Semen Padang, Riwayatnya Dulu

Category: Pengetahuan -> SEJARAH & BIOGRAFI | Posted date: 2018-07-05 08:32:06 | Updated date: | Posted by: Admin


DARI kamar di lantai enam, Hotel Movenpick Amsterdam City, Belanda, saya memandang pelabuhan yang damai. Sebuah kapal pesiar sandar di sisi hotel. Kesibukan di atas kapal mewah itu bisa dilihat sambil sarapan dari teras hotel. Tak lama kemudian, saya ber



Khairul Jasmi*

 

Ceknricek.com—DARI kamar di lantai enam, Hotel Movenpick Amsterdam City, Belanda, saya memandang pelabuhan yang damai. Sebuah kapal pesiar sandar di sisi hotel. Kesibukan di atas kapal mewah itu bisa dilihat sambil sarapan dari teras hotel. Tak  lama kemudian, saya bergegas turun dan naik mobil carteran yang dikemudian warga Indonesia, menuju Leiden.

Hanya 30 menit sampai dan berjumpa doktor Suryadi, teman asal Padang Pariaman yang sudah lama jadi dosen di Leiden University.

Peristiwa dua tahun silam itu, merupakan bagian dari upaya saya dan manajemen Semen Padang mencari dokumen sejarah perusahaan itu.

Pada usianya yang ke-90, saya bersama Prof Mestika Zed dan wartawan otodidak Hasril Chaniago menulis sebuah buku berjudul, ”Indarung Tonggak Sejarah Industri Semen Indonesia, diterbitkan Sinar Harapan.” Itulah buku satu-satunya yang paling lengkap tentang perusahaan tersebut.

Riwayat Sebuah Pabrik

Tiba-tiba sirene berbunyi nyaring, memisau di udara dan orang-orang mencari tempat perlindungan. Itu sirene PT Semen Padang yang berbunyi di semua remot area perusahaan tersebut, dari kantor pusat di Indarung, Padang, Sumatera Barat sampai ke Teluk Bayur, Belawan, Aceh, Dumai dan Lampung.

Hampir 5.000 karyawan keluar, dibantu oleh petugas menyelamatkan diri agar terhindar dari bencana yang ditimbulkan gempa 7 Skala Richter. Ini hanya simulasi tahunan, namun, tak ada yang bisa menebak, ada sebuah perusahaan di Sumatera Barat yang karyawannya 5.000 orang dan semua hidup terjamin. Hanya ada di Semen Padang, sebuah perusahaan yang berdiri pada 1910.

Saya menemukan beberapa dokumen di Leiden dan Amsterdam tentang perusahaan semen tertua dan pertama di Asia Tenggara itu. Sewaktu menulis buku pertama kali, Suryadi memasok kami dengan beberapa dokumen penting. Semen Padang didirikan oleh empat orang dengan kantor pusatnya di Amsterdam. Dokumen-dokumen kini disimpan di banyak tempat. Menurut  informasi dari Suryadi, dokumen itu ada di Balaikota Amsterdam , di Algemeene Rijk Archief, Den Haag, di Koninklijk Instituut voor de Tropen, Amsterdam. Kemudian di Gemeente Amsterdam Standarchief, di Univrsteitsbibliotheek Tilburg dan di arsip keluarga Perusahaan Dagang Veth Bersaudara yang kini tersebar di tujuh kota di Belanda; Sliedrecht, Papendrecht, Lekkerkerk Schiedam, Noord-Holland, Serooskerke dan Middleburg. Rumitnya membongkar dokumen itu memerlukan waktu satu minggu hanya untuk melihat susunan kardus-kardusnya saja. Itu baru di satu tempat. Dokumen lain jika dibongkar dan diduplikat memerlukan waktu berbulan-bulan dengan melibatkan tiga sampai lima orang sepanjang jam kerja setiap hari, kecuali hari libur.

