik dikonsumsi oleh penderita diabetes," ujar Luki.

Luki sendiri mengaku mendapatkan benih jagung tersebut dari internet atau membeli secara online. Saat itu ia mendapatkan empat kantong benih jagung berwana merah, ungu, hitam, dan putih.

“Dari empat warna itu saya coba tanam dengan cara silang campur. Hasilnya, setelah panen ternyata bisa menghasikan 12 warna baru, ada yang kuning corak hitam, ada yang di satu tongkol semua warna ada. Bahkan ada yang warna corak seperti batik,” katanya.

Meski dari segi ukuran lebih kecil dan rasanya sedikit berbeda dengan jagung manis atau jagung hibrida lainnya, namun jagung jenis ini punya nilai ekonomis yang sangat tinggi.

Perbandingannya, sebut dia, jika harga jual jagung biasa di tingkat petani sekitar 
Rp 2.000 per kilogram, maka jagung pelangi bisa mencapai Rp 9.000 per kilogram.

“Harganya cukup tinggi, apalagi kalau dijual dalam bentuk bibit atau benih. Harganya Rp 500 per butir,” katanya.

Namun ia mengakui masih belum banyak yang mengenal jagung pelangi ini bahkan di Kabupaten Cianjur terbilang baru.

"Mungkin di Cianjur sendiri baru kami yang menanamnya. Tapi kami justru akan mencoba menciptakan pasar sendiri,” katanya.

Mudah Dibudidayakan

Foto: Istimewa

Luki juga mengatakan menanam jagung pelangi ini terbilang lebih mudah dibandingkan jagung biasa karena punya masa tanam yang pendek.

“Kalau jagung biasa masa panennya sekitar 120 hari atau 3-4 bulan. Kalau ini dua bulan sudah bisa panen. Saya sendiri sudah empat kali panen,” kata Luki.

Dari hasil panennya itu, saat ini ia sudah punya stok benih siap jual untuk luasan 10 hektar dengan 12 varian warna yang dihasilkannya itu.

“Tapi dijualnya baru lewat online dan memanfaatkan jejaring. Sudah ada beberapa yang pesan, di sekitaran Jawa Barat. Termasuk pemesan dari Pontianak dan Halmahera. Bahkan dari Jakarta ada yang sudah minta disuplai secara rutin,” ungkapnya.



Berita Terkait