82 Tahun Pak Habibie, Negarawan yang Dirindukan

Category: Berita -> POLITIK & HUKUM | Posted date: 2018-06-25 14:40:54 | Updated date: | Posted by: Asro Rokan


BERBEDA dengan Lebaran tahun sebelumnya, 1 Syawal 1439 H ini pengawal presiden tidak keberatan tamu-tamu berfoto dengan Pak BJ Habibie. Dengan ramah pula, Pak BJ Habibie menyambut tamu-tamunya. Terhadap tamu yang dikenalnya, Pak Habibie membentangkan tang



Ceknricek.com - BERBEDA dengan Lebaran tahun sebelumnya, 1 Syawal 1439 H ini pengawal presiden tidak keberatan tamu-tamu berfoto dengan Pak BJ Habibie. Dengan ramah pula, Pak BJ Habibie menyambut tamu-tamunya. Terhadap tamu yang dikenalnya, Pak Habibie membentangkan tangannya, memeluk dengan hangat, dan menanyakan kabar.

Saya memeluknya sambil mengatakan,” Saya senang melihat Bapak sehat, semoga Allah senantiasa memberi kesehatan dan melindungi Bapak.”

Setiap Lebaran pertama, Pak Habibie membuka pintu rumahnya lebar-lebar untuk dikunjungi berbagai kalangan. Orang-orang antre, pejabat, diplomat, hingga masyarakat biasa yang mengenakan sendal. Pak Habibie seperti ayah menerima kunjungan anak-anaknya, menyambut dengan hangat, meski fisiknya terlihat lebih kurus.

Hari ini, genap 82 tahun usia Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie. Dilahirkan di Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936, Presiden ketiga Indonesia ini paling banyak dibicarakan karena keahlian, prestasi, kesetiaan, dan keteladanannya.

Dalam usia sepuh dan baru sembuh dari sakit jantung, Pak Habibie tetap energik. Mei 2018 lalu, saat refleksi Reformasi, Pak Hebibie berpidato hampir dua jam berdiri. Penuh semangat, sampai panitia memberikan catatan waktunya telah habis. Ia guru bagi semua murid, mata air yang terus mengalir.

Tertendang ke Politik

Di Le Bourget, Paris, 1989, Pak Habibie menjadi bintang di Paris Air Show. Wartawan internasional berebut tempat duduk meliput Pak Habibie. Ruangan penuh sesak. Mereka bertanya tentang rencana IPTN mengembangkan N-250, yang prototype-nya dipamerkan. Saat itu, terlintas dalam pikiran saya: di sini Pak Habibie sangat dihormati, di negaranya sendiri dicibir dan dianggap sebagai pemboros.

Di kalangan ilmuwan internasional, Pak Habibie sangat dikenal. Ia dijuluki Mr Crack. Pak Habibie menemukan rumus menghitung penyebab keretakan (crack) bodi pesawat, terutama sayap — yang sebelumnya misterius dan menyebabkan pesawat jatuh. Temuan ini disebut Factor of Habibie, Prediction of Habibie, Method of Habibie, yang kini menjadi pelajaran wajib ilmu dirgantara dan buku pegangan prinsip-prinsip ilmu desain pesawat terbang standar NATO.

Masa terus berlalu. Ketika menjabat wakil ketua dewan Pembina Golkar dan ketua Umum ICMI, serangan pada Pak Habibie bertubi-tubi. Pembangunan industri pesawat, industri kapal, dinilai pemborosan. Pak Habibie dijuluki pula partisan dengan mendirikan ICMI.

“Saya tidak paham politik, saya tertendang-tendang di politik,” kata Pak Habibie, saat Menristek/Ketua BPPT, pada saya pada 1987 di ruang kerjanya dengan meja penuh replika pesawat.

Pak Habibie ahli teknologi, terbiasa dengan hitungan dan kemungkinan, bukan ahli politik. Tujuan utamanya adalah mengangkat martabat dan kemajuan bangsa ini melalui teknologi. Keunggulan satu negara ditentukan oleh penguasaan teknologi dan sumber daya manusia, bukan pada sumber daya alam. Itulah yang mendorongnya melahirkan GBHN — yang berorientasi teknologi dan SDA. Dan, karena itu tidak ada pilihan, politik sebagai jalan mewujudkan cita-cita tersebut, seperti Kaisar Meiji melakukan Restorasi.

Perubahan orientasi dari sumber saya alam ke sumber daya manusia itu, tidak disambut baik. Pak Habibie dikecam bahkan tidak disukai. Ketika reformasi, Pak Habibie sebagai wakil presiden naik menjadi presiden. Usia jabatannya tidak lama, hanya 1 tahun 5 bulan.