Pada awalnya, perusahaan ini bernama Nederlansch- Indische Portland Cement Maatschappij (NV INI-PCM). Statuta pendiriannya dibuat 18 Maret 1910 di depan notaris Johannes Pieter Smits dengan akta nomor 358. Akta baru dibuat tiga tahun setelah perusahaan dibangun dalam bentuk naamlooze venootschap atau yang kita kenal dengan NV. Pemegang sahamnya 10 orang; Engelbertus van Essen, seorang pialang di Amsterdam, Johan Henderik Wijsman Hendrikzoon. Kemudian tiga bersaudara, Franz Herman Veth, Jan Cornelis Veth dan Cornelis Gerard Veth. Berikut, Franz Herman Veth, Constant Maurits Ernst van Lben Sels, Johan Sara Meinoud Beukman van der Wijck. Yang terpenting adalah seorang insinyur sipil yang perwira Kerajaan Belanda berkebangaan Jerman dan tinggal di Padang bernama Carl Christopus Lau . Dialah pendiri perusahaan itu sesungguhnya. Mereka semua adalah pemilik 1.350 lembar saham. Lacakan Suryadi di Belanda, diketahui, setiap lembar saham bernilai f 1.000 (seribu Gulden), dengan demikian, modal awal NV INI-PCM ini f 1.350.000. Akta pendirian pabrik semen di Hindia Belanda itu, terdaftar secara resmi di Amsterdam pada 23 Maret 1910 dan disahkan dengan besluit Ratu Wilhelmina Nomor 20 tertanggal 8 April 1910. Perusahaan berkantor pusat di Prins Hendrikkade 123 Amsterdam. Kantor pusatlah yang bertanggung jawab atas operasional pabrik dan memperdagangan semen.

Perusahaan ini mulai beroperasi pada 1911 dengan kapasitas produksi 22 ribu ton/tahun, kelak 2018 kapasitasnya menjadi 7,4 juta ton.

Pada 1913 naik menjadi 36 ribu ton. Pada 1939 tercatat sebanyak 170 ribu ton. Dua tahun setelah berproduksi, kapital perusahaan naik menjadi f 2.150.000.

Ombilin 1867

Sejarah industrialisasi di Sumatera Barat, ditandai dengan ditemukannya tambang batubara Ombilin pada 1867 oleh seorang petualangan asal Belanda, Willem Hendrik de Greve. Fantasris, depositnya lebih dari 200 juta ton, yang sampai tulisan ini dibuat, batubaranya masih sangat banyak, Tambang bawah tanah masih belum tersentuh seutuhnya. Kedua ditandai dengan dibangunnya Pelabuhan Emma Haven pada 1888, yang sekarang bernama Teluk Bayur. Kemudian dibangunnya rel kereta api antara Sawahlunto dan pelabuhan tersebut sepanjang 155,5 Km sekitar 1887. Tiga serangkai itu kemudian dilengkapkan menjadi empat dengan dibangunnya Semen Padang 1910.

Nasionalisasi

Indonesia boleh merdeka 17 Agustus 1945, tapi perusahaan, pabrik, bank yang dibangun Belanda, baru benar-benar menjadi milik bangsa setelah dinasionalisasi. Tindakan kebangsan ini ditandai dengan lahirnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 50 tanggal 5 Juli 1958, atau 60 tahun silam. Itulah sebabnya Semen Padang memperingati dua hari besarnya, pertama pendirian pabrik 18 Maret 1910 dan kedua 5 Juli, sebagai pengambialihan perusahaan. Untuk pendirian usianya sekarang sudah 108 tahun dan yang untuk yang kedua baru 60 tahun.

Setelah nasionalisasi, perusahaan ini hampir saja dilego sebagai besi tua pada 1960-an ke Sico Frans, Prancis. Untung kemudian dicegah oleh Gubernur Sumatera Barat, Harun Zain. Ia panggil seorang anak muda yang bekerja di Pindad untuk pulang, nama pemuda itu, Azwar Anas. Di tangan dialah kemudian Semen Padang, mulai pulih dari sakit akutnya.

Hal penting dari Semen Padang tak lain Bukit Karang Putiah, yaitu bukit di banjaran Bukit Barisan di Lubuk Kilangan, yang menyimpan batu kapur. Diambil batunya sejak 1910 dan sampai sekarang masih tersimpan sangat banyak. Masyarakat di sana memandang bukitnya setiap hari dan Semen Padang, menyebar CSR ke sekitar pabrik. Tak hanya itu mempekerjakan warga setempat dan memberi peluang usaha pada mereka. Nama bukit inilah kemudian yang dalam bacaan lain, dijadikan nama grup band terkenal di Sumatera Barat pada 1970-an, Lime Stone. Grup band yang pemain musiknya merangkap vokalis itu, dipakai untuk promosi Semen Padang berbarengan dengan klub sepakbola PS Semen Padang, yang didirikan Azwar Anas pada 30 November 1980.

