Mudik, ART Infal, dan Wifi

Category: Pengetahuan -> OPINI | Posted date: 2018-06-09 11:54:05 | Updated date: | Posted by: Ilham Bintang


ANGIN berubah musim berganti. Ini pepatah urang Minang yang sering dipakai Karni Ilyas untuk melukiskan perubahan pendirian seseorang atau satu golongan terhadap suatu hal



Oleh Ilham Bintang

Ceknricek.com - ANGIN berubah musim berganti. Ini pepatah urang Minang yang sering dipakai Karni Ilyas untuk melukiskan perubahan pendirian seseorang atau satu golongan terhadap suatu hal. Misalnya dalam politik.

Saya juga suka pepatah itu. Namun,  saya tidak bisa memastikan  apakah pepatah itu cocok untuk topik tulisan ini. Yang melukiskan perubahan tren pada Asisten Rumah Tangga ( ART).

Masalah Nasional Ibu RT

Selain harga bahan pokok, sesungguhnya masalah “Nasional“ yang sering dikeluhkan ibu rumah tangga adalah soal ART. Terlebih pada musim mudik Lebaran setiap tahun. Rasanya belum ada masalah sedahsyat yang mereka alami setiap kali ditinggal mudik oleh para ART nya. Mudik adalah harga mati bagi ART. Tidak bisa ditawar. Dan, karenanya Ibu rumah tangga tak berdaya hadapi itu. Bayangkan!  Zona nyaman selama 11 bulan mereka nikmati tiba-tiba para ibu rumah tangga harus kembali ke khittahnya mengurus dapur dan segala pernak pernik rumah tangga yang amat merepotkan selama sekian waktu tanpa ART.

 

Masih beruntung kalau ART cuma mudik sesuai masa libur lebaran plus cuti bersama orang kantoran. Seperti tahun ini berlaku sekitar dua pekan. Ada ART yang bisa memutuskan akan menetap di kampung selamanya alias tidak akan kembali lagi. Kalau toh ada yang balik, tapi mereka minta waktu tiga bulan menetap di kampung. Ada yang mau ngurus sekolah anaknya. Ada juga karena akan menghadiri pernikahan sanak saudaranya. Padahal, Naudzubillah. Pada  hari- hari di akhir Ramadhan dan Lebaran itulah puncak kesibukan dapur seluruh rumah tangga di Indonesia. Apalagi setelah itu. Setelah ibu rumah tangga mulai kembali bekerja di kantor. Bagaimana dapur, cucian, dan urusan membersihkan rumah, halaman yang ditinggal pembantu?

Di masa- masa itu kaum lelaki atau para suami jangan coba bikin gara-gara di rumah kalau tak mau dilabrak orang rumah. Soalnya  rata-rata ibu rumah tangga gampang naik darah kurun itu.

ART Infal 

Solusi paling cepat memang ambil ART infal. Di Jakarta dan beberapa kota besar ART infal ini sudah belasan tahun tumbuh menjadi 

“industri”. Maksudnya ada banyak agen  penyedia jasa tenaga ART untuk mengisi tugas ART yang mudik. Tarifnya harian. Sekarang paling murah 200 ribu rupiah perhari. Biaya administrasi paling sedikit 1 juta rupiah. Hitung saja berapa jumlah yang harus dikeluarkan untuk masa dua minggu misalnya untuk satu pembantu. Ya, sekitar 4 juta perak untuk dua pekan. Hampir dua kali lipat gaji pokok ketua pengarah Badan Pelaksana Idiologi Pancasila yang belum lama jadi prokontra di  masyarakat. Gaji pokok negarawan yang menjadi kepala di badan itu asal tahu saja hanya Rp. 5 juta/ bulan.

Wah, ini seperti ngelantur. Kembali ke pokok persoalan. Ke pokok cerita “ angin berubah musim berganti” dalam konteks ART.

Wifi

Kemarin pagi istri saya cerita. Dia sudah mengambil ART infal. Tapi  terkejut saat  ART musiman itu tiba di rumah. Menit pertama,  ART bertanya apakah di rumah kami ada wifi? Ketika dijawab ada, dua ART infal langsung mengekspresikan  perasaan bahagianya.

Hampir setiap tahun kami menggunakan ART infal.Tetapi baru tahun ini wifi  menjadi pertanyaan utama mereka. Sebelum ini,  pertanyaan mereka hanya seputar ketersediaan mesin cuci, kompor gas, seterika listrik, yaa sekitar peralatan rumah tangga itu saja. Lalu berapa jumlah anggota keluarga? Berapa anak balita? Jam kerja mereka. Terakhir kamar tidur mereka.

Pertanyaan standar itu tidak diajukan oleh dua ART infal di rumah kami. Yang mereka tanya betul-betul hanya satu : wifi ? Cuma itu. Waktu mereka tiba sore kemarin. Pulang dari salat Taraweh semalam dua tenaga infal  sudah menunggu di pintu masuk. Mereka menanyakan password wifi. Begitu diberitahu mereka riang gembira kembali ke ruang kerjanya. Sekilas kedengaran dia mengucap kata  “sip”, yang satunya lagi bilang “oke”.

Muncul sedikit persoalan ketika menjelang tidur. Mereka mengetuk pintu kamar. Mengeluhkan signal wifi lemot di kamar tidur mereka.

Masya Allah. Kami baru sadar.  Memang tidak pernah terpikirkan memasang wifi yang signalnya bisa menembus basement di mana tempat tidur mereka berada.

“ Di bawah, di kamar kami tidak ada signal,  Bu. Aduh, bagaimana dong? Saya mesti beli nih pulsa XL paket keluarga”, katanya yang saya ikut dengar dari menguping.

“ Ya, besok saja di urusnya, ya?” 

“ Yaaaa,” keluhnya sambil berlalu. Sengaja saya tidak menyebut nama. Khawatir. Siapa tahu kami berteman di FB dan IG serta Twitter, seperti ART kami yang kemarin siang mudik. Ikut pula nanti dia membaca sketsa ini.

Besok. Ya, itu berarti hari ini. Saya tidak begitu mengerti apakah betul ada paket XL yang dimaksud fungsinya sama dengan wifi yang bisa membuat mereka dapat  tersambung dengan dunia? Yang pasti, setting wifi di rumah perlu diurus lagi kalau mau menjangkau sampai wilayah kerja dan kamar tidur mereka.

Istri membawa persoalan itu sampai menjelang tidur semalam. Soal wifi. Bagaimana pula dengan ART infal di rumah anak-anaknya yang tadi dia juga uruskan.

Hari ini penentuannya. Tentu tiada daya kami seandainya kendala wifi itu membuat ART infal batal kerja di rumah.

Memang  repot menghadapi perubahan tren ART zaman now. Namun, di sisi lain,  saya berharap bakal terjadi perubahan besar di dalam bangsa kita. Semacam revolusi mental. Barangkali perkembangan pesat Indonesia  akan  terjadi  di masa depan dengan ART — sebagai representasi  lapisan masyarakat terbanyak — yang melek Informasi. Perduli keterhubungan  umat sedunia. Seperti yang menjadi doktrin Mark Zuckerberg pencipta Facebook. Media sosial terbesar di dunia. Kalau benar demikian, tidak perlu khawatir Indonesia bakal hilang dari peta dunia pada tahun 2030.


Subuh, 24 Ramadhan 1439 H