Asal Mula Masjid-masjid di Belanda 

Category: Pengetahuan -> OPINI | Posted date: 2018-06-08 10:30:38 | Updated date: | Posted by: Asro Rokan


PROBOSUTEDJO, pengusaha Indonesia, pada 1995 membeli Gereja Immanuel di Heeswijkpein, Moerwijk, Den Haag, di saat muslim Indonesia memerlukan masjid. Pada 1 Juli 1996, Probosutedjo — wafat 26 Maret 2018— mewakafkan gereja tersebut untuk masjid atas nama k



Catatan Perjalanan Asro Kamal Rokan

Ceknricek.com - PROBOSUTEDJO, pengusaha Indonesia, pada 1995 membeli Gereja Immanuel di Heeswijkpein, Moerwijk, Den Haag, di saat muslim Indonesia memerlukan masjid. Pada 1 Juli 1996, Probosutedjo — wafat 26 Maret 2018— mewakafkan gereja tersebut untuk masjid atas nama kakaknya RH Haris Sutjipto, yang sakit dan wafat di Leiden, Desember 1995.

Masjid itu bernama A-Hikmah. Bila dilihat dari luar, masjid ini tidak ubah dengan gereja. Bentuknya panjang, berlantai dua, tanpa kubah. Ada sebuah menara, tapi itu tempat lonceng gereja. Masuk ke dalam, suasana masjid baru terasa. Ada mihrab, bentangan sajadah, dan kaligfari ayat-ayat Al-Quran.

Kisah ini disampaikan M Chaeron, mantan Ketua Persatuan Pemuda Muslim se Eropa (PPME) kepada saya Januari 2000 lalu. Den Haag malam itu mengigil dalam suhu udara 3 derajat Celcius. Pada kunjungan berikutnya, Desember 2009, kesibukan di Museum Laiden dan Museum Bronbeek di Arnhem, saya tidak dapat bekunjung ke Masjid Al-Hikmah.

Dari 15.341.553 penduduk Belanda, menurut data Central Bureau de Statistiek 1994, Islam menempati posisi ketiga (6 persen), setelah Katolik Roma, dan Kristen Protestan. Sebanyak 40 persen warga Belanda mengaku tidak beragama. Umat Islam terbanyak dari Turki (46 persen), disusul Maroko, Suriname, dan Pakistan. Dari Indonesia sekitar 1,6 persen — umumnya eks tentara Koninklijke Nederlands-Indische Leger (KNIL, tentara Kerajaan Hindia Belanda).

Dalam In het Land van de Overheerser karya Harry A Poeze, orang Islam pertama yang datang ke Belanda adalah Abdus Samad, Duta Besar Kesultanan Aceh untuk Belanda, pada tahun 1602. Samad ketika itu tidak dalam misi dakwah, selain waktu kunjungan yang singkat.

Islam mulai berkembang melalui imigran dari negara jajahan Belanda, termasuk Indonesia. Ketika Belanda menerapkan politik etis, orang-orang Indonesia yang sebagian besar beragama Islam, berdatangan ke Belanda. Pada 1930-an, mereka mendirikan Perkoempoelan Islam. Organisasi, yang didirikan seorang Belanda Van Beetem — yang kemudian berganti nama menjadi Mohammad Ali — ini diakui pemerintah Belanda, dan merupakan organisasi Islam pertama.

Awalnya Gereja

Gereja Immanuel, satu di antara banyak gereja di Belanda — dan sejumlah negara Eropa— yang beralih fungsi menjadi masjid. Menurut Ahmad Nafan Sulchan, salah seorang pendiri PPME, untuk membangun masjid baru sangat tidak mudah di Belanda, sementara banyak gereja yang dijual karena sepi jemaah. Masyarakat sekitar gereja juga lebih senang gereja itu dijadikan masjid daripada untuk kepentingan lain.

Selain gereja Immanuel, Sinagog Agung Yahudi yang dibangun pada 1844 di Wagenstraat 103, Den Haag, dibeli komunitas Turki dan dijadikan masjid pada 1981. Masjid berasitektur unik itu kini benama Mescidi-Aksa (http://www.mescidiaksa.eu). Sinagog ini dijual pada tahun 1979 karena sepi jemaah.

