Sejumlah Ulama Deklarasikan Anies Sebagai  Calon Presiden

Category: Berita -> POLITIK & HUKUM | Posted date: 2018-06-08 18:40:45 | Updated date: | Posted by: Rihat Wiranto


Ceknricek.com - Sejumlah ulama berkumpul di Hotel Sofyan, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (8/6). Awak media yang datang hanya diberitahu akan ada pengumuman tentang calon presiden. Namun di undangan tidak tertulis siapa calon presiden yang dimaksud.



Ceknricek.com - Sejumlah ulama berkumpul di Hotel Sofyan, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (8/6). Awak media yang datang hanya diberitahu akan ada pengumuman tentang calon presiden. Namun di undangan tidak tertulis siapa calon presiden yang dimaksud. Untuk sebuah acara pengumuman calon presiden, konferensi pers terlihat sederhana dengan dihadiri sekitar 100 orang.

Tapi suasana bergairah tampak dari para roman muka hadirin yang datang. Mereka tampak antusias. Menjelang konferensi pers, spanduk dipasang di belakang meja. Maka, terlihatlah foto Anies Baswedan  dengan jelas di spanduk. Beberapa orang panitia kemudian membagikan topi putih bertulis Anies for President 2019 dengan hastag Indonesia untuk Indonesia.

Lima orang yang terkenal sebagai ulama, duduk di depan hadirin untuk menjelaskan acara itu. Mereka adalah  Jeje Zainuddin, Taufan Maulamin, Haikal Hassan, Fahmi Salim, dan Wahfiudin Sakam. Haikal Hassan yang menjadi juru bicara langsung mengumumkan Anies Baswedan, yang kini menjabat Gubernur DKI, sebagai calon Presiden 2019-2024. Mereka mengaku berkumpul  atas nama perseorangan yang tergabung dalam “Gerakan Indonesia untuk Indonesia.”

Haikal menyatakan, pemilihan terhadap Anies dilakukan setelah mengadakan kajian serius. “Setelah melalui kajian serius, sungguh-sungguh dan mendalam terhadap pribadi, track record baik integritas, kinerja dan elektabilitas Anies Baswedan, maka kami dari Gerakan Indonesia untuk Indonesia  mendeklarasikan Anies Rasyid Baswedan maju sebagai Calon Presiden RI 2109-2024,” ujar Haikal.

Ia menjelaskan sederet kelebihan Anies Baswedan sehingga pantas untuk menjadi Presiden menggantikan Joko Widodo. “Berdasar suvei mana pun, Anies memiliki elektabilitas tinggi. Pak Anies juga memiliki jiwa kebangsaan dengan program Indonesia Mengajar. Beliau juga berani menghentikan proyek reklamasi,“ kata Haikal dengan semangat.

Ia menambahkan, Anies akan mendapat dukungan dari rakyat kecil. “Ini dibuktikan dengan keputusannya untuk membolehkan sepeda motor kembali melintas di Jalan Thamrin dan Sudirman,” ujarnya kembali.

Sederet prestasi lain ia sebutkan satu-satu. Antara lain, di bawah Anies, DKI mendapatkan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Ia juga seorang ilmuwan yang diakui oleh dunia.  Anies digambarkan sebagai sosok yang tidak memiliki beban sejarah. Kalau menilik sejarah, Anies adalah cucu dari AR Baswedan, anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Ketika ditanya apakah Anies sudah dihubungi soal  pencalonan ini, Haikal menyebut untuk sementara tidak mementingkan soal  komunikas  dengan Anies. “Menurut sebuah hadis, tidak baik jika seseorang berambisi untuk menjabat. Ini yang kita hindari. Maka kita berinisiatif untuk mencalonkan Beliau,” ujarnya.

Dia juga menjelaskan, pencalonan ini tidak ada kaitannya dengan gerakan 212. “Tapi siapa yang tidak terlibat dalam gerakan 212? Karena saat itu dihadiri 7,5 juta orang. Tapi secara resmi ini tidak ada hubungannya dengan 212.” ujar Haikal kembali.

