Foto: AsiaTimes

Terjerat Perangkap China

Ceknricek.com -- Maju kena mundur juga kena. Begitu nasib Malaysia saat ini dalam menghadapi masalah proyek One Belt One Road atau OBOR prakarsa China. Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, akhirnya memutuskan mendukung proyek yang kini dipopulerkan menjadi one belt one road initiative atau BRI itu. Terasa aneh, tapi itulah kenyataanya.

Sumber: MROnline

Kejutan Mahathir ini ditegaskan dalam KTT BRI, Jumat (26/4) lalu. "Saya sepenuhnya mendukung,” ujar Mahathir, seperti dimuat Channel News Asia. “Saya yakin negara saya, Malaysia, akan mendapat manfaat dari proyek ini," lanjutnya.

Dukungan terbuka Mahathir atas BRI ini jelas mengejutkan. Hal itu mengingat sebelumnya ia merupakan penentang keras proyek prakarsa China itu. Dia mengkhawatirkan kedaulatan nasional Malaysia, selain juga mengkritik soal mahalnya biaya proyek yang tadinya tidak dianggap penting-penting amat.

Itu sebabnya begitu ia mengalahkan Najib Razak dalam pemilu dan merebut kursi PM Malaysia, Mahathir langsung menunda beberapa proyek BRI.

Lalu, mengapa Mahathir tiba-tiba “menjilat ludahnya” kembali? Panos Mourdoukoutas punya jawaban soal ini. Profesor dan Ketua Departemen Ekonomi di LIU Post di New York ini menulis di Forbes, edisi Minggu (21/4). Dalam artikel berjudul “Malaysia Cannot Escape From China. It's Too Late” itu, Panos yang juga mengajar di Universitas Columbia itu menjelaskan bahwa Malaysia sudah "terjerat" dalam jaring China, dan tidak ada jalan keluar.

Langkah terbaik yang bisa dilakukan adalah membawa Beijing ke meja perundingan, dan mencoba untuk mendapatkan penawaran yang lebih baik untuk proyek yang sedang berjalan. “Mahathir membawa Beijing kembali ke meja perundingan untuk memangkas biaya proyek investasi yang ditugaskan kepada kontraktor China,” tulis Panos.

China sepakat untuk memotong biaya proyek East Coast Rail Link hingga sepertiga. Selanjutnya kedua negara telah sepakat untuk menghidupkan kembali proyek Bandar Malaysia dengan kontraktor asli, yakni perusahaan patungan antara perusahaan Malaysia Iskandar Waterfront Holdings dan China Railway Engineering Corp (CREC), dengan beberapa modifikasi: Seperti pembangunan 10.000 unit rumah yang terjangkau, dan penggunaan sumber-sumber lokal.

Sumber: NewSraitsTimes

Lalu, apa yang membuat Malaysia melembutkan nadanya kepada China? Tentunya banyak faktor yang melatarbelakanginya. Namun, salah satunya adalah bahwa ada banyak biaya "tenggelam" untuk proyek yang sedang berjalan dan akan sulit untuk menemukan sumber pembiayaan alternatif untuk melanjutkannya.

Bukan hanya itu, faktor lainnya kemungkinan adalah ada ketergantungan Malaysia terhadap ekspornya ke China. Tahun lalu, China adalah pasar ekspor terbesar untuk Malaysia (US$42,5 miliar), diikuti oleh Singapura (US$35,7 miliar), dan Amerika Serikat (US$33,1 miliar).

Menurut data Tradingeconomics.com, ekspor Malaysia turun secara tak terduga belakangan ini. Pada Februari 2019 ekspor Negeri Jiran itu turun 5,3%. Penjualan produk berbasis minyak kelapa sawit, produk minyak sulingan, minyak mentah, kayu dan produk berbasis kayu dan karet alam menurun.

Berjalan Lancar

Usia BRI baru enam tahun dan sangat muda untuk dianggap sebagai sebuah rencana jangka panjang. Hanya saja, proyek ini telah menarik perhatian 125 negara. Di sisi lain, sejumlah negara masih khawatir bahwa China memasukkan mereka ke dalam perangkap utang. Ada juga yang menerjemahkan BRI adalah bentuk lain dari kolonialisme.

Sikap Malaysia yang sempat membatalkan proyek BRI tidaklah sendiri. Turki tidak mengirimkan perwakilannya dalam KTT ke-2 BRI di Beijing juga dengan alasan kekhawatiran diplomasi perangkap utang.

