Mahathir Setuju Kasus Pembunuhan Sadis Altantuya Dibuka Lagi

Category: Berita -> POLITIK & HUKUM | Posted date: 2018-06-20 21:06:33 | Updated date: | Posted by: Asro Rokan


Kasus pembunuhan sadis dan sangat menghebohkan di Malaysia, memasuki babak lanjutan. Perdana Menteri Malaysia, Dr Mahathir Mohammad dalam pertemuan dengan ayah Altantuya Shaariibuu, model asal Mongolia, yang dibunuh, setuju penyidikan kasis ini dilanjutka



Ceknricek.com - Kasus pembunuhan sadis dan sangat menghebohkan di Malaysia, memasuki babak lanjutan. Perdana Menteri Malaysia, Dr Mahathir Mohammad dalam pertemuan dengan ayah Altantuya Shaariibuu, model asal Mongolia, yang dibunuh, setuju penyidikan kasis ini dilanjutkan.

Pengacara Ramkarpal Singh mengatakan ini setelah ayah Altantuya, Dr Setev Shaariibuu bertemu Mahathir di Kantor Perdana Menteri, Putrajaya Rabu (20/6). "Tun Mahathir setuju bahwa penyelidikan harus dilakukan atas kasus ini, selama itu sah menurut hukum," katanya seperti dikutip situs berita Malaysiakini.

Setev tiba di Putrajaya sekitar pukul 16.20 sore dan meninggalkan Kantor Perdana Menteri sekitar pukul 18.00. Ramkarpal mengatakan ada pihak lain yang terlibat dalam kasus pembunuhan Altantuya terutama mereka yang mengarahkannya. "Siapa yang memerintahkan pembunuhan ini dibawa ke pengadilan," katanya.

Sebelum bertemu Mahathir, Ramkarpal dan Setev membuat laporan polisi di Markas Besar Polisi Distrik Dang Wangi untuk penyelidikan baru atas kasus ini. Dalam laporan polisi, Setev menyebut Musa Safri, yang diduga kuat terlibat dalam pembuuhan sadis ini.

Musa adalah asisten mantan Perdana Menteri Najib Razak. Dia atasan Azilah Hadri dan Sirul Azhar Umar, yang dihukum mati karena membunuh Altantuya. Selama sidang pengadilan, Musa tidak pernah dipanggil untuk bersaksi.

"Saya percaya kalau bukan karena Musa, Azilah dan Sirul tidak akan datang ke rumah Razak hari itu (19 Oktober 2006) dan anak saya mungkin masih hidup hari ini," kata Setev dalam laporan polisnya.

Menurut Setev, Musa adalah saksi penting dalam penyelidikan untuk mengetahui pihak mana yang memerintahkan pembunuhan Altantuya karena Azilah dan Sirul tidak mengenal putranya sebelum pembunuhan.

Altantuya, 28, ditembak mati dan tubuhnya diledakkan dengan menggunakan bahan peledak militer, C-4, di Kuala Lumpur, Oktober 2006.

Pada 2009, Azilah Hadri dan Sirul Azhar Umar — keduanya polisi pengawal peribadi Datuk Seri Najib Razak — dihukum mati karena pembunuhan tersebut. Namun mereka dibebaskan setelah pengadilan banding menolak keputusan hakim Pengadilan Tinggi pada tahun 2013.

Tiga tahun kemudian, Pengadilan federal mempertahankan hukuman mati terhadap mereka. Sirul melarikan diri ke Australia sementara Azhar sekarang menunggu hukuman.

Pada Mei 2018 lalu, Sirul Azhar Umar yang berada dalam tahanan imigrasi di Australia, berencana pulang ke Malaysia untuk membeberkan pelaku sesungguhnya kasus pembunuhan kejam tersebut, dengan syarat dia diberikan pengampunan penuh. Namun, Sirul membatalkan rencana tersebut. Kepada The Guardian, Sirul mengatakan nyawanya terancam jika dia pulanng ke Malaysia. “Mereka akan membunuh saya,” ujarnya.

Altantuya Shaariibuu dilahirkan Ulan Bator, Mongolia dan dibesarkan di St Petersburg, Rusia. Dia dikenal sebagai pelobi bisnis, penterjemah, dan menguasai bahasa Inggris, Cina, dan Rusia. Selain sebagai model, Altantuya Shariibuu, yang berparas cantik, juga guru pascasarjana.