Galeri Nasional : 57 x 76 Hanafi – Goenawan Mohamad, Seni Kolaborasi Tanpa Komunikasi

Category: Berita -> SOSIAL BUDAYA | Posted date: 2018-06-29 11:00:21 | Updated date: | Posted by: Ulupi Dwip


Jika Anda ingin “me time” dengan suasana artsy, atau sekedar ingin menikmati dan memahami seni. Datanglah ke Galeri Nasional, museum yang satu ini sangat jauh dari suasana membosankan. Setiap tahunnya Galeri Nasional mengadakan pameran dengan tema dan sen




Ceknricek.com – Jika Anda ingin “me time” dengan suasana artsy, atau sekadar ingin menikmati dan memahami seni, datanglah ke Galeri Nasional, museum yang satu ini sangat jauh dari suasana membosankan. Setiap tahunnya, Galeri Nasional mengadakan pameran dengan tema dan seniman yang berbeda-beda.

Kali ini, seniman Hanafi dan Goenawan Mohamad berkolaborasi dalam pamerannya yang bertajuk “57 X 76” dimana sebuah kolaborasi yang hangat, terbuka, tidak tergesa, penuh canda dan sekaligus sulit diakhiri.

Untuk "57 X 76", Hanafi dan Goenawan Mohamad (GM) sepakat berkarya dengan sebuah prosedur khusus. Hanafi memulai dengan kanvas atau kertas yang telah dilukis, lalu memberikannya kepada GM untuk diteruskan. Demikian pula sebaliknya, GM harus menyerahkan kertas atau kanvas yang sudah ia lukis untuk Hanafi respons. Sejak November 2016, kesepakatan tersebut menghasilkan lebih dari dua ratus lukisan dan gambar. Sebagian karya dalam proyek mereka diselesaikan di studio masing-masing , tanpa tatap muka satu sama lain.

Ceknricek.com berhasil berbincang dengan sang seniman GM. “Dalam kolaborasi ini, kami tak banyak bicara satu sama lain. Hanafi, tanpa pesan, tanpa kata-kata, tanpa mengobrol,  akan mengirimkan karya-karyanya kepada saya. Saya kira  hasil kreasi itu tidak akan jadi buruk jika saya menambahkan garis, warna dan bentuk yang saya buat. Tidak ada diskusi tentang konsep. Inilah sebuah dialog intuitif berlangsung” ujarnya.

Lukisan-lukisan yang terdapat di tema ini, mengisyaratkan kenangan kepada seniman Picasso, Max Ernst, Sugesti Erotic, dan bentuk-bentuk surealistis.

Dari 200 karya misalnya,terlihat lukisan Stephen Hawking, seorang ilmuwan penemu teori Big Bang yang dipajang bersamaan dengan banyaknya kursi roda dan background biru seakan melambangkan duka atas kematiannya.

 Lukisan kuda dengan berbeda frame, yang satu hanya menampilkan bagian wajah kuda dan satu frame lainnya menampilkan badan kuda. Dua frame tersebut dipisah dengan jarak yang cukup jauh. Di antara jarak tersebut digambar dengan cat pilok yang beralas tembok polos bergambar tulang berulang kuda tersebut. 

Bukan tanpa alasan GM dan Hanafi membuat itu, terdapat filososi yang ironi, dimana kuda tersebut dikenal kuat, gagah, tapi sebenarnya didalamnya kuda tersebut lemah dan patah. Pameran akan diadakan sampai 2 Juli 2018.