Foto: detiknews

Membaca Tarik Ulur Impor Gula

Ceknricek.com -- Pemerintah mencoba mengurangi impor gula kristal mentah setelah mendapat kritik pedas sejumlah kalangan. Pada tahun ini, impor raw sugar dibatasi hanya 2,8 juta ton. Jumlah tersebut jauh menurun drastis dibandingkan tahun lalu yang 3,6 juta ton.

=====

Ada gula ada semut. Peribahasa ini bisa diplesetkan: di mana ada impor gula kristal mentah, maka di situ ada mafia. Ya, mafia selalu membayang-bayangi kegiatan si manis ini. Begitu banyak pihak mencurigai. Kendati demikian, siapa saja mafia itu masih remang-remang.

Urusan mafia gula hanya muncul dalam bentuk asapnya saja. Sedangkan apinya tak pernah tampak. Nah, kini ada anomali pada impor si manis. Pemerintah menekan impor, di tengah prediksi industri makanan olahan yang tumbuh sebesar 8-9%. Ini belum lagi ada tambahan jumlah penduduk 4 juta per tahun yang sudah pasti turut mendongkrak konsumsi gula. Industri makanan olahan dikenal amat rakus si manis.

Pemerintah memprediksi total kebutuhan gula industri domestik 3,7 juta ton pada 2019. Lalu, Kementerian Perdagangan telah menerbitkan Persetujuan Impor (PI) gula kristal mentah (raw sugar) untuk diolah menjadi gula kristal rafinasi (GKR) sebanyak 1,55 juta ton selama semester I tahun ini.

Selanjutnya, kini, Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, tengah menyiapkan penerbitan izin impor dari sisa alokasi yang ada untuk semester II sekitar 1,25 juta ton. Jadi total impor tahun ini dipatok 2,8 juta ton saja. Izin impor tersebut diberikan kepada perusahaan gula rafinasi di bawah Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI).

Dari angka-angka itu ada selisih angka kebutuhan dengan pengadaan yang nyaris 1 juta ton. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Oke Nurwan, menjelaskan kekurangan untuk industri itu nanti dipasok dari sisa stok tahun lalu, di samping dari perusahaan gula dalam negeri. Sejauh ini, soal stok tahun lalu angkanya masih remang-remang. Sedangkan produksi gula dalam negeri, belum banyak bergerak dari angka 2,1 juta ton.

Impotrir Gula Terbesar. Sumber: Koran Jakarta

Sekadar mengingatkan, gula rafinasi digunakan sebagai bahan baku industri mamin dan farmasi. Tata niaga komoditas ini diatur tak boleh dijual bebas di pasar umum, karena hanya untuk kebutuhan industri, bukan rumah tangga. Namun dalam praktiknya, si manis seringkali "merembes" ke pasar dan dijual sebagai gula kristal putih (GKP) yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari.

Produksi Dalam Negeri

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, produksi gula nasional cenderung turun sejak Joko Widodo-Jusuf Kalla memerintah. Pada 2014, produksi gula masih 2,57 juta ton, lalu merosot menjadi 2,19 juta ton pada 2017. Padahal pada tahun tersebut, kebutuhan gula rumah tangga mencapai 2,8 juta ton. Penurunan produksi diikuti pula dengan penyusutan luas area tebu dari 472.676 hektare pada 2014 menjadi 420.146 juta hektare pada 2017.

Di sisi lain, sepanjang pemerintahan Jokowi-JK impor gula menjadi jor-joran. Pada tahun lalu, izin impor raw sugar mencapai 3,6 juta ton, yang kemudian dikurangi menjadi 3,15 juta ton karena penyerapan industri yang tidak optimal. Oke mengakui, alokasi impor sengaja dikurangi karena dari hasil pengawasan ditemukan banyak gula mentah merembes di pasar rumah tangga. Izin impor 2,8 juta ton diberikan persis sesuai rekomendasi dari Kementerian Perindustrian.

Pada tahun ini Kementerian Pertanian menargetkan produksi gula nasional sebanyak 2,5 juta ton. Angka tersebut naik 19% dibanding capaian produksi tahun lalu yang hanya 2,1 juta ton. Jika semua gula ini untuk kebutuhan rumah tangga maka akan ada kekurangan sekitar 500 ribu ton. Konsumsi gula untuk rumah tangga diperkirakan sekitar 2,8 juta-3 juta ton pada tahun ini.

Maknanya berharap produksi gula lokal untuk menutup kekurangan kebutuhan industri makanan olahan rasanya sulit untuk dipahami. Itu sebabnya, jika dengan impor raw sugar 2,8 juta ton tahun ternyata kondisi aman-aman saja, maka setidaknya ada dua kemungkinan yang terjadi.

