Profesor Asal Medan Dapat Penghargaan di Australia

Category: Pengetahuan -> PENGEMBANGAN & PENEMUAN | Posted date: 2018-06-12 21:37:05 | Updated date: | Posted by: Rihat Wiranto


Seorang profesor asal Indonesia yang sekarang bekerja di Universitas New South Wales, Prof Rose Amal mendapat bintang penghargaan dari pemerintah Australia bernama Companion of the Order of Australia (AC).



Ceknricek.com - Seorang profesor asal Indonesia yang sekarang bekerja di Universitas New South Wales, Prof Rose Amal mendapat bintang penghargaan dari pemerintah Australia bernama Companion of the Order of Australia (AC).

Penghargaan ini diberikan sebagai bagian dari tradisi memperingati ulang tahun Ratu Elizabeth yang masih secara resmi menjadi kepala negara Australia yang diumumkan hari Senin (11/6/2018).

Setiap tahun di bulan Juni, untuk memperingati ulang tahun tersebut, pemerintah Australia mengeluarkan daftar mereka yang dianggap berjasa di bidang masing-masing untuk mendapatkan bintang kehormatan.

Companion of the Order Australia adalah penghargaan yang tertinggi yang bisa diberikan kepada warga Australia dan setiap tahunnya hanya diberikan kepada 35 orang.

Sebelumya penghargaan tertinggi adalah Knight dan Dame of the Order of Australia, dimana mereka yang mendapatkanya boleh menyandang gelar Sir or Dame namun penghargaan itu sekarang dihentikan, sehingga AC menjadi penghargaan tertinggi.

Seperti dikutip dari ABC News, Prof Rose Amal yang lahir di Medan dan pindah ke Sydney 35 tahun lalu mendapatkan penghargaan AC itu karena jasanya di bidang teknik kimia khususnya di bidang teknologi partikel.

Selain itu, ibu dari dua anak ini juga diberi penghargaan atas perannya sebagai role model dan mentor bagi perempuan di dunia sains.

"Saya sangat sangat merasa bangga atas penghargaan ini." kata Amal.

"Saya bisa mengatakan ketika saya pindah ke sini 35 tahun lalu sebagai mahasiswa, saya tidak pernah berpikir - tidak pernah bermimpi - bahwa saya akan mendapat penghargaan di Australia."

"Saya kira ini adalah tanah yang memberi kesempatan kepada banyak diantara kita."

"Ini adalah penghargaan tidak saja bagi saya, namun bagi semua insinyur teknik kimia, penghargaan bahwa kami membuat perbedaan, kami membuat dunia yang lebih baik untuk kita tinggali."

Produksi Hidrogen

Bidang yang digeluti Prof Rose Amal adalah photocatalysis dan nanoteknologi dalam usahanya menggunakan energi terbarukan seperti matahari untuk memproduksi hidrogen.

"Sederhananya menggunakan matahari untuk memecah air untuk membuat hidgrogen."

"Photocatalysis katalis mengubah energi matahari menjadi energi kimia," jelas Rose, "Saat saya memulai kerja saya dalam bidang photocatalysis, saya meneliti tentang bagaimana kita bisa menggunakan cahaya matahari untuk menguraikan polutan di air atau bahan organik di udara."

Contoh-contoh polutan atau organik di udara, misalnya parfum dan bahan pembersih yang bisa terhirup.

"Reaksi kimia sudah banyak digunakan di industri, untuk membersihkan air. Biasanya bahan kimia digunakan untuk menghancurkan polutan di air, jadi pada dasarnya penelitian saya mencari tahu apakah kita bisa memanfaatkan matahari untuk proses ini, karena di Australia banyak sinar matahari," jelas Rose.

Dalam proses pembersihan air, Rose sedang meneliti cara untuk menjadikan titanium dioksida memiliki sifat seperti magnet, agar bisa dipisahkan dengan mudah dari air dengan menggunakan medan magnet.

Namun, menurutnya, proses pemurnian air dengan photocatalysis mungkin terlalu mahal untuk diterapkan dalam skala besar dan untuk kebutuhan sehari-hari.

Tertarik Ilmu Kimia

Setelah menamatkan pendidikan di SMA Santo Thomas di Medan, Rose Amal pindah ke Australia di bulan Oktober 1983 untuk melanjutkan pendidikan S1 di jurusan teknik kimia University of New South Wales di Sydney.

Menurutnya, dia sejak SMA sudah tertarik dengan ilmu kimia, fisika dan matematika walau orang tuanya sempat menyarankannya menjadi dokter, namun ia tak terlalu menyukai biologi.

Ia memilih Australia sebagai tempat melanjutkan pendidikannya. Rose sempat juga mempertimbangkan Amerika Serikat dan Kanada, namun ia merasa Australia lebih cocok karena dekat dengan Indonesia.

Setelah merampungkan gelar S1, Rose ditawari beasiswa untuk meraih gelar PhD (Doktor). Meski saat itu ia ditawari pekerjaan di Singapura, namun Rose memilih melanjutkan pendidikannya.

Kemudian, ia bekerja di badan Australian Nuclear Science Technology Organization (ANSTO) selama sekitar 18 bulan, sebelum akhirnya melamar untuk posisi akademik di fakultas teknik kimia UNSW pada tahun 1992, dan diterima.