Sedikitnya 30 kepala negara hadir dalam pertemuan ini. Presiden China Xi Jinping, menurut Aljazeera, bersusah payah meyakinkan para kepala negara yang hadir tentang niat baik China serta komitmen Negeri Tirai Bambu itu terhadap transparansi dalam pembangunan infrastruktur berkualitas tinggi, berkelanjutan, tahan risiko, terjangkau, dan inklusif.

Sumber: fox13memphis.com

Xi juga berjuang keras meredakan kekhawatiran banyak pihak bahwa BRI adalah kendaraan bagi China untuk memperluas pengaruh serta meraup keuntungan sepihak. Dia menekankan pesan ini selama KTT dan saat konferensi pers Sabtu sore (27/4).

Total kesepakatan senilai US$64 miliar telah ditandatangani selama KTT. Hanya saja Xi tidak merinci dengan negara mana saja kesepakatan itu dibuat.

Bruno S. Sergi, seorang instruktur ekonomi pasar negara berkembang dan ekonomi politik Rusia dan China di Universitas Harvard menyebut BRI sebagai proyek infrastruktur hijau, tanpa korupsi, multilateral, berkualitas, dan berkelanjutan adalah istilah glosarium baru dari presiden China. “Tidak diragukan istilah-istilah baru ini menunjuk ke arah yang benar,” ujar peneliti di Davis Center for Russia and Eurasian Studies ini. Forum ini sedikit menjelaskan apakah semua istilah baru ini akan diterjemahkan menjadi upaya pemasaran yang nyata.

Di forum tersebut, Xi menghubungkan BRI dengan konektivitas dan kerja sama, serta tantangan dan risiko yang dihadapi umat manusia: pertumbuhan ekonomi global, perdagangan dan investasi internasional, tata kelola, multilateralisme, pembangunan hijau, dan inovasi.

Ia berkomitmen untuk mengundang 10.000 perwakilan dari “partai politik, lembaga ahli dan organisasi non-pemerintah”, memperluas akses pasar, meningkatkan perlindungan kekayaan intelektual, meningkatkan impor, dan terlibat dalam koordinasi kebijakan makro-ekonomi.

“BRI telah memulai program investasi dan pinjaman untuk infrastruktur tetapi seolah-olah telah berevolusi menjadi sebutan untuk semua yang dilakukan China di luar negeri, memadukan garis antara ekonomi, politik, dan militer menjadi satu program raksasa,” ujar Joshua Eisenman, seorang asisten profesor di Lyndon B Johnson School of Public Affairs di The University of Texas di Austin.

“Seiring waktu, BRI telah berkembang menjadi moniker untuk segalanya,” kata ahli China yang telah mengikuti BRI sejak awal ini.

Sumber: BeritaHukum

China telah mengisi kesenjangan pendanaan yang ada di banyak negara, khususnya negara-negara berkembang. Kesenjangan yang--setidaknya untuk saat ini--hanya China yang bersedia meminjamkan sejumlah besar dana ke negara-negara yang mungkin tidak mampu membayar pinjaman itu. “Ketika pilihannya adalah mengambil uang atau tidak mengambil uang, orang-orang pasti akan memilih untuk mengambil uang itu,” kata Eisenman.

“Terlepas dari pro dan kontra, BRI dapat menjadi kendaraan untuk tipe baru kewirausahaan nasional,” sambung Sergi. Agar upaya menjadi efektif, BRI akan membutuhkan “efisiensi dan pandangan ke depan yang setara dari banyak negara dan aktor yang tertarik pada Jalur Sutra baru”.

Hanya pendekatan baru ke arah yang tepat yang dapat menjadikan BRI solusi yang saling menguntungkan menuju infrastruktur yang lebih baik, pertumbuhan, dan kemajuan, serta untuk menghindari bentuk hegemonik atau predator, di satu sisi, dan mencegah utang di beberapa negara juga.

Efek akhir dari BRI ini masih belum bisa ditentukan dan masih harus menunggu untuk waktu yang lama sampai efeknya terungkap. Sepertinya BRI menjadi visi ‘waiting for Godot’. Walaupun ini adalah visi jangka panjang, semua aktor dari pihak China dan semua negara lain harus bertindak dengan hati-hati dan berkomitmen terhadap kejujuran dan ketegasan.



Berita Terkait