Foto : Istimewa

Waswas Para Saudagar di Ujung Pemilu

Ceknricek.com -- Dunia usaha berharap kondisi keamanan tetap terjaga pada saat penghitungan hasil pemilihan presiden, 22 Mei nanti. Pemerintah, Polri dan TNI bisa mengatasi masalah politik yang kini sedang memanas. “Kami percaya pemerintah mampu mengatasi keamanan,” ujar Adhi S. Lukman, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (GAMMI).

Adhi memperkirakan jika kondisi aman maka pertumbuhan industri makanan dan minuman juga akan positif. Peningkatan rata-rata jumlah penduduk yang mencapai sekitar empat juta per tahun akan menjadi penyumbang utama pertumbuhan. Industri ritel juga begitu.

Tahun ini prospek para pengecer tetap menyenangkan. Kenaikan konsumsi masyarakat diperkirakan antara 30%-40% selama bulan Ramadan dan Lebaran tahun ini. Hal ini terjadi karena inflasi di Kuartal I-2019 di bawah 3%.

Ketua Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy Nicholas Mandey mengatakan, kenaikan permintaan ini merupakan apresiasi terhadap pemerintah juga karena berhasil menahan inflasi di 2,8% pada Kuartal I-2019. "Ini secara tidak langsung memberikan keyakinan kepada siapa pun bahwa harga akan stabil secara keseluruhan," ujarnya. Pernyataan Adhi S dan Roy Nicholas itu dikutip Sindo Weekly edisi Senin (20/5).

Sumber: Kontan

Gelaran Pemilihan Umum yang dekat dengan Ramadan menyumbang kenaikan konsumsi pangan, terutama di transaksi makanan dan minuman. Kenaikan makin melonjak setelah pembagian Tunjangan Hari Raya (THR) jatuh pada pertengahan Mei sebesar 30%-40%.

Kondisi keamanan yang terjaga dan nilai mata uang rupiah stabil menjadi keinginan pengusaha. Adhi mengatakan, industri mamin dibayangi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Ini akan memengaruhi biaya produksi industri akibat biaya pembelian bahan baku yang meningkat.

Maklum saja, industri mamin saat ini masih memiliki ketergantungan cukup besar terhadap bahan baku impor. Sebut saja misalnya gandum sebagai bahan baku utama tepung terigu yang 90%-100% masih berasal dari impor, kemudian gula 80%, garam 70%, susu 80%, kedelai 70%, dan jus buah 70%.

Indeks Tendensi Bisnis

Sejatinya, kondisi bisnis tanah air tidak terlalu buruk. Banyak bisnis tengah mengggeliat. Sayangnya, optimisme pengusaha agak menurun. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat optimisme pengusaha selama Kuartal I-2019 lebih rendah dibandingkan Kuartal IV-2018. Tingkat optimisme pelaku usaha yang tercatat pada indeks tendensi bisnis sebesar 102,10 di Kuartal I-2019 saat musim politik. "Ini menunjukkan kondisi bisnis terus meningkat, namun optimisme pelaku bisnis masih lebih rendah dibandingkan kuartal IV-2018 sebesar 104,71," kata Kepala BPS Suhariyanto.

Sumber: Bps.go.id

Peningkatan kondisi bisnis pada tiga bulan pertama tahun 2019 karena meningkatnya seluruh komponen pembentuk indeks, yaitu jumlah jam kerja, penggunaan kapasitas produksi dan komponen pendapatan.

Meski demikian, pada Kuartal II-2019, para pengusaha meramal indeks tendensi bisnis nasional sebesar 106,44. "Dari komponennya bergerak di atas 100 itu masih bagus, meskipun optimismenya agak berkurang," ujarnya.

Sementara untuk indeks tendensi konsumen, Suhariyanto mengungkapkan sebesar 104,35 pada kuartal I-2019. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum konsumen merasakan perbaikan kondisi ekonomi. "Namun, dengan optimisme yang lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya 110,54," tambahnya.

Meski demikian, Suhariyanto mengungkapkan, pada Kuartal II-2019 diperkirakan meningkat dengan optimisme yang jauh lebih tinggi. "Perkiraan ITK Triwulan II-2019 sebesar 120,90," ungkap dia.

Lebih jauh lagi, investor juga cenderung wait and see alias menunda investasi di Indonesia. Pemilu 2019 dianggap menimbulkan ketidakpastian soal arah kebijakan Indonesia 5 tahun ke depan.

Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution, meramal investor bakal kembali mendapatkan kepastian setelah Pemilu selesai sehingga investasi bisa berjalan normal. Pemilu ini harus sudah benar-benar keluar hasilnya, yaitu siapa yang menang dalam kontestasi politik 5 tahunan ini. Baru dengan begitu investor sudah bisa menentukan apakah bakal berinvestasi atau menahan diri.

“Jika melihat proses Pemilu saat ini investor percaya bahwa kita cukup dewasa dalam melaksanakan demokrasi," tambah Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita.

