Midnight Sun di Norwegia

Category: Pengetahuan -> OPINI | Posted date: 2018-06-10 13:00:16 | Updated date: | Posted by: Asro Rokan


MASA PUASA RAMADAN sangat panjang di Oslo, Norwegia. Jadwal sholat yang dirilis situs IslamicFinder, Minggu (10/6/2018) hari ini, subuh masuk sekitar pukul 02.18, sedangkan saat berbuka Maghrib sekitar pukul 22.36. Umat Islam di Norwegia, berpuasa selama



Catatan Perjalanan Asro Kamal Rokan

Ceknricek.com - MASA PUASA RAMADAN sangat panjang di Oslo, Norwegia. Jadwal sholat yang dirilis situs IslamicFinder, Minggu (10/6/2018) hari ini, subuh masuk sekitar pukul 02.18, sedangkan saat berbuka Maghrib sekitar pukul 22.36. Umat Islam di Norwegia, berpuasa selama sekitar 21 jam. Jarak berbuka dengan sahur sekitar empat jam. Terkadang, mereka berbuka sekaligus sahur.

Fenomena ini disebut Matahari Tengah Malam (Midnight Sun), yang terjadi Mei hingga Agustus. Mei 2010 lalu saya di sana. Undangan makan malam, pukul 20.00 di saat matahari bersinar. Fenomena ini karena Norwegia berada di utara, berbatasan dengan Samudera Atlantik. Sedangkan di bagian barat, berbatasan dengan Swedia, Finlandia, dan Rusia. Jika musim dingin, sangat dingin dan bulan bersinar 24 jam, tanpa matahari.

Penduduk Norwegia saat ini sekitar 4,8 juta. Menurut Pew Research Center, Amerika Serikat, 2016, Islam agama kedua setelah Kristen, sekitar 5.7% (256 ribu jiwa), sebagian besar imigran keturunan Pakistan, Irak, Maroko, dan Bosnia. Jumlah ini diperkirakan terus meningkat, terutama semakin banyak kalangan muda memeluk Islam. Pew Research memprediksi, pada 2050 jumlah muslim mencapai 7,2 %.

Surat kabar Aftenposten, Juni 2015, dalam laporan utamanya menyebutkan, di Norwegia muncul kecenderungan meningkatnya mualaf dari kalangan muda dari 500 orang pada 1990-an, naik sekitar 3.000 orang pada 2015. Menurut Anne Sofie Roald, guru besar bidang keagamaan Norwegia, meski jumlahnya kecil dibanding populasi, namun memperlihatkan kecenderungan pertumbuhan pesat.

Roald, yang memeluk Islam 30 tahun lalu, menilai pemuda Norwegia jenuh terhadap pola hidup sangat bebas, mereka memilih Islam yang damai dan memiliki hukum yang jelas. Pendapat sama dikemukakan Olav Elgvin, peneliti dari University of Bergen. Menurutnya, Olav Elgvin, sebagian kecil pemuda-pemuda itu menjadi radikal, namun kebanyakan sangat moderat.

Morten Ibrahim Abrahamsen (23), mualaf asal Hamar, menyatakan setelah memeluk Islam, ia lebih tenang. Dalam Islam, menurutnya, hukum sangat jelas dan memberi kenyamanan, dibanding kehidupan serba bebas di Norwegia.

Kecenderungan lain, meningkatnya jumlah anak-anak yang menggunakan nama Muhammad. Data Biro Pusat Statistik (SSB) Norwegia yang diterbitkan koran Vart Land, 2014 lalu, menyebutkan nama Muhammad menjadi nama populer di Oslo. Menurut Jorgen Ouren, Juru Bicara SSB, sebanyak 4.801 anak lelaki bernama Muhammad atau variasi nama Muhammed, disusul nama Jan (4.667), dan Peter (4.155).

Pengaruh dalam Politik

Meningkatkan populasi Islam, berpengaruh pula ke dunia politik. Pada 21 September 2012, muslimah keturunan Pakistan, Hadia Tajik (29) diangkat menjadi Menteri Kebudayaan Norwegia. Tajik — asal Partai Buruh, ahli hukum, dan wartawan — muslim pertama menjadi menteri dan sekaligus menteri termuda dalam sejarah Norwegia.

Selain Tajik, tokoh Islam lain yang populer dalam politik Norwegia, adalah Abid Qayyum Raja (43) yang juga keturunan Pakistan. Raja politisi Partai Liberal, pada 2017 lalu untuk kedua kalinya dipilih sebagai wakil presiden Parlemen Norwegia. Pengacara ini Muslim pertama dalam sejarah Norwegia meraih jabatan tersebut.

Ada juga Zaineb Al-Samarai (31), politisi Partai Buruh, keturunan Irak ini, wakil deputi di Parlemen Norwegia periode 2017–2021. Al-Samarai adalah ahli hukum oleh pendidikan.