Masjid Tafakkur di Rotterdam, sebelumnya juga gereja. Centrum Santoso Suriname, organisasi muslim asal Suriname membeli gereja tersebut dan membangun masjid dua lantai, yang menampung sekitar 300 jamaah. Masjid Raya Fatih di Rozengracht 150, Amsterdam, Masjid Raya Sultan Ayyub di Groningen, dan Masjid Raya Utsman Gazi, semula juga adalah gereja.

Masjid terbesar di Belanda saat ini adalah Masjid Essalam di Vredesplein 7 Rotterdam. Masjid tiga lantai ini luasnya sekitar 2600 m2 dan dapat menampung sekitar 3000 orang. Menaranya 50 meter. Masjid ini diresmikan 17 Desember 2010 lalu, oleh Walikota Rotterdam, Ahmed Aboutaleb, keturunan Maroko. Di Rotterdam, diperkirakan dari 600 ribu pendudukanya, sekitar 40% bergama Islam. Tidak heran Ahmed Aboutaleb terpilih sebagai walikota.

Selain Masjid Essalam, ada sejumlah masjid di Rotterdam, yang dikelola masyarakat Pakistan, Maroko, Somalia, dan Indonesia. Masjid-masjid tersebut awalnya gereja dan bagian apartemen. 

Sekolah-sekolah Islam juga tumbuh. Pada 2006 diperkiraan ada sekitar 47 buah sekolah dasar, sekolah menengah. Organisasi-organisasi Islam bermunculan, di antaranya Turks-Islamtische Culturele Federatie (TIFC), Unie van Marokkaanese Muslim, Stichting Weljizn voor Moslims in Nederland (Suriname), dan Islamitische Omroepsichting. Sebagian di antaranya anggota Federasi Organisatie Muslim Nederland (FOMN), yang menghubungkan dengan Pemerintahan Belanda.

Ancaman Kekerasan

Meski kebebasan beragama dijamin oleh undang-undang, namun datang dari kelompok anti Islam. Februari 2018, masjid di kota Drachten Utara dibakar orang tak dikenal. Menurut Khalid Bennaceur,ketua Yayasan Drachten Islamic Center kepada Anadolu, milik Muslim Maroko.

Pada Maret 2017 lalu, perwakilan berbagai organisasi melawan rasisme di Belanda, berkumpul di masjid Al-Kabir. Mereka menentang berbagai sentimen anti-Muslim. Rasisme menguat setelah Pendiri dan pemimpin Partai ultra-kanan Kebebasan (Partij voor de Vrijheid - PVV) Geert Wilders, mengkampanyenya anti-Islam.

Wilder — yang dilahirkan seorang ibu kelahiran Indonesia — bersumpah jika partainya menang pemilu, dia menutup masjid, melarang Al-Quran, menutup sekolah-sekolah Islam, dan melarang pendatang Muslim, melarang jilbab di tempat umum, dan melarang ungkapan khas umat Muslim.

Pada Pemilu Maret 2017, dukungan suara umat Islam dan kelompok anti-rasis, menyebabkan Partai Kebebasan (Partij voor de Vrijheid - PVV) pimpinan Geert Wilders itu kalah.. Partai anti-Islam ini berada di peringkat tiga dengan meraih 19 persen suara, sedangkan Partai VVD pimpinan PM Mark Rutte, yang berhaluan kanan-tengah memenangkan pemilu dengan meraih 32 dari 150 kursi.

Kekalahan Geert Wilders tidak saja disyukuri umat Islam Belanda, tapi juga pemimpin Eropa. BBC London melaporkan, Kanselir Jerman Angela Merkel segera menelepon PM Rutte dan menyatakan lega atas kemenangan VVD.

Martin Schulz, mantan presiden Parlemen Eropa juga mengatakan hhal yang sama. "Kita harus terus berjuang bagi Eropa yang bebas dan terbuka," tulisnya melalui twitter.

Di tengah berbagai tekanan, termasuk isu terorisme, Islam terus berkembang di Belanda. Masjid-masjid berdiiri kokoh. Di buku tamu Masjid Al-Hiikmah, —seperti juga tamu lainnya — saya menulis pesan dan kesan: Insya Allah, dari sini, dari masjid ini, Islam berjaya kembali di Eropa.