Sumber: Setkab

Staf Khusus Senilai Rp7,956 Miliar

Ceknricek.com -- “Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”.

Begitu Presiden Sukarno pernah menyatakan. Bung Karno yakin dan percaya jika peran pemuda sangat besar hingga dapat mengguncangkan dunia.

Pada saat ini, pemuda dihuni kaum milenial. Kelompok demografi setelah Generasi X. Hanya saja, tidak ada batas waktu yang pasti untuk awal dan akhir dari kelompok ini. Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, menyebut dirinya milenial. Ia berusia 35 tahun. Kaum milenial tertua. "Saya berdiri di sini mewakili generasi milenial ke bawah. Kehadiran saya di sini membuka berbagai macam kesempatan untuk generasi berikutnya,” ujarnya pada upacara hari sumpah pemuda yang berlangsung di kantor Kemendikbud, 28 Oktober lalu. “Kawan-kawan pemuda, gerbang kita sudah terbuka," serunya.

Pada Kamis (21/11) kemarin, Presiden Joko Widodo mengangkat 12 Staf Khusus Presiden, tujuh di antaranya adalah kaum milenial. Itu berarti ada delapan kaum milenial, termasuk Nadiem, yang menjadi andalan Jokowi. Sukarno butuh 10 pemuda untuk mengguncang dunia. Jokowi cukup delapan saja untuk membangun Indonesia. Semoga begitu.

Sumber: Kompas

Jokowi merasa mengangkat milenial sebagai staf khusus sebagai hal yang patut dipamerkan. Buktinya, dari 12 staf khusus hanya tujuh orang itu saja yang diperkenalkan ke publik. Lima sisanya, dianggap sudah top.

Baca Juga: Presiden Jokowi Umumkan 7 Nama Staf Khusus dari Kaum Milenial

Lima orang staf khusus penghuni Istana yang tidak diperkenalkan itu adalah Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana (akademisi), Sukardi Rinakit (intelektual), Arif Budimanta (ekonom Megawati Institute), Diaz Hendropriyono (Ketua Umum PKPI), dan Dini Shanti Purwono (Kader PSI, ahli hukum lulusan Harvard).

Tujuh Milenial

Tujuh kaum belia rekrutan Jokowi boleh dibilang memang hebat. Mereka adalah anak-anak cerdas, lulusan berbagai universitas terkemuka di dunia. Mereka sudah sukses di usia muda. Siapa saja mereka itu?

Ketujuh orang itu di antaranya terdapat putri konglomerat Chairul Tanjung, Putri Indahsari Tanjung. Lulusan Academy of Arts di San Francisco jurusan Multimedia Communication ini baru berusia 23 tahun. Ia mengikuti jejak sang ayah: pebisnis. Dia adalah pendiri Creativepreneur Event Creator. Di perusahaan event organizer yang didirikannya itu, Putri menjabat Chief Executive Officer atau CEO.

Lalu ada Adamas Belva Syah Devara. Pria berusia 29 tahun ini adalah Direktur Utama sekaligus pendiri Ruangguru. Dia menjadi salah satu dari 30 pengusaha muda berusia di bawah 30 tahun paling berpengaruh di Asia versi majalah Forbes. Mendapatkan beasiswa penuh dari Pemerintah Singapura untuk mengenyam pendidikan di Nanyang Technological University. Di NTU, ia mendapatkan gelar ganda, yaitu di bidang bisnis dan ilmu komputer. Ia masuk ke dalam Double Dean’s List sebagai salah satu dari 5 persen mahasiswa berprestasi tinggi, selama tiga tahun.

Sumber: Setkab

Dia penyandang gelar double degree di Stanford University dan Harvard University. Di Stanford, ia menyandang gelar master administrasi bisnis, sedangkan di Harvard sebagai master administrasi publik. Ia juga tercatat sebagai mahasiswa tamu di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Harvard Law School, Harvard Graduate School of Education, dan Harvard Medical School.

Ketiga, Andi Taufan Garuda Putra. Pria kelahiran Jakarta, 24 Januari 1987 ini adalah lulusan sarjana bisnis, Institut Teknologi Bandung dan Master of Public Administration Harvard Kennedy School. Dia pendiri dan CEO Amartha, perusahaan pionir teknologi finansial peer to peer lending yang menghubungkan pendana di perkotaan dengan perempuan pengusaha mikro di pedesaan melalui teknologi.

Baca Juga: Sosok Putri Tanjung, Staf Khusus Millenial Pilihan Presiden Jokowi

Selanjutnya, Ayu Kartika Dewi. Perempuan berusia 36 tahun ini lulusan pascasarjana Duke University Fuqua School of Business, Amerika. Dia berhasil sekolah dan lulus dari universitas tersebut dengan beasiswa Keller Scholarship dan Fulbright Scholarship. Ayu juga memegang jabatan Manajer Consumer Knowledge Procter and Gamble (P&G) cabang Singapura. Initiator dan Co-Founder dari organisasi Sabang Merauke. Organisasi tersebut menyelenggarakan program pertukaran pelajar antardaerah di Indonesia.

