Ceknricek.com - Perang dagang antara Amerika dan Tiongkok bisa berdampak buruk bagi negara berkembang yang tujuan ekspornya cukup besar ke Tiongkok. Melemahnya permintaan Tiongkok karena ditekan Amerika untuk mengurangi surplus perdagangannya bisa membuat ekspor komoditas seperti minyak kelapa sawit (CPO) Indonesia terpojok. Bukan kebetulan, saat perang dagang Amerika dan Tiongkok berkobar, yang genderangnya ditabuh 6 Juli, ekspor CPO kita ke India justru sedang tertekan gara-gara dikenai bea masuk sampai 30% (CPO) dan 40% untuk minyak sawit olahan.

Beruntung dalam perundingan dengan Tiongkok belum lama berselang, Beijing bersedia mengurangi surplus perdagangannya dengan menambah impor CPO 500 ribu ton. Dari Indonesia, tahun lalu Tiongkok mengimpor CPO 3,7 juta ton. Sementara India 7,6 juta ton, dan Uni Eropa 5 juta ton. Dengan Indonesia, tahun lalu surplus perdagangan Tiongkok US$ 12,69 milyar (ekspor ke RI US$ 35,77 milyar versus impor US$ 23,08 milyar). Tahun 2016 sebelumnya surplus Tiongkok US$ 14 milyar. Januari-Maret surplus Tiongkok US$ 3,44 milyar. Ada kecenderungan surplus mengecil di tengah naiknya volume perdagangan kedua negara.

Usaha “menekan” Tiongkok ini penting agar neraca perdagangan Indonesia kembali surplus (setelah April dan Mei mengalami defisit) sehingga bisa menambah suplai dolar ke pasar uang. Kenaikan suku bunga FFR (Fed Fund Rate) seperti diketahui telah menyebabkan capital ouflow dari pasar modal modal (saham) dan pasar uang (surat berharga negara) terjadi sangat deras. Jika tidak diimbangi dengan pasok dolar terutama dari surplus perdagangan, dan investasi langsung asing (FDI), Bank Indonesia bisa merogoh devisa makin dalam.

Maklum, Juni barusan BI terpaksa menambah pasokan dolar US$ 3,1 milyar lagi ke pasar uang sehingga posisi cadangan devisa turun jadi US$ 122,91 milyar. Defisit dolar di pasar uang menunjukkan, sektor perdagangan belum banyak memasok hasil ekspornya. Para investor juga belum banyak masuk kembali ke pasar modal, sekalipun BI sudah tiga kali menaikkan bunga acuan sehingga kini mencapai 5,25%.

Ekonomi Tiongkok sendiri tampaknya sedang mengalami pergeseran secara fundamental. Indikasinya bisa dilihat: transaksi berjalan Tiongkok defisit US$ 28,2 milyar pada kuartal pertama 2018 setelah tujuh tahun terakhir terus menerus surplus.Pada kuartal pertama itu, surplus neraca perdagangan Cina anjlok 35% menjadi US$ 53,4 milyar; sementara transaksi jasa-jasa (termasuk pengeluaran para wisatawannya ke luar negeri) defisit US$ 76,2 milyar. Akibatnya, transaksi berjalannya (neraca perdagangan plus transaksi jasa-jasa) defisit US$ 28,2 miyar.

Sekalipun demikian, surplus perdagangannya dengan Amerika yang mencapai US$ 370 milyar tahun lalu menyebabkan Presiden Donald Trump mengenakan tambahan tarip bea masuk atas sejumlah barang ekspor Tiongkok . Dengan cara itu, Washington berharap surplus perdagangan Tiongkok dengan Amerika akan berkurang menjadi US$ 200 milyar pada 2020 kelak. Tahun 2010, Washington sudah meminta Beijing – juga negara-negara yang memiliki surplus perdagangan dengan Amerika – agar mengurangi surplusnya sehingga tidak melebihi 4% dari GDP mereka. Tapi Beijing dan mitra dagang Amerika lainnya tidak menggubrisnya

Presiden Trump sesudah menembak produk Tiongkok juga mulai melirik negara berkembang yang mendapat surplus dari perdagangannya dengan Amerika karena mendapat perlakuan khusus di bawah payung GSP (Generalized System of Preferences) dalam bentuk pengurangan atau peniadaan bea masuk atas barang ekspor mereka ke Amerika. Ada 124 mata dagangan Indonesia yang kini tengah dibidik, artinya berpotensi dikeluarkan dari payung GSP sehingga perlu dikenai tarip bea masuk.

Padahal suplus perdagangan Indonesia dengan Amerika tahun lalu hanya US$ 9,67 milyar (ekspor US$ 17,79 milyar versus impor US$ 8,12 milyar). Januari-Maret, surplus baru US$ 2,28 milyar. Peanuts dibandingkan dengan surplus yang diperoleh Tiongkok. Tapi Trump yang sedang mengobarkan perang dagangnya, tidak peduli dengan kritik bahkan dengan mitra dekatnya Uni Eropa. Jadi lengkap sudah tekanan yang dihadapi Indonesia: dari sektor perdagangan internasional, dan sektor moneter.

Tekanan seperti ini sebenarnya pernah dialami BI pada 2013 saat Amerika sudah berhalo-halo untuk mengurangi usahanya memompa dolar ke seluruh dunia dengan kebijakan mengandangkan kembali dolar (tapering off). Pada akhir Agustus 2013 itu cadangan devisa merosot jadi US$ 93 milyar (hanya cukup untuk membiayai 5 bulan impor dan membayar utang 5 bulan ke depan) dari posisi US$ 120 milyar. Padahal saat itu BI sudah berusaha sekuat tenaga mengerem keluarnya investor asing dari pasar modal dan pasar uang dengan menaikkan suku bunga acuan (7 days repo rate) tiga kali hingga mencapai 7%. Kita lolos.

