Akhirnya Aplikasi Tik Tok Diblokir

Category: Berita -> SOSIAL BUDAYA | Posted date: 2018-07-04 15:30:27 | Updated date: | Posted by: Raynaldi Wahyu


EKSISTENSI Tik Tok, aplikasi media sosial yang sedang digandrungi, berakhir. Kementerian Komunikasi dan Informasi telah memblokir aplikasi layanan asal Tiongkok itu. "Benar. Situs TikTok kami blokir," ujar Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara kepad



Ceknricek.com - EKSISTENSI Tik Tok, aplikasi media sosial yang sedang digandrungi, berakhir. Kementerian Komunikasi dan Informasi telah memblokir aplikasi layanan asal Tiongkok itu. "Benar. Situs TikTok kami blokir," ujar Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara kepada tim Tekno Liputan6.com via aplikasi pesan singkat, Selasa (3/7/2018).

Pemblokiran tersebut berlaku untuk delapan sistem penamaan domain atau domain name system (DNS) Tik Tok. Rudiantara memaparkan, banyak konten di Tik Tok yang negatif, terutama bagi anak-anak. Ia pun mengaku sudah berkoordinasi dengan Kementerian PPA dan KPAI. "Kami sudah koordinasi dengan Kementerian PPA dan KPAI. Kami juga sudah menghubungi TikTok untuk membersihkan kontennya," tutup Rudiantara. Respon atas demam aplikasi Tik Tok memang beragam. Banyak yang suka. Banyak juga yang mencela.

Malah beberapa netizen sebelumnya siap menggugat Tik Tok dan meminta Kementerian Komunikasi segera menutup aplikasi itu. Mereka menilai aplikasi itu terlalu terbuka. Bisa merusak perilaku anak-anak dan remaja. Bagi pakar teknologi informasi (TI) dan sosial media, Nukman Luthfie, aplikasi Tik Tok memiliki sisi positif maupun negatif. Sama seperti aplikasi maupun sosial media lainnya. Dia juga berpendapat di dunia digital selalu akan lahir inovasi-inovasi baru. Popular atau tidaknya tergantung masyarakat.

Sebelum Tik Tok hadir, terlebih dulu ada Musical.ly. Platform Ini juga media sosial asal Tiongkok. Resmi diluncurkan di Indonesia pada Agustus 2017 lalu. Namun, Musical.ly tidak sepopuler Tik Tok. Padahal aplikasi keduanya tak jauh berbeda dalam penggunaannya.

“Kemudian muncul Tik Tok. Karena layanan video dan lagunya jalan, variasinya juga banyak banget, sekarang meledak,” ucap Nukman saat dihubungi Ceknricek.com lewat sambungan telepon. Popularitas Tik Tok, dan respon prokontra yang mengiringinya dianggap biasa Nukman. Itu keniscahayaan sebuah platform baru. Termasuk bermunculannya artis dadakan yang sebelumnya tidak pernah bermain sinetron, FTv, apalagi film layar lebar. “Ketika ada twitter muncul seleb twit. Muncul instagram, ada selebgram, yang memunculkan orang-orang terkenal gara-gara menggunakan platform viral.“

Nukman menambahkan, platform baru  selalu memberikan terobosan ide yang akan melahirkan aktor-aktor baru. “Tapi ya selalub ada positif negatif.” Nukman menyadari konten yang tersebar di aplikasi Tik Tok tidak hanya yang lucu menggelitik perut saja, tapi juga banyak yang ‘kacau’. “Banyak yang menjurus ke pornografi. Banyak yang menjual diri, yang menipu juga banyak,” imbuhnya.

Kekurangan aplikasi Tik Tok bagi Nukman adalah dari segi aturan usia yang dipatok untuk para penggunanya. Jika platform popular lain seperti Twitter, Facebook, Instagram mengharuskan penggunanya berusia minimal 13 tahun, Tik Tok tidak mengharuskannya. Makanya, banyak pengguna Tik Tok yang berusia 13 tahun ke bawah.

“Seharusnya Tik Tok juga begitu. Tapi karena aturan itu enggak tertulis muncullah anak-anak yang main di situ. Jadi sekitar 80 persen pengguna Tik Tok anak-anak di bawah umur. Dan celakanya Tik Tok dari segi privasi tidak sebagus Twitter, Facebook dan Instagram,” ujarnya.

Berbeda dengan media sosial lain, jika mengunggah konten di aplikasi Tik Tok pengguna tidak bisa membatasi siapa yang diinginkan untuk melihat konten tersebut. Selain itu,  jika pemilik akun sudah tak ingin lagi menggunakan aplikasi Tik Tok, entah itu nonaktif untuk sementara waktu atau menghapus, prosesnya cukup sulit.

“Susah minta ampun. Harus kirim email segala. Makanya masuk Tik Tok gampang, keluarnya susah. Sudah begitu privasinya enggak kejaga. Makanya yang harus hati-hati itu orang tuanya,” tutup Nukman.

Itulah mungkin antara pertimbangan Kemenkominfo memblokir aplikasi yang disukai anak-anak generasi milineal.