Prancis vs Argentina: Angkat Senjatamu, Raih Mahkotamu...

Category: Berita -> OLAHRAGA | Posted date: 2018-06-30 17:03:55 | Updated date: | Posted by: Asro Rokan


PAUL LABILE POGBA merasa tertekan. Bukan karena pertandingan menentukan malawan Argentina Sabtu malam ini, melainkan tekanan media Prancis — yang terkesan tidak bersahabat dengannya. “Ini mungkin terakhir bagi saya bersama tim nasional Prancis,” kata Pogb



Catatan Sepak Bola Asro Kamal Rokan


Ceknricek.com - PAUL LABILE POGBA merasa tertekan. Bukan karena pertandingan menentukan malawan Argentina Sabtu malam ini, melainkan tekanan media Prancis — yang terkesan tidak bersahabat dengannya. “Ini mungkin terakhir bagi saya bersama tim nasional Prancis,” kata Pogba kepada media setelah pertandingan membosankan Prancis melawan Denmark yang berakhir 0-0, Selasa (26/6).

Kecaman media-media Prancis — yang menilainya provokatif, sok tahu, dan kekanak-kanakan — tidak membuat Pogba patah semangat. “Saya ingin menikmatinya dan melupakan kritikan. Bagi saya yang terpenting adalah apa yang terjadi di lapangan. Saya ingin memenangkan Piala Dunia ini,  meski itu tidak mudah."

Kepada media terkemuka Prancis, Le Monde yang kerap mengkritiknya, pekan Pogba menyatakan,” para pembenci itu justru memberikan kekuatan." 

Malam ini bintang Manchester United itu akan membuktikan, apakah dia pecundang atau justru jadi pahlawan? 

Prancis memang tidak seperti dulu. Dalam tiga pertandingan Group C, tim Didier Deschamps ini, kehilangan pesona keindahannya, meski memimpin klasemen dengan nilai tujuh. Tim ini tidak lagi memiliki seniman sehebat Zinedine Zidane, atau generasi sebelumnya Platini dan Jean Tigana. Semua berubah menjadi datar. Tidak ada sihir yang memukau.

Lupakan keindahan para seniman. Prancis kini berharap menang atas Argentina yang mengalami kekacauan di dalam. Les Bleus diperkirakann mengambil inisiatif menyerang sejak awal, masuk ke pertahanan Argentina yang lemah — kebobolan lima gol dalam tiga pertandingan Group D. Dan hanya menghasilan tiga gol. 

Di sinilah peran Pogba, Thomas Lemar atau Ousmane Dembele sebagai gelandang diharapkan mengatur ritme dan mendistribusikan bola kepada Antoine Griezmann, pemain muda Kylian Mbappe, dan Olivier Giroud yang di depan.  

Di belakang, Benjamin Pavard, Raphael Varane, Samuel Umtiti, Lucas Hernandez, yang dibantu gelandang N'Golo Kante dan Blaise Matuidi, cukup solid. Dalam tiga pertandingan, Prancis kebobolan satu gol ketika melawan Australia.  

Menghadapi Lionel Messi tentu berbeda dibanding dengan melawan skuad Australia. Kecuali — dan ini diyakini dilakukan baris pertahanan Prancis— N’Golo Kante, Umititi, Hernandez dapat memotong hubungan Ever Bonega dan Angel Di Maria dengan Messi. 

Dalam babak 16 besar ini, Argentina sesungguhnya tidak hanya melawan Prancis, tapi juga dirinya. Krisis kepercayaan begitu kuat terhadap

Jorge Sampaoli. Bahkan, pada pertandingan terakhir Argentina melawan Nigeria, pemain minta Sampoali tidak terlibat mengatur pemain. Pertandingan hidup-mati itu berakhir 2-1.

Pemain Argentina, di antaranya Sergio Aguero, Angel Di Maria, Ever Banega, Marcos Acuna, dan Enzo Perez, seperti dikutip Daily Mirror, meminta Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) memecat Sampaoli. Konflik tidak hanya terjadi pada Sampaoli, tapi juga dengan AFA. Selama persiapan Piala Dunia, AFA telah mengganti dua pelatih, Gerardo Martino dan Edgardo Bauza. 

Suasana dalam tim Albiceleste ini. Suasana ini menyebabkan pemain tergantung pada Messi. Menurut pemain legendaris Argentina pada 70-an, Oswaldo Piazza, saat ini Argentina hanya berharap pada kepemimpinan Messi. “Kami tetap menunggu Messi memimpin kami. Tanpa dia, kami bahkan tidak akan berada di Rusia,” katanya kepada Le Monde, Prancis.

Prancis tetap waspada. Messi tidak sekadar pemain dengan kualitas di atas rata-rata, tapi juga pemimpin sesungguhnya di lapangan. Dia bisa saja dipotong N’Golo Kante, Umititi, dan Hernandez, namun kemampuannya mengatur ritme, semangat, dan kekuatan intelegensianya, sulit dibendung. Messi roh bagi Argentina. Bukankah ketika Argentina berada di lobang jarum Group D, Messi dapat mengubah menjadi keberuntungan.

Sabtu malam ini publik akan menyaksikan, pertarungan kekuatan, strategi, dan kepiawaian. Kedua tim memiliki tradisi juara.

Pogba — sedang berupaya menikmati kritik, yang dianggapnya sebagai cemeti untuk tampil lebih baik — dapat memenangkan Prancis, menyanyikan dengan gagah La Merseillaise, seperti prajurit Marseille, François Mireur pada 1792 memasuki Paris untuk berperang.

Aux armes, citoyens 

Formez vos bataillons!! 

Marchons, marchons!! 

Angkat senjatamu, warga

Bentuk pasukanmu

Maju, maju...!!

Dan, Messi yang dianggap rakyat Argentina sebagai penyelamat, tentu menanti kesempatan. Lagu Himno Nacional Argentino, yang diperdengarkan sebelum pertandingan, akan membakar semangat mereka untuk menang:

Sean eternos los laureles,

Que supimos conseguir:

Coronados de gloria vivamos,

O juremos con gloria morir.

Abadilah mahkotanya,

bahwa kita tahu bagaimana menang.

Marilah hidup bermahkotakan kemuliaan,

atau bersumpah mati dengan mulia.

Sungguh, Sabtu malam ini di Kazan Arena, Rusia, ini menegangkan: orang-orang akan berpesta di saat yang lain menangis.