Kalangan politik terus menggoyangnya dengan berbagai cara. Dalam usia jabatan yang pendek itu, Pak Habibie justru berhasil melahirkan banyak undang -undang, di antaraya kekebebasan pers, pembatasan masa jabatan presiden, hak bersuara dan berserikat, UU Anti Monopoli, UU Partai Politik, dan mencabut larangan serikat buruh. Pak Habibie juga berhasil mengangkat kembali rupiah yang jatuh dari Rp 16.000 menjadi Rp 6.500.

Namun, kebebasan pers dan demokrasi yang diperjungkannya itu pula yang menyebabkan Pak BJH menjadi presiden dengan masa tugas terpendek, dari yang seharusnya empat tahun sisa periode Pak Harto.

Pertarungan politik di dalam Golkar, tekanan pers yang mengkaitkannya dengan Orde Baru, dan lepasnya Timor Timur — kerikil dalam sepatu hubungan internasional — menyebabkan pertanggungjawaban Pak BJH kalah dengan selisih 33 suara. Politisi di MPR, lebih suka mencari sisi lemah daripada keunggulan.

Selasa (19/10/1999) malam, pidato pertanggungjawaban BJH ditolak MPR. Ketika Ketua MPR Amien Rais mengumumkan hasil voting, para pemenang — termasuk anggota Golkar, partai yang ikut dibesarkannya dan resmi mencalonkannya — bertepuk tangan. Mereka girang. Bahkan ada yang berteriak, ''Hidup Megawati ...!''

Ketika itu pula, setiap Pak BJH masuk ke ruang sidang paripurna, seperti dikomando, anggota MPR/DPR tidak berkenan berdiri sebagai penghormatan, sebagaimana biasanya. Bahkan, ketika Pak BJH berpidato, tanpa etika mereka berteriak “huuu.. huuuu..”

Dini hari, setelah pertanggungjawaban ditolak, beberapa tokoh menemui Pak BJH di rumahnya. Meminta Pak BJH mencalonkan diri sebagai Presiden 1999-2004. Pak BJH menolak. Sikapnya ini kemudian disampaikannya melalui jumpa pers, pagi hari Rabu (20/10).

Dengan raut tenang dan senyumm Pak BJH berkata,” “Wakil-wakil rakyat telah menyimpulkan, saya tidak mampu melaksanakan tugas yang diberikan. Sehubungan dengan itu, saya Bacharuddin Jusuf Habibie menyatakan bahwa saya tidak menyanggupi menerima pencalonan saya sebagai presiden masa bakti 1999-2004. “

Suasana di ruang belakang rumah Pak BJH, Patra Kuningan, mendadak sunyi.

Setelah upacara resmi pelantikan Abdurrahman Wahid dan Megawati sebagai presiden dan wakil presiden, Pak Habibie dan Ibu Ainun turun. Keluar  lewat  pintu lift gedung Nusantara V. Saya salami dan menyampaikan perasaan hati saya. Pak BJH justru tenang. ''Gus Dur dan Megawati dipilih secara demokratis. Dukunglah mereka, saya percaya mereka akan membawa kemajuan bangsa ini,'' katanya singkat. Saya peluk Pak BJH. Air bening merebak di mata saya.

Pak Habibie memancang tonggak berdemokrasi dengan sikap elegan. Menunjukkan sikap kenegarawan yang elegan. Mungkin sikap itu lahir dari pengalaman melahirkan ribuan tenaga ahli, yang dididik di sekolah-sekolah terkemuka dunia, yang kini lebih dihargai dan dibayar mahal di Eropa, Amerika, dan Asia. Mereka mencari hidup di negara-negara itu — negara yang menempatkan teknologi sebagai jalan ke masa depan. Di sini, di negara ini, ketika politisi lebih dibutuhkan, maka para ahli  dianggap sebagai pemimpi, orang-orang yang tidak berpijak di bumi.

Pak BJH — yang hari ini berusia 82 tahun— telah memberi keteladanan dan contoh keikhlasan. Di saat seperti sekarang ini, para elite lebih memikirkan kekuasaan daripada harga diri bangsa dan kesejahteraan rakyat. Dengan keadaan itu wajar jika Pak Habibie akan terus dihormati dan dirindukan.

Selamat ulang tahun Pak Habibie. Berkah di usia yang baru. Sehat selalu. Kami pasti merindukan selalu.