Sumber: Inilah.com

Pertama, ada penurunan produksi makanan olahan sehingga penyerapan gula juga menurun. Kedua, stok gula raw sugar  hasil impor tahun lalu memang masih menumpuk.

Terbesar di Dunia

Sepanjang 2017/2018 Indonesia adalah importir terbesar raw sugar dunia. Itu pula yang memunculkan kritik ekonom Senior Universitas Indonesia Faisal Basri sebulan silam. Mengutip data Statista, Faisal mengatakan, Indonesia berada di urutan pertama negara pengimpor gula terbesar di dunia pada periode 2017-2018 dengan volume impor 4,45 juta ton. Indonesia mengungguli China yang berada di posisi kedua dengan 4,2 juta ton dan Amerika Serikat dengan 3,11 juta ton.

Sumber: Tempo

Faisal merasa heran adanya kenaikan impor yang signifikan pada periode tersebut. Padahal, saat itu tidak ada kenaikan konsumsi gula yang tinggi. Walau, di sisi lain ada penurunan produksi di dalam negeri. Karena impornya tinggi, stok gula nasional semakin banyak.

Ia curiga, lonjakan impor tersebut terkait praktik rente para mafia yang menguasai pasar. "Peningkatan impor lebih cepat dari peningkatan kebutuhan, kan ini aneh. Impor itu untuk menutup selisih antara produksi dan konsumsi. Karena konsumsinya lebih tinggi, lantas ditutup (impor)," ujar Faisal dilansir dari Antaranews, Januari lalu.

Pada 2018, Kementerian Perindustrian menargetkan kebutuhan industri terhadap gula rafinasi sebesar 2,8 juta ton, sementara Kementerian Perdagangan memberikan kuota impor sebanyak 3,6 juta ton. Kuota ini dibagi dalam dua semester yakni semester satu 1,73 juta ton dan semester dua 1,87 juta ton.

Hal tersebut menggambarkan bahwa industri tidak membutuhkan gula rafinasi sebanyak yang direncanakan pada awal tahun 2018. Akhirnya, Kementerian Perdagangan merevisi kuota dari 3,6 juta ton menjadi 3,15 juta ton.

Ombudsman RI juga menilai penggunaan gula impor di industri kian moreket pada era pemerintahan Presiden Jokowi. Hal itu, menurut Ombudsman, kemungkinan terjadi lantaran tiga faktor, yaitu industri makanan dan minuman lebih banyak menggunakan gula, bertambahnya jenis industri yang menggunakan gula (hotel, restoran, dan farmasi) dan ada gula yang merembes ke pasar.

Produksi Gula Nasional. Sumber: Liputan6

"Ombudsman sudah melakukan investigasi, kita menemukan beberapa fakta di lapangan bahwa gula impor itu banyak juga yang merembes ke pasar," kata Komisioner Ombudsman RI Ahmad Alamsyah Saragih di Jakarta, Senin (4/2) lalu.

Impor gula intensitasnya mengalami kenaikan dan turun pada 2016, 2017, dan 2018. Secara volume, impor gula mencapai 17,2 juta ton di mana periode sebelumnya hanya 12,7 juta ton. Ombudsman menyampaikan, volume impor gula pada pemerintahan Jokowi sedikit lebih tinggi di tahun pertama dan kedua dibanding pemerintahan sebelumnya. Namun, untuk tahun ketiga dan keempat laju impor pemerintahan Jokowi lebih rendah.

Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, mengakui permintaan impor gula industri memang terus meningkat setiap tahunnya. Menurut dia, peningkatan volume impor gula industri dipicu oleh permintaan dari industri yang juga tumbuh.

Sumber: Republika

Namun, ia memastikan setiap kebijakan impor selalu didasari oleh kebutuhan industri dalam negeri. Menurut dia, produksi dalam negeri selain kuantitasnya tidak memenuhi kebutuhan, kualitasnya pun tidak bisa diterima oleh industri.

Harap maklum, kadar gula dalam negeri tidak sesuai dengan kebutuhan industri mamin. Berdasarkan standar internasional, kadar gula Indonesia memiliki tingkat International Commission for Uniform Methods of Sugar Analysis (ICUMSA) yang tinggi. Sementara, yang dibutuhkan untuk industri makanan dan minuman harus dalam level rendah.

ICUMSA. Sumber: Abbreviations

Produsen minuman Coca Cola tidak bisa menggunakan gula yang diproduksi gula tebu dalam negeri karena ICUMSA-nya tinggi. Konon ICUMSA gula di Indonesia tertinggi di dunia.

Lepas dari itu, jika izin impor 2,8 juta ton ternyata aman-aman saja, maka kita patut curiga ada yang tidak beres dengan data pergulaan kita. Celah inilah yang mengundang mafia berselancar dalam impor gula rafinasi.



Berita Terkait