Sementara itu,  Mahfuddin menambahkan, setelah pencanangan ini, mereka akan mengkomunikasikan dengan pihak lain. “Kami akan mengadakan komunikasi dengan dengan ormas Islam dan partai politik, serta para tokoh yang akan mengadakan ijtima ulama untuk memilih calon pemimpin,” katanya.

Jeje Zainuddin menyatakan keberanian untuk menyodorkan calon presiden sangat penting dalam demokrasi.  “Selama ini, sebagai pemilih muslim terbesar, kita hanya dihadapkan pada pilihan calon dari partai politik. Sehingga, kebebasan memilih sebetulnya hanya setengah hati. Karena tidak ada lagi pilihan,” ungkap Jeje.

Ia berpendapat,  masyarakat dengan partai belum tentu linear dalam konsepsi kriteria menentukan pemimpin. Karena itu, kata Jeje, deklarasi Anies for President 2019-2024 dinilai sangat positif.

Dari 200 juta muslim Indonesia, mestinya ada seribu lebih pemimpin terbaik di negeri ini. “Pembatasan calon pada satu dua orang saja merupakan pendidikan politik yang tidak sehat bagi munculnya kader pemimpin di masa akan datang,” katanya.

Kendati masyarakat dihadapkan pada Perundang-Undangan Pemilu dan Pilpres, ia menyerukan partisipasi masyarakat  secara positif dan aktif.  “Selama ini masyarakat diberikan kebebasan tapi dibelenggu. Jadi, partai harus membaca aspirasi masyarakat, bukan masyarakat menuruti selera partai,” ujarnya.

Sepak Terjang Anies

Anies Rasyid Baswedan, Ph.D, lahir di Kuningan, Jawa Barat, 7 Mei 1969. Setelah lulus kuliah di Fakultas Ekonomi UGM, Anies bekerja di Pusat Antar Universitas Studi Ekonomi UGM, sebelum mendapat beasiswa Fulbright dari AMINEF untuk melanjutkan kuliah master dalam bidang keamanan internasional dan kebijakan ekonomi di School of Public Affairs, University of Maryland, College Park tahun 1997. Setelah lulus dari Maryland, Anies kembali mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah  dalam bidang ilmu politik di Northern Illinois University  tahun 1999.

Setelah aktif dalam berbagai kegiatan sosial, Anies  terjun ke politik dengan mengikuti konvensi Demokrat pada 27 Agustus 2013. Anies bersama 11 orang lainnya; Ali Masykur Musa, Dahlan Iskan, Dino Patti Djalal, Endriartono Sutarto, Gita Wirjawan, Hayono Isman, Irman Gusman, Marzuki Alie, Pramono Edhie Wibowo dan Sinyo Harry Sarundajang mengikuti Konvensi Calon Presiden dari Partai Demokrat. Konvesnsi ini akhirnya gagal menghasilkan calon kuat, sehingga Demokrat tidak mengusulkan calon sendiri.

Anies kemudian mendukung pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Jusuf Kalla   dalam pilpres 2014. Anies membantu pasangan nomor urut dua dalam Pilpres 2014 ini dengan menjadi juru bicara pasangan tersebut.

Setelah Jokowi-JK menang, Anies menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  sejak 26 Oktober 2014 sampai digantikan oleh Muhadjir Effendy dalam perombakan kabinet pada 27 Juli 2016.

Setelah itu, Anies bersama Sandiaga Uno mengalahkan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam Pilkada 2017. Anies-Sandi menjabat Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta hingga 2022.

Jika Anies ikut dalam pemilihan Presiden 2019, maka ia akan mengulangi keputusan Joko Widodo yang tidak merampungkan tugasnya sebagai gubernur DKI Jakarta hingga masa akhir jabatan.

Ceknricek,com sudah mengontak Anies Baswedan, namun ia belum memberi komentar atas pencalonannya sebagai Presiden tersebut.