Nikmati Daging Buaya Yang Dipanggang 9 Jam

Category: Berita -> SOSIAL BUDAYA | Posted date: 2018-06-15 18:03:08 | Updated date: | Posted by: Rihat Wiranto


Ikan bakar, ayam bakar, atau daging bakar sudah biasa. Jika Anda ingin hidangan unik, cobalah barbekyu buaya. Itulah menu sajian Justin Whitrow di Mindil Beach Sunset Markets



Ceknericek.com - Ikan bakar, ayam bakar, atau daging bakar sudah biasa. Jika Anda ingin hidangan unik, cobalah barbekyu buaya.

Itulah menu  sajian Justin Whitrow di Mindil Beach Sunset Markets. Buaya yang dimasak lama disajikan dalam taco. Withrow menganggap waktu memasak delapan hingga sembilan jam membawa rasa baru pada daging.

"Ini jadi lumayan berbeda. Banyak orang yang menyebutnya sejenis ayam yang dibumbui," kata Whitrow.

Sebelum dipanggang, buaya dikuliti tetapi tetap memiliki kepala, masing-masing sekitar 1,5 meter hingga 1,8 meter panjangnya . "Itu ukuran paling manis," kata Whitrow.

Justin Whitrow di depan barbekyu yang memanggang buaya. (ABC News: Terry McDonald)

Whitrow mengatakan ia telah melihat perlakuan serupa dengan buaya di Amerika, tetapi berharap buaya panggang bisa menjadi dikenal sebagai hidangan "benar-benar unik" untuk Kawasan Australia Utara.

Dia mengatakan itu adalah daging yang berkelanjutan, karena buaya kebanyakan dibesarkan untuk kulit mereka.

Sesuai data, industri buaya memiliki nilai  $ 106.7 juta untuk Kawasan Australia Utara pada 2014-2015.

"Ini adalah industri yang sangat berkelanjutan.  Di sini. industri buaya tidak banyak menjual daging tapi  berorientasi pada bisnis kulit," katanya.

"Kami benar-benar merasa bahwa itu adalah produk daging berkelanjutan yang harus lebih banyak digunakan."

Namun di masa depan, Whitrow mengatakan ia mungkin merambah ke cita rasa Wilayah Utara Australia lainnya, termasuk kerbau.

Industri Buaya

Pada 2017, industri budidaya buaya di Northern Territory (NT) atau Australia Utara bernilai lebih dari $100 juta atau setara Rp1 triliun lebih.

Laporan Ernst and Young, menyatakan  keseluruhan pariwisata dan ritel terkait peternakan, pengumpulan telur di komunitas terpencil, dan layanan kehewanan sepanjang tahun 2014-2015 adalah sebesar $106,7 juta (atau setara Rp 1, 06 triliun).

Diperkirakan sebelumnya nilai tersebut hanya sebesar $25 juta atau setara Rp266 miliar per tahun.