Ilustrasi: AlfyArdi/Ceknricek.com

Marah Roesli, Dokter Hewan dan Sastrawan Penentang Adat 

Ceknricek.com -- Siapa tak kenal roman Siti Nurbaya? Roman tersohor tentang wanita yang dipaksa menikah oleh orangtuanya dengan orang yang tidak dicintai, atau kisah cinta yang yang berujung tragis?

Adalah Marah Roesli, sosok di balik karya fenomenal tersebut. Pengarang asal tanah minang ini wafat pada 17 Januari 1968, 52 tahun lalu pada pada usia 79 tahun di Ciomas, Bogor.

Marah Roesli bin Abu Bakar, atau biasa dikenal dengan nama Marah Rusli adalah seorang dokter hewan yang juga berprofesi sebagai sastrawan di angakatan Balai Pustaka. 

Dalam sejarah sastra Indonesia, lelaki kelahiran Padang, 7 Agustus 1889 ini tercatat sebagai Bapak Roman Modern Indonesia yang diberikan oleh H.B Jassin.

Ayahnya, Sultan Abu Bakar, adalah bangsawan dengan gelar Sultan Pangeran yang bekerja sebagai demang. Sementara Ibunya  keturunan Sentot Alibasyah, yang terlibat dalam Perang Padri.

Kesukaan Marah Rusli terhadap kesusastraan sudah tumbuh sejak masih kecil. Ia sangat senang mendengarkan cerita-cerita tukang kaba, atau pendongeng yang berkeliling kampung dengan menjual ceritanya, dan membaca buku-buku sastra.

Pada usia delapan tahun, Marah Roesli belajar di Sekolah Melayu di Padang. Setelah itu melanjutkan ke Sekolah Raja di Bukit Tinggi. Ia kemudian merantau ke Jawa untuk belajar di Sekolah Dokter Hewan di Bogor. 

Marah Roesli, Dokter Hewan dan Sastrawan Penentang Adat 
Sumber: Istimewa

Sebagai orang yang berpendidikan tinggi dengan banyak buku bacaan dari berbagai khasanah, Marah Roesli kemudian melihat bahwa adat yang melingkupinya tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Maka ia pun memberontak terhadap adat.

Tahun 1911, ketika melanjutkan pendidikan di Bogor, Marah Roesli bertemu dengan Nyai Raden Kencana yang akhirnya ia nikahi ditahun yang sama. Kabar pernikahan ini tentu saja membuat gempar keluarganya di tanah Minang.

Kedua orang tuanya  berang karena menganggap anaknya telah melanggar adat. Marah Roesli sebelumnya telah mereka jodohkan dengan gadis bangsawan pilihan keluarganya di kampung halaman.

Baca Juga: Mengenang Marah Rusli, Salah Satu Sosok Cemerlang Balai Pustaka

Kendati demikian, Marah Roesli bergeming dan memilih jodohnya sendiri. Ia akhirnya terusir dari kampung halaman dan dibuang secara adat. Hingga akhir hayatnya, penulis roman “Memang Jodoh” ini tak pernah menginjakkan kakinya lagi di Padang.

Dari pernikahannya dengan Nyai Raden Kencana, Marah Roesli dikaruniai tiga orang anak, yaitu Safhan Roesli, Ruslan Roesli dan Nani Roesli. Kelak, salah seorang cucunya, Harry Roesli, menjadi seniman terkenal yang kerap tampil ugal-ugalan dan mengundang kontroversi. 

Marah Roesli, Dokter Hewan dan Sastrawan Penentang Adat 
Sumber: Istimewa

Selama rentang kariernya, selain menulis roman Sitti Nurbaya Marah Roesli juga menulis beberapa roman lain, seperti; La Hami; Anak dan Kemenakan; dan Memang Jodoh. 

Tahun 1969 Roman Siti Nurbaya mendapat hadiah tahunan dalam bidang sastra dari Pemerintah Republik Indonesia hingga diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia. 

Tiga dasawarsa kemudian roman tersebut juga diangkat menjadi miniseri sinetron yang tayang di TVRI 7 September 1991 dan berakhir 28 September 1991.

Dalam sinetron inilah kemudian dikenal aktor legendaris Him Damsyik yang memerankan Datuk Maringgih. Di sana ia beradu akting dengan Novia kolopaking (Siti Nurbaya) dan Gusti randa sebagai Samsul Bahri.

Jejak Marah Roesli di Tanah Rantau

Setelah memutuskan pergi ke Jawa untuk belajar di Sekolah Dokter Hewan dan menikahi gadis Sunda, Marah Roesli kerap berpindah-pindah tempat kerja.

Ia mula-mula diangkat sebagai Wakil Dokter Hewan yang ditempatkan di Sumba Besar. Tak lama di sana, ia dipindahkan ke Bima. Sebagai penghargaan kepada penduduk setempat, ia menulis roman sejarah berjudul La Hami (1918).

Selanjutnya ia sempat dipindahkan kembali ke Bandung sebagai Kepala Peternakan Hewan Kecil, lalu pindah lagi ke Cirebon.

Dari tahun 1919 sampai masa pendudukan Jepang, Marah Roesli terus berpindah daerah penugasan. Sejumlah kota yang sempat ia tinggali adalah Blitar, Bogor, Batavia, Balige, dan Semarang.

Marah Roesli, Dokter Hewan dan Sastrawan Penentang Adat 
Sumber: Istimewa

Pada masa revolusi, Marah Roesli sempat masuk Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) dengan pangkat mayor untuk urusan pengangkutan angkatan darat, pertanian, perhewanan, dan perikanan, serta urusan pengawetan makanan untuk keperluan ALRI di Tegal.

Selain itu, ia juga ikut melatih pegawai-pegawai kehewanan dalam urusan-urusan revolusi. Pasca krmerdekaan ia sempat menjadi dosen Sekolah Tinggi Dokter Hewan di Klaten.

Pada tahun 1950 ia menjabat Kepala Perekonomian di Semarang. Selain itu, ia juga mendirikan Voetbalbond 'perkumpulan sepak bola' dan menjabat sebagai komisaris PSSI di Semarang.

Berbeda dengan sastrawan Taufiq Ismail dan Asrul Sani yang meninggalkan profesinya sebagai dokter hewan, Marah Roesli tetap menekuni profesinya sampai ia pensiun pada 1951 dan kembali ke Bogor karena kesehatannya mulai memburuk. Ia kemudian wafat pada 17 Januari 1968 pada usia 79 tahun.

Sejak memilih berbeda pendapat dengan orangtuanya, Marah Roesli sepenuhnya hidup di tanah rantau hingga ajal menjemput dan jasadnya disemayamkan di Ciomas, Bogor.

BACA JUGA: Cek SEJARAH, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini.


Editor: Farid R Iskandar


Berita Terkait