Erdogan  Mendapat Lawan Berat dari Mantan Guru

Category: Berita -> INTERNASIONAL | Posted date: 2018-06-24 13:44:54 | Updated date: | Posted by: Rihat Wiranto


Ceknricek.com - Rakyat  Turki sedang melaksanakan jajak pendapat, Minggu (24/6) untuk  memutuskan apakah memberi Presiden Recep Tayyip Erdogan masa jabatan lima tahun kedua atau tidak.



Ceknricek.com - Rakyat  Turki sedang melaksanakan jajak pendapat, Minggu (24/6) untuk  memutuskan apakah memberi Presiden Recep Tayyip Erdogan masa jabatan lima tahun kedua atau tidak.

Jika Erdogan menang, ia akan mengadopsi kekuatan besar baru yang dikatakan para kritikus akan melemahkan pemerintahan demokratis.

Tapi dia menghadapi tantangan besar dari kandidat tengah kiri Muharrem Ince dari Partai Rakyat Republik (CHP).

Turki tetap dalam keadaan darurat yang diberlakukan setelah kudeta yang gagal pada Juli 2016. Pemilihan ini semula dijadwalkan untuk November 2019 tetapi diajukan oleh Erdogan.

Ince, berjanji mengganti yang ia cirikan sebagai pemerintahan otoriter di bawah Erdogan. "Jika Erdogan menang, ketakutan akan terus berkuasa," katanya kepada setidaknya satu juta orang yang berkumpul di Istanbul.

Ince juga mengatakan bahwa jika terpilih, dia akan mencabut keadaan darurat Turki dalam waktu 48 jam.

Presiden Erdogan - perdana menteri selama 11 tahun sebelum menjadi presiden pada tahun 2014, menuduh Ince - mantan guru dan anggota parlemen 16 tahun - kurang memiliki keterampilan untuk memimpin.

“Ini adalah satu hal untuk menjadi guru fisika, tapi itu adalah hal lain untuk menjalankan sebuah negara," kata Erdogan. "Menjadi presiden membutuhkan pengalaman."

Presiden Erdogan mengatakan kepada pendukungnya bahwa dia berencana untuk mendorong lebih banyak proyek infrastruktur besar untuk meningkatkan ekonomi.

Sekitar 60 juta warga Turki memenuhi syarat untuk ambil bagian.

Enam kandidat bersaing memperebutkan kursi kepresidenan, dan jika salah satu dari mereka memenangkan lebih dari 50% suara, mereka akan dipilih secara langsung.

Jika tidak ada yang mencapai ambang itu, dua teratas akan berhadapan pada pemilihan putaran kedua pada 8 Juli.

Aspek Islam

Praktik atau ritual agama di Turki tidak seramai di Indonesia. Tapi aspek agama Islam sangat berpengaruh dalam pemuda.

Di Turki, pengaruh dari Barat, sekularisme, gabungan dengan Islam moderat, 99% mayoritas itu tidak juga terasa ritualismenya di situ," kata Fahmi Aris Innayah, Kabid politik di Kedutaan Besar RI di Ankara, dikutip BBC.

“Agenda Islam bagi dukungan politik Turki itu memang cukup signifikan, kalau dari sisi peran Turki yang ingin bertindak sebagai pemimpin atau leader untuk negara-negara Islam. Memang kenyataannya saat ini dalam kepresidenan OKI, Turki sangat aktif untuk membela kepentingan Islam di seluruh dunia," Fahmi melanjutnya lebih jauh.

Jumlah Muslim di Turki adalah sekitar 90% dari keseluruhan populasi lebih dari 80 juta jiwa dan di negara itu terdapat lebih dari 80.000 masjid.

Turki mempercepat pemilunya menjnadi tanggal 24 Juni, bukannya seperti dijadwalkan sebelumnya pada bulan November 2019. Presiden Erdogan menyebut pemilu perlu dipercepat karena meningkatnya tantangan di kawasan dan dalam negeri sendiri.

Di antara faktor eksternal yang disebut adalah perang di negara tetangga, Suriah. Sedangkan masalah dalam negeri sendiri adalah persoalan depresiasi mata uang lira terhadap dolar Amerika. Mata uang lira sempat jatuh dari tingkat 1,9 menjadi 4 per satu dolar Amerika.

Berbagai masalah dalam negeri ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi  Erdogan untuk bertahan di kursi Presiden.