Bedug Membanjiri Jakarta

Category: Berita -> SOSIAL BUDAYA | Posted date: 2018-06-13 15:44:25 | Updated date: | Posted by: Rihat Wiranto


Ceknricek.com - Bedug biasa kita temui di masjid-masjid.  Sejak ribuan tahun lalu, bedug memiliki fungsi sebagai alat komunikasi tradisional, baik dalam kegiatan ritual keagamaan maupun politik.



Ceknricek.com - Bedug biasa kita temui di masjid-masjid.  Sejak ribuan tahun lalu, bedug memiliki fungsi sebagai alat komunikasi tradisional, baik dalam kegiatan ritual keagamaan maupun politik. Di Indonesia, sebuah bedug biasa dibunyikan untuk pemberitahuan mengenai waktu salat atau sembahyang. Meski demikian, belakangan bedug mulai berkurang perannya karena dikalahkan oleh pengeras suara.

Pada bulan Ramadan, penjual bedug banyak ditemui di berbagai sudut kota, termasuk di Jakarta. Mereka berjualan di Tanah Abang, bahkan kawasan jalan Thamrin. Penjual bedug sudah bersiap-siap sejak sebulan sebelum lebaran. “Pembuatan bedug biasanya dilakukan satu hingga dua bulan sebelum lebaran. Kami membuatnya di Bogor, lalu didistribusikan ke daerah Thamrin dan sekitaran Tanah Abang,” kata Fikri, penjual bedug yang ditemui Ceknricek.com di kawasan Thamrin. Biasanya, dagangan akan habis terjual setelah takbiran. Ia menjual bedug  dengan harga dari ratusan rupiah sampai Rp 1 juta.

Untuk meramaikan lebaran, DKI Jakarta juga mengadakan "Festival Bedug Lebaran dan Gema Takbir Tahun 2018". Peserta bedug Lebaran dan gema takbir diikuti dari enam wilayah di Jakarta.  Pembukaan acara ditandai dengan pemukulan bedug oleh Wagub Sandiaga Uno yang didampingi oleh drumer kawakan Jelly Tobing. Dan rencananya akan menjadi even ini menjadi even internasional dengan mengajak peserta bedug dari luar negeri.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyerahkan langsung hadiah untuk para pemenang Festival Bedug Lebaran yang diselenggarakan di Balai Kota Jakarta, Jumat (1/6/2018).

M Dwi Cahyono, arkeolog dari Universitas Negeri Malang menyatakan dalam sebuah kidung ditulis pada zaman Mahapahit, dari kurun waktu abad ke 14-16 Masehi menyebut keberadaan bedug Dalam Kidung Malat dijelaskan, instrumen musik bedug dibedakan antara bedug besar yang diberi nama teg-teg dengan bedug ukuran biasa.Bedug pada masa itu berfungsi sebagai alat komunikasi dan penanda waktu seperti perang, bencana alam, atau hal mendesak lainnya.

Cornelis De Houtman dalam catatan perjalanannya D’eerste Boek menjadi saksi keberadaan bedug yang sudah meluas pada abad ke-16. Ketika komandan ekspedisi Belanda itu tiba di Banten, ia menggambarkan di setiap perempatan jalan terdapat genderang yang digantung dan dibunyikan memakai tongkat pemukul yang ditempatkan di sebelahnya. Fungsinya sebagai tanda bahaya dan penanda waktu. Kesaksian ini jelas menunjuk pada bedug.