Tradisi Masyarakat Jawa Sambut Lebaran Ketupat

Category: Berita -> SOSIAL BUDAYA | Posted date: 2018-06-19 09:29:25 | Updated date: | Posted by: Ulupi Dwip


Ceknricek.com – Idul Fitri sudah sudah usai bagi kebanyakan orang. Namun, tradisi masyarakat Jawa, pada umumnya ada dua kali pelaksanaan lebaran yakni Idul Fitri dan Lebaran Ketupat.



Ceknricek.com – Idul Fitri sudah sudah usai bagi kebanyakan orang. Namun, tradisi masyarakat Jawa, pada umumnya ada dua kali pelaksanaan lebaran yakni Idul Fitri dan Lebaran Ketupat.

Idul Fitri sendiri tepat dilaksanakan pada tanggal 1 Syawal, sedangakan Lebaran Ketupat  dirayakan sepekan sesudahnya atau 8 Syawal. Tradisi lebaran ketupat diselenggarakan pada hari ke delapan bulan Syawal setelah menyelesaikan puasa Syawal selama enam hari. Puasa ini  dilakukan berdasarkan sunnah Nabi Muhammad SWA yang menganjurkan umat Islam untuk berpuasa sunnah enam hari di awal bulan Syawal.

Sejarahnya, lebaran ketupat sendiri pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga. Saat itu Sunan Kalijaga memperkenalkan istilah Bakda kepada masyarakat Jawa, Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Lebaran dipahami dengan prosesi pelaksanaan shalat Ied satu Syawal hingga tradisi saling kunjung dan memaafkan sesama muslim atau bersilahturahmi. Sedangkan Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah lebaran atau tepat 8 Syawal. Pada hari tersebut, masyarakat muslim Jawa umumnya membuat ketupat, yaitu jenis makanan yang terbuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa setelah itu dimasak. Lalu, ketupat dibagikan kepada mereka yang lebih tua, sebagai simbol kebersamaan dan lambang kasih sayang.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, terdapat berbagai macam bentuk ketupat yang dimiliki tiap – tiap daerah. Berikut aneka macam bentuk ketupat yang dibuat oleh masyarakat Jawa

Ketupat Bawang (Madura)

Berbentuk persegi empat dan dianggap sebagai bentuk ketupat sedap, dengan  bumbu masak berupa bawang.

Ketupat Glabed (Tegal)

Ketupat glabed adalah ketupat yang dimakan dengan kuah berwarna kuning kental, glabed sendiri diambil dari ucapan orang Tegal yang mengekspresikan kekentalan kuah ketupat tersebut dengan istilah glabed – glabed!

Ketupa Bebanci (Betawi)

Ketupat ini disantap dengan kuah santan berisi daging sapi dan diberi aneka bumbu seperti kemiri, bawang merah, bawang putih, cabai, dan aneka rempah – rempah.

Indonesia memang unik, memiliki banyak tradisi yang penuh dengan filosofi yang mendalam dan bersifat baik. Memang kurang rasanya jika berlebaran tanpa santapan ketupat, demikian kiranya masyarakat Jawa memaknai Idul Fitri. Semoga tradisi yang sudah lama terjaga ini tetap dilestarikan dan bisa menjadi budaya ke-Islaman yang tidak punah dari tanah Jawa.