Saya Selalu Percaya KPK, Tapi Bagaimana Kaitan Penyelundup Lobster 50,4 T? | Cek&Ricek kula-coffee
Foto: Istimewa

Saya Selalu Percaya KPK, Tapi Bagaimana Kaitan Penyelundup Lobster 50,4 T?

Ceknricek.com -- Seperti dugaan Jurnalis Senior di Kanal KIC, saya cukup yakin, salah satu yang mendisain upaya pembunuhan karakter terhadap saya adalah Penyelundup Benih Lobster (Benur) sejak 2015, yang amat mungkin masih beroperasi sampai saat ini.

Nilainya adalah 10,08 Trilyun per tahun, atau sampai 2019 sudah 50,4 Trilyun! Dan saya memang terdepan meneriakkan penyelundupan mereka. Bukti rekaman juga komplit.

Saya yakin KPK tidak terlibat disain beginian. Saya tetap percaya institusi KPK.

Yang dilakukan kelompok penyelundup benur ini adalah membisik-bisikan bahwa saya terlibat dalam Kasus Bansos, juga dalam kasus Benur! Kita tahu Kasus Bansos pasti membuat publik amat benci dan paling efektif untuk membunuh karakter orang!

Nah posisi KPK barangkali: ingin memastikan dengan memeriksa saya sebagai saksi. Itu tidak ada salahnya.

Sebagai warga negara, saya dihubungi pakai WA oleh KPK jam 19:41 malam untuk datang besok harinya jam 14:00 siang. Walau panggilannya seperti itupun, saya tetap datang. Bahkan surat aslinya secara fisik belum sampai saat saya berangkat dari rumah menuju KPK. Ini bukti saya percaya KPK.

Sudah puluhan ribu orang selama ini diperiksa KPK sebagai Saksi kan? Berita-berita wartawan relatif biasa-biasa saja. Tidak langsung menyatakan orang itu terlibat dalam suatu kasus!

Namun kesempatan pemanggilan oleh KPK itu yang digunakan, oleh pihak penyelundup benur untuk membunuh karakter saya.

Bahkan didukung oleh segelintir wartawan yang memalukan!

Masa panggilan KPK pakai WA jam 19:41 malam, tapi besok paginya jam 10:00 pagi wartawan sudah heboh menuliskan bahwa KPK menjadwalkan memeriksa saya di Kasus Bansos jam 14:00 siang. Bagaimana itu logikanya???

Lebih parah lagi: KPK kan memanggil saya pakai WA jam 19:41 malam, tapi bocoran BAP (Berita Acara Pemeriksaan) abal-abal yang menyebut saya dapat kuota 162.250 paket, sudah beredar jam 10:00 pagi besok harinya. Persis 4 jam sebelum saya akan datang ke KPK. Sistematis betul kan kecepatan pembunuhan karakter oleh tim khusus ini. Padahal surat panggilan yang layak itu adalah terkirim 3 x 24 jam sebelumnya.

Saya tetap yakin sebagai institusi, KPK berintegritas baik; kalau ada satu-dua oknum tidak sengaja terbawa dalam disain ini, atau karena ada tamu bertandang, wallahu a’lam.

Jadi sekarang kita tunggu Allah SWT yang Maha Mengetahui menunjukkan:

Sidang Dewan Pers berlangsung Kamis ini, 8 April.
Kita simak sama-sama apa hasilnya.

Sidang pengadilan segera berjalan dan kita saksikan,
kalau-kalau penyelundup benih lobster 50,4 T itu mau melancarkan fitnah-fitnah baru dengan mempengaruhi saksi dan sebagainya di pengadilan. Atau memakai segelintir oknum wartawan lagi untuk memelintir apapun yang dinyatakan di persidangan.

Kalau soal buka-bukaan, bukankah saya sudah meminta semua data dibuka oleh KPK yang selama ini selalu transparan?

Tujuan penyelundup tetap: mematikan karakter saya, agar saya tidak lagi kredibel meneriakkan penyelundupan benih lobster sejak 2015, dengan nilai total sekitar 50,4 T sampai saat ini!

BUKTI-nya amat lugas. Sejak 2015 Peraturan Menteri Kelautan melarang ekspor benih lobster.
Kalau tidak ada penyelundupan, maka sejak tahun 2016 industri lobster Vietnam HARUS MATI! Karena 80 % benurnya dari Indonesia. Faktanya industri lobster Vietnam malah berkembang pesat.

Kenapa wartawan tidak aware (tidak menyadari, hilang rasa ingin tahu) ???

Saya yakin amat banyak wartawan yang baik. Tapi kita tahulah, uang sebanyak itu bisa membuat segelintir wartawan jadi tidak aware; apalagi bisa membuat buzzer jadi sayang sama tokoh idola, dan siap menyerang pihak yang mengetahui semua fakta itu.

Kenapa aparat penegak hukum dan bahkan KPK belum tertarik memeriksa dan menyelidik masalah ini? Mungkin tumpukan perkara masih berjejal.

Padahal caranya amat gampang. Panggil saja bagian karantina Kementerian Kelautan dan karantina di berbagai bandara serta pelabuhan!

10,08 Triliun per tahun lho! Bayangkan siapa saja yang harus terlibat agar penyelundupan ini.



Berita Terkait