Granada, Benteng Terakhir: Menangislah ...

Category: Pengetahuan -> OPINI | Posted date: 2018-06-06 13:05:43 | Updated date: | Posted by: Asro Rokan


CORDOBA, kota kenangan kejayaan Islam, kami tinggalkan. Kota ini berganti menjadi cerita untuk anak-cucu: kejayaan 781 tahun ((711-1492 M) yang berakhir tragis.



Catatan Perjalanan Asro Kamal Rokan

Ceknricek.com - CORDOBA, kota kenangan kejayaan Islam, kami tinggalkan. Kota ini berganti menjadi cerita untuk anak-cucu: kejayaan 781 tahun ((711-1492 M) yang berakhir tragis.

Tujuan berikut ke Granada. Inilah kota terakhir kekuasaan Islam di Andalusia (Spanyol). Jose memacu mobil dengan kecepatan sedang. Jarak dari Cordoba ke Granada sekitar 207 kilometer, sekitar dua jam perjalanan. Sore mulai merayap. Salju di puncak Siera Nevada mulai kemerahan ditimpa sinar matahari sore akhir Januari 2010. Granada berada di kaki gunung Siera Nevada, berbukit-bukit, sekitar satu jam dari pantai Mediterania. 

Saya dan Ahmad Mukhlis Yusuf tiba di Hotel Casa del Pilar, Granda, tidak jauh dari Alhambra. Waktu Maghrib sudah masuk. Tidak terdengar azan dan tidak ada masjid, seperti enam abad lalu saat Islam berkuasa. Malam merayap. Besok pagi, kami ke Alhambra, istana dan sekligus benteng terakhir.

Pemerintahan Islam memimpin Andalusia (Spanyol) sejak 711, melalui pertempuran Guadelete. Pasukan Khalifah Umayyah dari Afrika Barat Laut, yang dipimpin Thariq bin Ziyad, menguasai Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal) yang merupakan kerajaan Hispania, yang dipimpin Raja Roderikus dari Visigoth. Pasukan Thariq mendarat di Gibratar pada 30 April 711. 

Sejarah mencatat, daerah yang dikuasai Umayyah ini — yang kemudian disebut Andalusia — terdiri dari Spanyol, Portugal, dan Perancis selatan. Semula, Andalusia dipimpin seorang gubernur,yang ditunjuk Kekhalifahan Umayyah di Damaskus. Pada tahun 929, Andalusia membentuk pemerintahan sendiri, yang berpusat di Cordoba. Daerah kekuasaannya adalah Toledo, Zaragoza, Granada, Seville, Valencia, Badajoz, dan Lisbon (Portugal).

Kekhalifahan Cordoba yang dipimpin Abdurahman II, diteruskan penggantinya Abdurahman III, Al-Hakam II, dan Al-Mansur, menempatkan Cordoba menjadi kota utama di Eropa, mengalahkan Konstantinopel. Masa keemasan ini melahirkan pemikir-pemikir hebat yang hingga kini menjadi rujukan, di antaranya ahli filsafat dan kedokteran Ibnu Rusyd. Berbagai universittas dibangun. Sains, fisika, matematika, astronomi, kimia, zoologi, geologi, botani, dan ilmu-ilmu pengobatan bermula dari sini. 

Terpecahnya Kekhalifahan Cordoba menjadi 30 kerajaan kecil (taifa) dan konflik internal, menjadikan kekuatan Islam secara menyeluruh, menjadi lemah. Cordoba jatuh dalam kekuasaan pasangan Ferdinand lll dari Aragon-Ratu Isabela l dari Kastile. Granada merupakan benteng terakhir takluk, pada 1492. Menurut catatan wikipedia, kekalahan ini diikuti pembunuhan dan pengusiran kaum Muslim dan Yahudi di Spanyol.

Alhambra yang Megah

Setelah sarapan, kami diantar Jose ke Alhambra. Dari hotel, yang berjarak sekitar 300 meter, bangunan Alhambra sudah terlihat menjulang. Posisinya di atas Bukit La Sabica. Istana yang sekaligus benteng ini didirikan secara bertahap antara 1238 hingga 1358, semasa Sultan Muhammad bin Al-Ahmar, penguasa terakhir Andalusia.