Sudah sejak lama pula, Amerika menuduh Tiongkok memanipulasi nilai tukar Yuan untuk mendorong ekspornya ke Amerika. Washington meminta Beijing menilai kembali Yuan yang sesungguhnya menguat melawan dolar bukan merosot secara merayap. Tiongkok tampaknya sedang mengidap penyakit Belanda (Dutch disease). Jika dibiarkan, penyakit yang muncul karena membengkaknya surplus transaksi berjalan (currenct account) pada Neraca Pembayaran (BoP), bisa menyebabkan Yuan terlalu cepat terapresiasi yang akan mengakibatkan ekonominya cepat panas (over heating).

Sesuatu yang menakutkan karena akan menyebabkan barang ekspor Tiongkok menjadi tidak kompetitif. Gejala penyakit itu sesungguhnya sudah menggelisahkan otoritas moneter Tiongkok saat pada kuartal terakhir 2014 terjadi pelarian modal US$ 188 milyar sehingga menyebabkan cadangan devisanya merosot US$ 150 milyar. Akibatnya defisit transaksi modal Tiongkok melebar hingga US$ 91,2 milyar – terbesar sejak 1998. (Gordon G Chang,  2015).

Beijing sesungguhnya sudah berusaha menekan kecepatan apreasiasi Yuan dengan mengintervensi pasar, namun usaha mitigasinya tidak banyak hasilnya meskipun Bank Sentral Tiongkok sudah melego dolar sebesar US$ 40 milyar pada kuartal kedua 2015. Devaluasi merayap (creeping devaluation) yang dilakukan Bank Sentral Tiongkok itu ternyata tetap menyebabkan surplus transaksi berjalan membengkak, pelarian modal makin deras, dan turis Cina makin royal membelanjakan dolar di banyak tempat wisata dunia. Pengumuman dua kali devaluasi pada 11 Agustus (1,9%), dan 12 Agustus (1,6%) bisa dianggap merupakan usaha menjinakkan Yuan agar ekonomi Cina tidak cepat panas.

Indonesia pernah dihinggapi Penyakit Belanda pada tahun 1974 semacam itu saat mendapat rejeki nomplok dari kenaikan harga minyak (oil bonanza) empat kali lipat pada akhir 1973. Ekspor Indonesia yang baru US$ 0,9 milyar pada 1972, melonjak jadi US$ 5,2 milyar (1974), kemudian terbang ke angka US$ 7,4 milyar (1978). Cadangan devisa akibatnya membengkak sehingga bisa untuk membiayai impor 19,1 minggu (1972) menjadi 20,4 minggu (1978). Pertumbuhan ekonomi pada periode 1973-78 rata-rata mencapai 7,9% setahunnya. Tapi inflasi tahunan 1973-78 meroket hingga rata-rata 22% setahunnya berbanding hanya 8% pada 1970-72 (Wing Thye Woo dan Anwar Nasution, 1989)

Untuk pertama kalinya transaksi berjalan Indonesia mengalami surplus. Tapi akibatnya ekonomi cepat panas, rupiah mengalami apresiasi sehingga barang ekspor Indonesia menjadi tidak kompetitif. Sebaliknya barang dan jasa impor jadi terasa murah. Banyak orang Indonesia berfoya-foya membelanjakan dolar ke luar negeri karena dengan sedikit dolar mereka bisa membeli banyak barang mewah luar negeri. Inilah saat banyak orang Indonesia yang berbelanja ke Singapura dan pelesir ke Malaysia menjadi raja. Di hampir setiap lift hotel yang mengantar para turis Indonesia hampir selalu tercium bau asap rokok kretek.

Sebutan Penyakit Belanda itu diperkenalkan majalah The Economist pada 1977 untuk menggambarkan terpukulnya perekonomian Belanda setelah negara itu berhasil menemukan cadangan gas besar pada 1959. Ekspor migas Belanda meroket. Surplus transaksi berjalannya membengkak. Tapi pada periode 1970-77, angka penganggurannya meroket dari hanya 1,1% jadi 5,1%, karena industri migas yang padat modal sangat rendah membutuhkan tenaga kerja. Gulden menguat; untuk menjinakkannya suku bunga gulden ditetapkan sangat rendah (Economist.Com.2014)

Lolos dari Penyakit Belanda melalui serangkaian devaluasi, Indonesia masuk perangkap defisit transaksi berjalan akut sejak itu, karena struktur industri manufaktur sebagian besar masih memerlukan bahan baku dan penolong impor. Langkah serupa sebenarnya sudah dilakukan Bank Sentral Tiongkok, yakni menekan suku bunga acuannya serendah mungkin. Tapi tetap saja transaksi berjalan Cina pada semester pertama 2015 memperoleh surplus US$ 152,2 milyar dolar (China.org.cn, 7 Agustus 2015).

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok harus diakui juga berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sebagai salah satu pasar penting minyak kelapa sawit, selain India, kita berharap Tiongkok tidak terlalu terpukul dengan perang yang dikobarkan Trump. Kuatnya ekonomi kawasan ASEAN juga penting agar rupiah menguat karena mendapat pasok dolar cukup.


*) Wartawan senior pernah bekerja di koran Pedoman, Majalah Tempo, dan Pedoman.