Menyaksikan Perkembangan Batik Jakarta yang Makin Modern

Category: Berita -> SOSIAL BUDAYA | Posted date: 2018-06-27 06:50:00 | Updated date: | Posted by: Ulupi Dwip


Batik Betawi ternyata bisa mengikuti tren fashion kekinian sehingga tetap terlihat stylish.



Ceknricek.com - MENJADI warisan budaya, batik semakin berkembang seiring perkembangan zaman. Dulu batik sering dianggap sebagai pakaian yang membuat penampilan terlihat kuno. Tapi kini batik bisa mengikuti tren fashion kekinian sehingga tetap terlihat stylish.

Masyarakat yang tinggal di Batavia pada tahun 1883, menjadikan batik sebagai bagian dari busana mereka. Untuk pakaian sehari-hari misalnya, perempuan Eropa mengenakan sarung batik, sedangkan laki – laki mengenakan pantolan batik. Hal ini mengacu pada UU tahun 1872 yang mengatakan bahwasannya setiap orang yang tinggal di Hindia Belanda harus memakai busana sesuai dengan kelompok etnisnya.

(Foto: Faisal Hidayat)

Batik telah dibuat di Jakarta (Batavia) sejak abad ke 18. Batik-batik yang diproduksi lebih bersifat komersial, dan mengutamakan produksi yang cepat melalui prosedur yang sederhana. Batik cap lah yang diproduksi pada masa tersebut. Usaha pembatikan pada umumnya dilakukan oleh orang Tionghoa yang berdomisili di Batavia.

Ceknricek.com bekesempatan berbincang dengan Sri Sintasari Iskandar (Neneng) selaku kurator Museum Tekstil, “Pameran ini dibuat untuk memperingati ulang tahun Museum Tekstil yang ke – 42 sekaligus memamerkan karya – karya batik tulis maupun cap dari Komunitas Batik Jakarta.”

(Foto: Faisal Hidayat)

Perkembangan batik Jakarta kini, semakin modern. Hal ini dilihat dari warnanya yang semakin berani serta punya ciri khas Jakarta yang unik. “Dalam motif batik  Jakarta, terdapat seni Betawi yang diaplikasikan. Seperti, gambang kromong, ondel – ondel, jembatan semanggi, monas, elang pondoh, dan bunga anggrek. Betawi punya motif yang cukup banyak,” ujar Neneng.

Selain itu, perkembangan  batik Jakarta dari sisi bahan pembuatan, memiliki perbedaan yang cukup unik dari yang terdahulu. Misalnya, dari bahan pewarnaan untuk zaman sekarang ini memakai pewarna yang berasal dari alam. Serta warna batik  Jakarta zaman dahulu masih belum se – mencolok seperti sekarang ini.

(Foto: Faisal Hidayat)

Dalam pamerannya Museum Tekstil bekerja sama dengan 15 kolektor batik, serta 5 komunitas batik Jakarta dan para designer. Salah satunya Benny Gratha sang kolektor kain batik.  Ia menyumbang 7 koleksi kain batik dengan berbagai motif flora, fauna, budaya dan kesenian

Pameran bertajuk  perkembangan  batik Di Jakarta ini, diadakan mulai 26 Juni 2018 sampai 6 Juli 2018 di Museum Tekstil Jakarta yang terletak di Jakarta Barat. Dengan berbagai kegiatan seperti fashion show, bazar, talkshow oleh Dr. Harry Darsono PhD, lomba mendesign batik, dan lain – lain.

Jadikanlah museum sebagai tempat baru untuk dikunjungi di kala senggang. Karena bukan hanya memanjakan mata tapi kita bisa menambah wawasan mengenai keragaman yang ada di Indonesia salah satunya adalah batik.