Enggar mengatakan, beberapa negara tetangga bahkan sudah berjanji untuk kembali membicarakan terkait kerja sama dengan Indonesia usai penyelenggaraan Pemilu. "Mereka sudah, teman-teman beberapa negara sudah ada janjian, kontak-kontak par telepon menteri, katanya setelah hari itu (Pemilu)," ungkapnya.

Trauma 1998

Tanpa kerusuhan dan kekacauan, perekonomian nasional akan semakin terdongkrak. Mendekati hari raya, masyarakat akan meningkatkan kebutuhan pangan dan sandangnya.

Kerusuhan1998. Sumber: Picture Alliance dpa

Harapan dunia usaha dan juga masyarakat akan situasi yang kondusif dan juga stabil sangatlah beralasan. Ada trauma yang tak pernah hilang atas kerusuhan yang terjadi pada tahun 1998. Saat itu ekonomi kita bisa dibilang lumpuh dan  denyut nadi perekonomian berdetak lemah sekali. “Itu pengalaman buruk. Toko-toko dijarah. Tentu itu berpengaruh pada industri ritel,” kata Roy.

Kerusuhan 98 yang membuat kondisi politik dan keamanan yang tidak stabil berdampak pada nilai tukar rupiah. Ujungnya, industri yang yang membutuhkan dolar, untuk impor bahan baku dan bayar utang, menjadi terganggu. “Perusahaan yang pinjamannya menggunakan dolar kena pengaruh, dan banyak yang kolaps juga,” kata Adhi.

Kini, merespons situasi politik yang kian memanas, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus tertekan akibat aksi jual investor asing.  Menurut data settlemen Bank Indonesia, antara 13 sampai 16 Mei terjadi aliran modal asing yang keluar dari Indonesia dengan net jual Rp11,3 triliun, terdiri dari Rp7,6 triliun SBN net jual dan Rp4,1 triliun saham.

Aksi jual investor asing di pasar saham itu membuat kinerja IHSG semakin tertekan. Dalam lima hari perdagangan hingga Kamis (16/5) pukul 13.59 WIB, IHSG sudah turun 4,92% ke posisi 5.918,75. Keluarnya investor asing dari pasar saham memang selalu terjadi di setiap Pemilu. Mereka lebih memilih aset safe haven.

Berdasarkan data RTI, saham-saham perbankan paling banyak dilepas oleh investor asing. Di antaranya adalah saham Bank BRI (BBRI) sebesar Rp834 miliar, BBCA senilai Rp706,79 miliar, dan saham BNI senilai Rp383,13 miliar. Selanjutnya disusul saham TLKM sebesar Rp345,3 miliar, PT Astra International Tbk (ASII) sebesar Rp287,19 miliar.

Aksi jual investor asing di bursa selain karena memanasnya situasi politik juga karena memburuknya indikator ekonomi domestik, dan juga faktor eksternal. Dari sisi ekonomi, investor asing langsung bergerak cepat meninggalkan pasar saham pasca-pengumuman neraca perdagangan. 

BPS mencatat defisit neraca perdagangan pada bulan April 2019 mencapai US$2,5 miliar. Itu adalah defisit dagang bulanan terburuk sepanjang sejarah, memecahkan rekor defisit terburuk yang terjadi pada Juli 2013 yang sebesar US$2,3 miliar.

Akibatnya, nilai kurs rupiah terhadap dolar menjadi terpukul. Pada perdagangan Jumat, kurs tengah BI atau kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di posisi Rp14.469 atau melemah 0,07% dibanding posisi perdagangan Kamis kemarin. Bahkan ini merupakan hari ke-7 di mana kurs tengah BI selalu melemah. Sepanjang pekan kemarin rupiah sudah melemah sebesar 0,8% dari posisi Rp14.347 menjadi Rp14.469.

Jika situasi politik makin memanas maka investor asing akan kian deras meninggalkan pasar saham sehingga bakal kian lebih menekan indeks ke sisi bawah. Nah, jika sampai terjadi gerakan people power, indeks akan kian jatuh lebih dalam. Para investor, terutama asing, akan menyelamatkan dananya dengan melepas berbagai portofolio investasi di sini.

Hal yang sama juga akan menimpa kurs rupiah. Di tengah indikator ekonomi yang kurang menjanjikan, kondisi politik yang meledak lantaran adanya penolakan hasil pilpres akan membuat investor di pasar keuangan segera meninggalkan investasinya di Indonesia. Mereka kemudian memburu dolar sehingga rupiah kian terkapar.

Nah, agar dunia usaha dan pasar keuangan tak menyikapi negatif pengumuman Pilpres dua hari mendatang, sejumlah pihak sudah menyatakan bahwa mereka tidak perlu khawatir terhadap situasi pasca-pengumuman hasil Pilpres pada 22 Mei besok. Ya, kita lihat saja.



Berita Terkait