Foto : Prasetyo Agung Ginanjar/ceknricek.com

Sexy Killers; Menguak Hulu Hilir Sisi Kelam Industri Batu Bara

Ceknricek.com -- "Semua berawal dari ledakan dari dalam tanah. Bum!!"

Layar film Sexy Killers memperlihatkan ledakan di lokasi tambang. Tanah membumbung tinggi lalu meninggalkan debu beterbangan. Kendaraan pengeruk dan truk-truk besar hilir mudik mengangkut hasil ledakan: batu bara.

Sumber : PrasetyoAgung/Ceknricek.com

Dari Kalimantan, puluhan ribu ton batu bara mengalir terutama ke Jawa dan Bali, dua pulau paling rakus mengonsumsi energi. Mereka melewati jalur sungai, laut, sebelum tiba di lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan sumber energi batu bara.

Sepanjang itulah, sumber energi bumi bernama batu bara itu membawa bencana. Dari hulu hingga hilir. Sexy Killers, film dokumenter terbaru rumah produksi WatchDoc dengan apik menarasikan bagaimana sumber energi itu menjadi "pembunuh" bagi warga, terutama kelompok miskin dan perdesaan.

Jakarta, Rabu (10/4) malam, pemutaran film dokumenter Sexy Killers  dan diskusi bersama warga terdampak di lobby Agro Plaza menandai kick off roadshow yang akan diselenggarakan di sejumlah lokasi tapak, termasuk Batang, Karimunjawa, dan Celukan Bawang, Bali.

Sebelumnya, sejak pemutaran perdana, 5 April lalu, di kantor YLBHI, Jakarta, film Sexy Killers sudah diputar di lebih dari 100 titik lokasi nonton bareng dan diskusi di seluruh Indonesia. Mereka terutama dari kalangan mahasiswa, komunitas, lembaga swadaya masyarakat, dan karang taruna.

Sumber : PrasetyoAgung/Ceknricek.com

Dengan teknik jurnalisme investigasi, film berdurasi 88 menit yang dibuat dengan berbasis riset, verifikasi dokumen, observasi lapangan, dan tim kreatif yang mengolah semua materi tersebut menjadi sebuah film dokumenter dan mengungkap bagaimana industri batu bara dari hulu ke hilir menghasilkan jejak kerusakan ekologis  yang sulit untuk dipulihkan serta dampak sosial yang parah.

Bagian Akhir Ekspedisi Indonesia Biru

Film yang menjadi film panjang terakhir dari rangkaian seri Ekspedisi Indonesia Biru ini merupakan hasil perjalanan dua jurnalis videografer, Dandhy Dwi Laksono dan Ucok Suparta, keliling Indonesia pada tahun 2015. Selama setahun, mereka menempuh perjalanan bersepeda motor dari Jakarta ke Bali, Sumba, Papua, Kalimantan, Sulawesi, lalu kembali ke Jawa.

Dari perjalanan itu mereka menghasilkan 12 film dokumenter tentang isu sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dua di antaranya adalah Kala Benoa, tentang gerakan Bali tolak reklamasi Teluk Benoa; dan (A)simetris, tentang industri kelapa sawit.

Dua jurnalis itu menghadirkan baik kandidat presiden dan pasangan calon mereka memiliki ikatan dengan para pendukung industri batu bara. Film ini juga menggambarkan bagaimana cengkraman kuat industri batu bara pada pemerintah saat ini dan berupaya mempertanyakan peraturan pertambangan dan sektor energi yang mendukung batu bara.

Sejak ditambang hingga dibakar di PLTU, batu bara telah mencemari air dan tanah di sekitar pertambangan, menggusur penduduk  setempat, menghilangkan nyawa akibat lubang maut sisa tambang yang tidak kembali direklamasi, meminggirkan para petani dan nelayan, serta menjadi salah satu pendorong utama emisi global terhadap perubahan iklim.

Kebutuhan Batu Bara Untuk PLTU Sumber : HMTITB

Ditemui di sela-sela pemutaran film, Ahmad Ashov, Juru Bicara Gerakan Bersihkan Indonesia mengatakan. “Dalam film ini bisa kita saksikan bersama betapa batu bara merupakan bisnis yang sangat seksi, yang dimiliki oleh dan sarat akan kepentingan elite politik. Maka tidaklah heran jika transisi ke energi bersih terbarukan di negara ini sulit melakukan lompatan besar.”

Sementara itu di dalam diskusi pasca pemutaran film, Ilyas, warga terdampak dari Karimunjawa mengungkapkan, “tongkang-tongkang kapal yang berlalu lalang setiap hari membawa batu bara melewati Karimunjawa mengancam ekosistem biota laut, jangkar yang mereka lempar ketika mereka berhenti merusak hampir sebagian besar terumbu karang, dan pihak berwenang pun seperti membiarkan.”

Tentu saja, suara dari masyarakat terdampak ini tidak bisa diabaikan, hanya untuk menghasilkan listrik yang sebagian besar dinikmati warga perkotaan. Indonesia sangat kaya akan sumber energi alternatif yang bersih, adil, dan berkelanjutan, seperti energi surya dan angin. 

Inilah saatnya negara melepas cengkraman kotor industri batu bara dan melakukan transisisi energi bersih dan terbarukan, demi mewujudkan Indonesia yang berdaulat energi.



Berita Terkait