Kompleks istana Alhambra — berasal dari kata Arab yang berarti merah — seluas kira-kira 14 hektare. Komplek ini dikelilingi tembok tinggi dan 13 menara pengintai. Sebelum memasuki istana, terbentang taman luas dengan penphonan dan air mancur. Pengunjung melewati Istana Generalif yang didirikan Karel V, selanjutnya tiba di gerbang Alhambra. Dari gerbang ini, bangunan pertama terlihat adalah Masjid al-Mulk atau Masjid Sultan.

Di dalam istana, banyak sekali ruangan dengan arsitektur indah dan dihiasai kaligrafi, di antaranya ruangan Al-Hukmi (Baitul Hukmi-pengadilan), ruang Bani Siraj, ruangan Hausy ar-Raihan untuk bersiram, kolam Al-Birkah dari marmer putih, dan di sebelah barat ruangan Al-Hukmi, ada lapangan yang diberi nama Hausyus Siba' (Taman Singa). Dari 12 patung singa itu memancar air mancur. Ada juga Jennat Al-Arif (Garden of the Architect) semacam vila khusus raja. Dari tempat ini raja dapat melihat Albayzin, perkampungan orang-orang Arab.

Akhir Kekuasaan Islam

Masa keemasan Islam di Spanyol selama 781 tahun berakhir tragis. Setelah terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil (taifa), kekuatan Islam semakin lemah. Konflik antra kerajaan kecil terjadi, saling serang, dan sering sekali mereka meminta bantuan tentara Kristen. Pusat-pusat kekuatan dan kejayaan peradaban Islam, tumbang satu demi satu. Pada 1238 Cordoba jatuh ke tangan Kristen, lalu Seville pada tahun 1248 jatuh.

Granada yang dalam kekuasaan Bani Ahmar (1232-1492), satu-satunya yang bertahan. Namun, konflik internal menjadikan kerajaan Granada ini pecah. Abu Abdillah Muhammad bin al-Ahmar ash-Shaghir yang kecewa pada ayahnya atas penunjukan saudaranya sebagai raja, melakukan pemberontakan. Dia meminta bantuan Raja Ferdinand dari Aragon dan Ratu Isabella dari Castile, yang menguasai Andalusia dengan kekejaman.

Sultan Abu Abdullah Muhammad menang dan naik tahta. Namun, ini tidak bertahan lama. Abu Abdullah Muhammad disingkirkan oleh raja Katholik yang tadi membantunya, Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Abu Abdillah Muhammad menyerah pada 2 Rabi'ul Awal 897 Hijriyah (02 Januari 1492). Dia menyerahkan kunci gerbang kota Granada dan Istana Alhambra. 

Berakhirlah Granada sebagai benteng terakhir Islam di Spanyol, berakhirlah kekuasaan Islam selama 781 tahun. Setelah itu, pembunuhan besar-besaran terjadi terhadap kaum Muslim dan Yahudi. Mereka dipaksa meninggalkan agamanya atau mati.

Setelah tersingkir, seperti ditulis David Levering Lewis dalam buku The Greatness of al-Andalus, Sultan Abu Abdillah Muhammad meninggalkan Granada pergi ke Afrika Utara. Dalam perjalanan, sultan yang kalah itu berhenti disebuah bukit. Di sini dia memandang kembali Granada yang indah, sambil menitikan air mata. Ibunya, Aisyah yang ikut rombongan, berkata pada Abu Abdillah Muhammad: Menangislah seperti wanita, terhadap apa yang tidak bisa engkau pertahankan selayaknya laki-laki.

Bukit tempat Abu Abdillah Muhammad menangis itu diberi nama Puerto del Suspiro del Moro — Bukit tangisan orang Arab terakhir.

Setelah berkeliling di istana Alhambra — monumen terahir kejayaan pemerintah Islam selama 781 tahun, yang berakhir tragis, penuh kekejaman, dan intoleransi— kami meninggalkan Granada, dengan perasaan yang sangat pilu. Puncak Gunung Siera Nevada ditutupi salju. 

Di perjalanan menuju Madrid, terngiang kata-kata Aisyah, ibu sultan terakhir Granada: Menangislah terhadap apa yang tidak bisa kau pertahankan.