Foto: Dokumentasi Humas Sekretaris Kabinet

Langkah Pemerintah Mengatasi Jatuhnya Harga Kelapa Sawit dan Karet (Aktivitas Presiden)

Ceknricek.com - Harga sawit dan karet merosot selama beberapa tahun terakhir, pemerintah tidak tinggal diam dan melakukan berbagai cara untuk menaikkan harga kembali.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan bahwa pemerintah selama 4 tahun terakhir mengirimkan tim ke Uni Eropa dan berbagai negara untuk kestabilan harga sawit dan karet. Hal itu disampaikannya saat menghadiri Evaluasi Kebijakan Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Sosialisasi Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2019 di Palembang.

“Kita kirim tim ke Uni Eropa, kita kirim tim ke Tiongkok, ke India. Pembeli besar kita itu Uni Eropa, yang kedua India, yang ketiga China. Yang lainnya belinya yang kecil-kecil aja. Inilah problem yang ingin saya sampaikan apa adanya,” papar Jokowi, Minggu (25/11).

“Tapi sebetulnya ini urusan bisnis,urusan jualan mereka, juga jualan yang namanya minyak bunga matahari. Kita jualan minyak kelapa sawit, sehingga masuk ke sana sekarang mulai dihambat-hambat,” ucap Jokowi.

Pada Mei 2018, Jokowi juga pernah menyambut Perdana Menteri Cina Li Keqiang yang datang ke Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat. Dalam pertemuan itu Jokowi meminta agar Cina menambah pembelian kelapa sawit produksi Indonesia.

“Saya minta tambahan, saya to the point saja minta agar produksi di sini bisa diserap sehingga harganya bisa naik. Ada tambahan 500.000 ton, banyak sekali,” ungkap Jokowi.

Meskipun demikian, penambahan pesanan tersebut belum mampu berpengaruh besar dalam kenaikan harga di pasar. Jokowi menambahkan bahwa kebun kelapa sawit di seluruh Indonesia menjadi nomor satu terbesar di dunia.

Menurut Jokowi, kebun kelapa sawit yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Papua, dan Jawa memiliki luas total 13 juta hektar. Dengan luas tersebut, produksi kelapa sawit setiap tahun mencapai angka 42 juta ton.

“Bayangkan 42 juta ton. itu kalau dinaikkan truk berarti kurang lebih 10 juta truk angkut itu, ya untuk bayangan betapa gede sekali jumlah ini,” kata Jokowi.

Pasokan minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) yang begitu besar harus dimanfaatkan secara optimal. Untuk itu, sejak 3 bulan lalu Jokowi telah memerintahkan agar CPO digunakan untuk campuran solar Biodiesel (B) 20. Harga CPO akan lebih stabil karena dibeli dan digunakan dari permintaan dalam negeri. Ia menambahkan bahwa pemerintah sedang menunggu keberhasilan penerapan B20.

Perihal harga karet, Jokowi menyampaikan bahwa komoditas ini juga terpengaruh pasar internasional, oleh karenanya kebijakan pemerintah juga sulit mempengaruhi harga.

Untuk mendongkrak harga karet, Ia memerintahkan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono agar melakukan pengaspalan jalan dengan tambahan bahan karet.

“Sebentar lagi yang di Sumsel ini kita akan beli langsung dari petani dari koperasi untuk beli getah karetnya. Dibeli langsung oleh Menteri PUPR,” ucapnya.

Kini harga karet di pasaran berada di kisaran Rp6.000 per kilogram. Untuk harga yang akan dibeli pemerintah, sekarang masih diperhitungkan, tetapi Jokowi mengungkap harga akan di kisaran Rp7.500-Rp8.000 per kilogram.

Presiden menghadiri acara tersebut didampingi oleh Menteri DPDTT Eko Putro Sandjojo, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Turut hadir pula Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki, Kapolri Tito Karnavian, dan Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru.