Foto: Setneg

Palapa Ring: Bukan Sekadar Omong Selangit

Ceknricek.com -- Presiden Joko Widodo akhirnya meresmikan proyek Palapa Ring. Peresmian di Istana Negara, Jakarta. Proyek ini molor dari rencana penyelesaian awal pada kuartal II/2019. Masalah ada di Papua.

Jokowi menandatangani prasasti, Senin (14/10), disaksikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Sumber: Istimewa

Palapa Ring terdiri dari tiga sistem yaitu Palapa Ring Barat, Palapa Ring Tengah, dan Palapa Ring Timur. Palapa Ring Barat sudah selesai sejak 2018, Palapa Ring Tengah selesai awal 2019, dan Palapa Ring Timur selesai akhir Agustus 2019.

Palapa Ring memiliki total panjang kabel sekitar 13.000 kilometer di darat dan laut. Ini berupa infrastruktur yang mengitari pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua, juga delapan jaringan penghubung dan satu cincin besar yang mengitari Indonesia di darat dan laut.

Sebaran infrastruktur proyek ini dalam tiga bagian berdasarkan letak geografis. Paket Barat, yang telah selesai pada Maret 2018, menjangkau wilayah Riau, Kepulauan Riau hingga Pulau Natuna dengan jaringan laut sepanjang 1.730 kilometer dan darat 545 kilometer.

Paket Tengah untuk Kalimantan, Sulawesi dan Maluku Utara, mencakup 1.706 kilometer jaringan laut dan 1.289 jaringan darat. Paket Timur untuk NTT, Maluku, Papua Barat dan pedalaman Papua dengan kabel serat optik sepanjang 4.426 kilometer di laut dan 2.542 kilometer di darat.

Palapa Ring Timur direncakan tuntas akhir kuartal II. Kondisi geografis Papua yang tidak memungkinkan membuat rencana molor.

Menurut Jokowi, tidak semua kabel yang digunakan di Papua adalah fiber optik, melainkan juga menggunakan antena besar. Menurutnya, membawa kabel sampai membangun menara di Papua tidaklah mudah. "Ini lah kesulitan di Indonesia. Saya kira sangat berbeda sekali kalau kita bandingkan dengan negara-negara di sekitar kita," katanya.

Mengapa Palapa Ring?

Palapa Ring merupakan proyek investasi Rp5,13 triliun. Proyek ini menandai pembangunan kabel serat optik di seluruh Indonesia yang menjangkau 440 kabupaten/kota. Pembangunan kabel optik kerap disebut "tol awan". Wakil Presiden terpilih Ma'ruf Amin menyebutnya sebagai "tol langit".

Konsep Palapa Ring telah dirancang sejak 2005 namun baru dapat direalisasikan sepuluh tahun kemudian, pada 2015 setelah pemerintah menggunakan konsep Kerjasama Pemerintah Badan Usaha.

Sumber: Kominfo

Pembangunan Palapa Ring dilakukan dengan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) atau Public Private Partnership (PPP).

Pembiayaan yang diterapkan dengan skema Availability Payment (AP), memungkinkan pemerintah memulai pembayaran penggantian modal yang ditanamkan investor setelah proyek beroperasi

Mengapa Palapa Ring? Nama Palapa diambil dari nama sumpah yang pernah diucapkan Gajah Mada. Sementara arti Ring atau cincin secara teknis proyek ini adalah jaringan yang berbentuk seperti cincin yang mengitari Indonesia dan terhubung satu sama lain.

Baca Juga: Presiden Jokowi Resmikan Pengoperasian Palapa Ring

Secara sederhana, Palapa Ring dapat dipahami sebagai suatu sistem yang dibangun supaya internet yang digunakan oleh masyarakat dapat lebih cepat. Rudiantara, mengatakan Palapa Ring seperti "jalan tol" untuk internet kecepatan tinggi.

Dengan jaringan tulang punggung serat optik ini, diharapkan bisa memudahkan dan menurunkan investasi penyelenggara internet untuk menggelar layanan internet di wilayah Indonesia lain.

Dengan biaya investasi yang lebih murah diharapkan juga biaya internet per megabit di luar Jawa bisa lebih murah. Sehingga harga internet di seluruh wilayah Indonesia bisa lebih merata.

Paling Lemot

Palapa Ring tentu amat ditunggu. Soalnya internet di Indonesia terbilang lemot. Rata-rata kecepatan internet di Indonesia menduduki peringkat 42 dari total 46 negara lain. Hasil ini diperoleh dari data Ookla. Artinya, kecepatan internet di Indonesia tergolong keempat paling buncit dari negara lainnya.

Rata-rata kecepatan internet kabel di Indonesia adalah 15,5 Mbps, sementara rata-rata kecepatan internet kabel dunia sebesar 54,3 Mbps. Kecepatan ini rata-rata mengalami kenaikan 33% tiap tahun.

Lantas untuk kecepatan koneksi internet mobile atau seluler, Indonesia kembali menduduki peringkat buncit. Dari 45 negara, Indonesia berada di peringkat 43.

Masih dari data Ookla, kecepatan internet seluler Indonesia tercatat sekitar 10,5 Mbps. Sementara rata-rata kecepatan internet selular dunia ada di angka 25,1 Mbps dan naik 18% tiap tahunnya.

Kecepatan internet Indonesia kalah jauh dari negara tetangga terdekat Malaysia. Negeri Jiran ini masuk jajaran 20 besar internet kabel tercepat dengan rata-rata 63,5 Mbps.

Berdasarkan data yang dikumpulkan Hootsuite dan We Are Social, kecepatan internet kabel Singapura menduduki peringkat pertama dunia dengan rata-rata 190,9 Mbps.

Kecepatan internet seluler Indonesia kalah jauh dari Vietnam yang ada di peringkat 29 dengan kecepatan rata-rata 21,6 Mbps sedangkan Thailand berada di peringkat 37 dengan kecepatan rata-rata 17,6 Mbps.

Hal ini menunjukkan Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan pengguna internet keempat tertinggi di dunia setelah India, China, dan Amerika Serikat, masih tetinggal dalam hal infrastrukturnya.

Pengguna Internet

Hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2018 mencatat, jumlah pengguna internet mencapai 171,2 juta orang atau 64,8% total populasi penduduk Indonesia. Jumlah ini meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan dengan tahun 2012 saat pengguna internet di Tanah Air masih 63 juta orang.

Sumber: Istimewa

Data Statista 2019 menunjukkan pengguna internet di Indonesia pada 2018 sebanyak 95,2 juta, tumbuh 13,3% dari 2017 yang sebanyak 84 juta pengguna. Pada tahun selanjutnya pengguna internet di Indonesia akan semakin meningkat dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 10,2% pada periode 2018-2023.

Pada 2019 jumlah pengguna internet di Indonesia diproyeksikan tumbuh 12,6% dibandingkan 2018, yaitu menjadi 107,2 juta pengguna. Pada 2023, jumlah pengguna internet di Indonesia diproyeksikan mencapai 150 juta pengguna.

Statista juga menyebutkan kegiatan online yang populer di Indonesia adalah media sosial dan perpesanan seluler. Adapun jejaring sosial yang paling banyak digunakan adalah Facebook, dengan jumlah pengguna mencapai 48% populasi. Indonesia juga merupakan salah satu pasar terkuat untuk aplikasi perpesanan LINE.

Kontributor Terbesar

Menurut laporan Google & Temasek/Bain, e-Conomy SEA 2019 yang dirilis Kamis (3/10), Indonesia akan menjadi kontributor terbesar dalam pertumbuhan ekonomi internet Asia Tenggara dengan nilai barang dagangan bruto US$133 miliar.

Angka tersebut termasuk nilai barang e-commerce, layanan kendaraan daring, media daring, dan situs bisnis perjalanan daring.

Di urutan selanjutnya, ekonomi internat Asia Tenggara juga akan ditopang oleh Thailand (US$50 miliar), Vietnam (US$43 miliar), Singapura (US$27 miliar), Malaysia (US$26 miliar), dan Filipina (US$25 miliar).

Baca Juga: Menkominfo: Jaringan Palapa Ring Sudah Beroperasi di Seluruh Indonesia

Dengan angka tersebut, Asia Tenggara diprediksi akan menyentuh angka US$300 miliar pada 2025 dalam hal ekonomi internet. Angka ini tiga kali lipat lebih tinggi dari perkiraan US$100 miliar tahun ini.

Sumber: CNN

Menurut Bloomberg, pertumbuhan ini menjadikan Asia Tenggara sebagai salah satu wilayah dengan pertumbuhan tercepat di dunia dalam hal perdagangan daring. Hal ini disebabkan oleh tingginya tingkat populasi anak muda yang terbiasa menggunakan ponsel cerdas.

Dari semua kategori yang diperhitungkan dalam laporan ini, e-commerce tetap menjadi titik paling terang dalam ekonomi internet Asia Tenggara. Kemudian, diikuti oleh festival daring untuk penawaran menarik, hiburan dalam aplikasi, dan pengiriman daring.

Pasar diproyeksikan akan tumbuh empat kali lipat, dari US$38,2 miliar pada 2019 menjadi US$153 miliar pada 2025. Sebagian besar pertumbuhan itu disebut akan datang dari Indonesia, di mana nilai pasar e-commerce Tanah Air siap meningkat dari US$21 miliar menjadi US$82 miliar pada 2025.

Begitu pula dengan layanan kendaraan daring yang diproyeksikan mencapai US$40 miliar pada 2025 dari US$12,7 miliar pada 2019, yang dipimpin oleh Gojek dan Grab. Keduanya melihat pengiriman makanan sebagai pendorong utama pertumbuhan dan profitabilitas.

Hadirnya tol langit ini akan sangat memungkinkan terealisasinya prediksi yang melangit itu. Indonesia akan menjadi yang terbesar dalam urusan bisnis di internet.

BACA JUGA: Cek FILM & MUSIK, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini



Berita Terkait