Tokoh lain yang juga keturuan Pakistan adalah Syed Yousuf Gilani. Media The Nations, 28 September 2015 lalu, melaporkan Syed Gilani adalah Muslim pertama terpilih sebagai wakil walikota Drammen, Norwegia. Gilani, 42, sebelumnya anggota parlemen dan Kepala Badan Layanan Kesejahteraan dan Administrasi Norwegia di distrik Askar, dekat Oslo.

Ketika Menteri Imigran Norwegia Sylvi Listhaug pada 20 Oktober 2016 di laman facebook-nya menganjurkan umat Islam harus makan babi dan minum alkohol untuk beradaptasi dengan budaya Norwegia, Zaineb al-Samarai dan Omar Syed Gilani, seorang kriminolog, beraksi keras.

Zaineb al-Samarai memprotes Menteri Listhaug, yang disebutnya sengaja menimbulkan perpecahan antara imigran Muslim Norwegia. “Seharusnya Listhaug menjadi jembatan mempersatu, bukan menakuti dan menjadi memecah warga,” ujar Samarai, seperti dikutip The Local.

Omar Syed Gilani, kriminolog yang bekerja mengintegrasikan para pengungsi, mendesak Listhaug mundur. Alasannya, sebagai menteri membidangi imigran Listhaug tidak memahami kompleksitas dan tidak memiliki keahlian menangani masalah sosial.

Menguatnya Islam di Norwegia dikuti Islamofobia bahkan kebencian. Acara televisi Anne-Kat menayangkan permainan yang menghina Islam, April 2013. Situs Norwegia dagen.com melaporkan, pembawa acara meminta lima remaja muslim mempertahankan jilbab atau mendapatkan tiket konser Justin Bieber. Acara ini dikecam komunitas muslim dan pihak gereja. Kepala penyiaran TV Norway, Svein Tore Bergestuen, akhirnya minta maaf.

Tragedi terburuk terjadi 22 Juli 2011. Anders Behring Breivik (32) yang mengaku anti-Islam dan anti-Marxisme, meledakkan bom mobil yang menewaskan delapan orang di Oslo, 22 Juli 2011. Setelah itu, Brevik — yang mengkampanyekan aksinya sebagai Perang Salib — menembak perkemahan remaja Liga Buruh. Sebanyak 69 remaja tewas di tempat. Pengadilan Oslo, 24 Agustus 2012, memvonis Brevik 21 tahun penjara.

Menjaga Harmonisasi

Tokoh-tokoh Islam Norwegia terus berupaya menjaga harmonisasi di tengah mayoritas Kristen dan pemerintah. Pada Maret 2017 lalu, tokoh-tokoh Islam bereaksi keras atas penunjukan Leyla Hasic sebagai juru bicara Dewan Islam Norwegia (Islamsk Råd Norge—IRN). Pasalnya, Hasic (32) mengenakan burka, yang hanya memperlihatkan matanya saja.

Anggota Parlemen Muslim, Abid Raja, menyebutkan penunjukan Hasic yang mengenakan burka, merusak kepercayaan diri umat Islam yang sedang membangun hubungan baik dengan masyarakat Norwegia. Pakaian burka menjadi perdebatan di Norwegia, namun jilbab diperbolehkan di depan umum.

Reaksi juga datang dari beberapa kelompok Muslim, yang mengeluarkan siaran pers bersama, memprotes IRN. Mereka menilai IRN telah merusak kepercayaan umat Islam.

IRN menaungi 38 organisasi Islam Norwegia dan mewakili total 65 ribu anggota perorangan. Pemerintah Norwegia mengeluarkan dana 165 ribu dolar AS per tahun untuk IRN sebagai jembatan harmonisasi hubungan umat Islam dengan pemerintah. Dana tersebut dibekukan karena kasus Hadic.

Dewan ini juga terancam bubar, selain karena kasus Hadic, juga konflik internal. Sebagian besar organisasi-organisasi Islam menarik diri, termasuk Persekutuan Islam Bosnia-Herzegovina dan Federasi Islam Norwegia. Mereka menilai IRN tidak lagi inklusif.

Perkembangan Islam cukup pesat di Norwegia. Banyak masjid didirikan. Salah satu yang terbesar adalah Masjid Islamic Cultural Centre  (ICC) Norway di Oslo. Berlokasi di Tøyenbekken 24, 0188 Oslo, masjid ini merupakan yang pertama dibangun di Norwegia, pada 1974.

Masjid berlantai empat ini selain untuk sholat, juga menyelenggarakan pendidikan Al-Quran dan memberi layanan publik. Pada 25 Mei 2009 lalu, Ratu Sonja Haraldsen — istri Raja Harald V —berkunjung ke masjid ini untuk meredakan kecurigaan terhadap umat Islam.

Meski Islamofobia cukup tinggi, namun Islam berkembang di negeri Midnight Sun ini: Matahari terus bersinar — bahkan ketika malam.