Foto: Dok. Pribadi

Obsesi Ali Shahab Menyutradarai Ulang Sinetron “Rumah Masa Depan"

Ceknricek.com - Karya sinetron terakhir yang ditangani oleh Ali Shahab adalah “Prahara Batavia” tahun 91. Sinetron monumental itu melahirkan bintang Ali Zainal. Serial panjang yang ditayangkan di RCTI itu menambah daftar panjang sinetron monumentalnya, seperti “ Rumah Masa Depan” dan “ Nyai Dasima”.

Setelah itu tokoh seniman Betawi ini mengundurkan diri dari dunia kesenian. Praktis sejak itu lebih dua puluh lima tahun Ali Shahab memilih jalan sunyi. Ia berubah drastis perhatiannya lebih banyak pada kehidupan religius. Aktivitasnya disibukkan menjadi Ketua Dewan Kemakmuran Mesjid
Ar Riyadh, Kwitang. Mesjid itu peninggalan kakeknya. Letaknya berseberang persis dengan rumah tinggalnya.

Di mesjid itu jua jenazah almarhum disalatkan sebelum diberangkatkan Rabu (26/12) ke tempat peristiratannya yang terakhir, TPU Kemuning, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Diantar keluarga, kerabat, sahabat seniman teater, film, dan sinetron. Kebanyakan murid-murid almarhum sendiri.

Rekan- ekannya di dunia perfilman bukan tidak ada upaya untuk membujuk dia untuk kembali berkarya. Mereka sangat membutuhkan karya-karya Ali Shahab yang bermakna dan punya pesan edukasi yang kuat untuk masyarakat. Untuk mengimbangi layar televisi kita kerasukan sinetron-sinetron ngawur. Apalagi sejak awal karirnya Ali Shahab banyak melahirkan banyak karya yang bernuansa Islami.

Tidak kurang produser Film Zairin Zain berkali-kali menemuinya. Membujuk Ali Shahab menyediakan waktu membuat film atau sinetron bernuansa Islami. Zairin menceritakan Selasa ( 25/12) usahanya. Upayanya sebenarnya sudah hampir berhasil. Ali Shahab sudah memperlihatkan beberapa naskahnya yang siap digarap. Termasuk membuat ulang “ Rumah Masa Depan” yang legendaris itu.

Tiga tahun lalu bersama Deddy Mizwar, Zairin menemui Ali Shahab di rumahnya. Sudah deal. Ali Shahab setuju membuat ulang (remake) “ Rumah Masa Depan”. “Terbenturnya ketika Ali Shahab mengutarakan dia sendiri yang akan terjun langsung menyutradarai. Yang mau membiayai produksi itu Deddy Mizwar juga berharap dia lah yang menyutradarai. Ya, cerita berhenti sampai di situ,” ungkap Zairin yang lama berguru pada Ali Shahab. Dia ternasuk anggota pertama September Productions, rumah produksi Ali Shahab yang dia dirikan bersama Rahayu Effendy.

Zairin mengakui tidak mudah memang meyakinkan Ali Shahab untuk menyerahkan karyanya disutradarai orang lain.
“ Orangnya perfeksionis. Begitulah orangnya yang saya kenal. Itulah kendalanya, “ tambah Zairin.

Sutradara kondang Ali Shahab wafat Selasa (25/12) pukul 15.15 WIB dalam perjalanan ke RS 128 Kramat, jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Ia menghembuskan nafas akibat sesak nafas yang dialaminya sehabis mandi petang. Menjelang menunaikan salat Ashar. Ia meninggal dalam usia 77 tahun. Meninggalkan seorang isteri, Hj Muzenah, dan seorang anak Sophia Safeera. Jenazah almarhum dikebumikan Rabu (26/12) siang di TPU Kemuning.



Berita Terkait