Kelima, Gracia Billy Mambrasar atau Billy Yosaphat Y Mambrasar. Perempuan ini berusia 31 tahun. Pada saat ini dalam proses penyelesaian tesis studi gelar magister dalam bidang bisnis di Universitas Oxford. Sebelumnya sudah menyelesaikan studi di Australian National University (ANU) dengan beasiswa dari Pemerintah Australia dan menjadi mahasiswa terbaik pada 2015. Dalam waktu dekat, ia akan melanjutkan pendidikan doktoralnya dengan beasiswa Afirmasi dari LPDP di Universitas Harvard, Amerika Serikat dalam bidang pembangunan manusia.

Sumber: Republika

Keenam, Angkie Yudistia. Usianya 32 tahun. Dia adalah pendiri Thisable Enterprise. Sejak usia 10 tahun, Angkie kehilangan pendengarannya. Penulis buku Perempuan Tunarungu, Menembus Batas ini adalah lulusan jurusan Ilmu Komunikasi di London School of Public Relations Jakarta.

Terakhir, Aminudin Ma'ruf. Pria  33 tahun ini adalah Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau PMII (2014-2016). Sempat menjabat sebagai sekretaris jenderal solidaritas ulama muda Jokowi (Samawi). Amin menyelesaikan S1 di Universitas Negeri Jakarta. Laki-laki kelahiran Karawang, Jawa Barat ini kemudian melanjutkan S2 di Universitas Trisakti.

Energi Panas

Muhammad Hatta mengatakan, “pemuda bagai mendayung di antara dua karang”. Pemuda era kini menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Kompleksitas yang besar dibanding tantangan pemuda masa lalu, akibat perkembangan zaman yang semakin membiak, dari segi teknologi dan peradaban. Tantangan yang membutuhkan respons yang cepat dan tanggap. Tidak itu saja, jika mereka tidak bisa seperti karang, maka mereka terhempas ombak. Jika mereka tak bisa seperti layang-layang, mereka akan terhempas didera sang angin.

Menurut Syekh Dr. Yusuf al-Qaradawi, cendekiawan Muslim dari Mesir, pemuda adalah titik pertengahan, seperti sebuah titik kulminasi matahari, titik dengan energi panas tertinggi. Dia pemilik cinta yang menggelora. Semangat yang membaja. Cita-cita tinggi. Ghirah juang yang membara. Pemilik energi yang paling tinggi.

Baca Juga: Billy Mambrasar, Hidup dari Jualan Kue Kini Staf Khusus Presiden

Sumber: Setkab

Pemuda-pemuda pilihan Jokowi ini mengemban amanah yang tidak kecil. Tugas yang diberikan Presiden pada stafsus milenialnya adalah mengembangkan inovasi-inovasi di berbagai bidang sesuai dengan keahliannya masing-masing. Ketujuh Staf Khusus Presiden ini diharapkan menjadi penyumbang gagasan-gagasan baru di pemerintahan. "Ketujuh anak muda ini akan menjadi teman diskusi saya untuk memberi gagasan-gagasan segar yang inovatif," ujar Jokowi.

Jokowi berharap, dengan penunjukan tujuh anak muda tersebut, pemerintah dapat menemukan cara-cara baru yang out of the box serta lompatan-lompatan untuk kemajuan Indonesia.

Lebih jauh lagi, Presiden akan menjadikan mereka sebagai jembatannya untuk berinteraksi dengan anak-anak muda. "Santri muda, para diaspora yang tersebar di berbagai tempat," tuturnya.

Gaji Staf Khusus

Sebagai Staf Khusus Presiden, mereka akan mendapatkan gaji dari negara. Gaji Staf Khusus Presiden diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 144 tahun 2015 tentang besaran Hak Keuangan Bagi Staf Khusus Presiden, Staf Khusus Wakil Presiden, Wakil Sekretaris Pribadi Presiden, Asisten dan Pembantu Asisten.

Sumber: Istimewa

Gaji Staf Khusus Presiden sebesar Rp51 juta per bulan. Hak keuangan sebesar itu sudah termasuk di dalamnya gaji dasar, tunjangan kinerja dan pajak penghasilan. Dengan begitu, negara akan mengeluarkan minimal Rp7,956 miliar tiap tahunnya untuk menggaji para stafnya yang berjumlah 12 orang itu.

Kita tentu berharap pengeluaran negara ini sebanding dengan hasil kerja mereka. Tujuh kaum milenial ini diharapkan bisa menjadi inspirator bagi Jokowi untuk mengguncang dunia.

BACA JUGA: Cek HUKUM, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini



Berita Terkait