“Tiang-tiang” Bangsa

“Jam Gadang dibangun dengan memakai putih telur,” itulah yang dipercaya rakyat Sumatera Barat hampir satu abad. Saya kemudian mematahkan anggapan itu, dengan menyatakan, Jam Gadang di Bukittinggi, pasti dibangun memakai Semen Padang. Alasannya, pabrik semen satu-satunya kala itu di Indonesia ada di Indarung, dibangun 1910, sedang Jam Gadang didirikan pada 1926. Tak masuk akal, tak pakai semen. Tak kemana semen akan dicari, hanya ada di Padang. Maka semua bangunan yang didirikan Belanda yang memakai semen di Indonesia sejak 1910 sampai Indonesia merdeka dipastikan memakai Semen Padang. Apapun itu. Tak ada pabrik semen di Asia Tenggara kala itu!

Maka sebutlah, apa yang hendak disebut. Untuk bangunan yang “muda-muda” misalnya Monas, Jembatan Semanggi, gedung DOR/MPR, Hotel Indonesia,Jembatan Ampera, Jembatan Barelang, adalah bangunan yang memakai Semen Padang. Di sanalah pas disebut Semen Padang membangun “tiang-tiang Bangsa.”

Kini? Pasarnya dirampas semen dari China. Laba perseroan secara entitatas dan holding direbut oleh semen asing, hilang setengahnya pada 2017. Asing “merebut roti dari mulut orang lain,” sebuah tindakan kapitalis yang disokong pemerintah dan dihargai oleh pasar bebas.

Selain itu, bahan bakar batubara harganya tinggi, hal itu menyebabkan ongkos produksi naik, sedang harga jual tidak boleh naik. Maka pada 2017, selain pasar semen dari pabrik pemerintah tergerus, juga sebanyak 30 juta ton semen mereka tidak terjual, pada itulah tahun inftrastruktur. Pembangunan giat, semen tak terjual, sebuah ironi. Pada saat bersamaan pula Menteri Perdagangan membuka kran impor semen dan bahan setengah jadi  semen (klinker). Pabrik semen di Indonesia sekitar 15 buah, produksi melimpah, semen asing dumping, menteri malah mengeluarkan izin impor pula. Tak kemana masalah akan dikadukan. Sementara itu, jika ada masalah yang kena getahnya menteri BUMN, padahal yang mengelurkan izin impor menteri lain. Tidak ada cara lain, impor harus dihentikan dengan demikian deviden Semen Indonesia akan lebih besar bagi bangsa.

Sebagai market leader di Sumatera, PT. Semen Padang, juga sudah menjadi bagian tradisi masyarakat di Sumatera Tengah. Jika ada yang melanggar adat maka dendannya “sekian karung semen,” dan semennya adalah Semen Padang. Pemerintah harus memproteksi industri dalam negeri, sebab di sinilah anak bangsa bekerja.

Sejak awal perusahaan semen ini memakai kepala kerbau sebagai logonya dan tak berubah sampai sekarang, yang berganti hanya manajemennya. Masyarakat sekitar yang terus menjaga perusahaan memberikan hari-harinya untuk perusahaan ini. Kini Semen Padang berusia 108 tahun, bergerak serempak ke depan, berteduh di bawah holding Semen Indonesia, bersama Semen Tonasa di Sulsel dan Gresik di Jatim serta Thang Long Cement di dekat Hanoi, Vietnam.

Saya menaiki perahu menyusiri kanal-kanal di Leiden pada awal musim semi yang indah. Tak lama benar, saya dan kawan-kawan dari Semen Padang pamit, kami kembali ke Hotel Movenpick Amsterdam, bertemu dengan para distributor yang tiap tahun memang mendapat reward dari perseroan. Jalan-jalan karena kegigihan mereka menjual semen dari sebuah pabrik yang berusia 108 tahun, pada awalnya hanya memproduksi 22 ribu ton saja, kini 7,4 juta dengan karyawan organik dan kontrak mendekati angka 5.000 orang. Sebuah perusahaan yang punya klub sepakbola: setiap bola ditendang, yang teringat Semen Padang.

Inilah perusahaan yang punya motto: Kami telah membuat sebelum yang lain memikirkan. Punya ring tone sendiri dan ini, punya rumah sakit sendiri.  Sampai sekarang, inilah satu-satunya BUMN di Sumatare Barat, karena itu, kehadirannya tak terpisahkan dari gerak sejarah lokal. Maka jangan sinir kalah pada tahun  1998 sampai 2003 mereka memperjuangkan apa yang disebut spin off Semen Padang dari Semen Gresik, karena kala itu pemerintah akan menjual induk perusahaan yaitu Semen Gresik kepada asing. Jika itu terjadi maka hari ini Semen Indonesia takkan pernah ada. Berkat perjuangan urang awaklah maka Semen Padang, Semen Gresik dan Semen Tonasa masih ada sampai sekarang.

Selamat memperingati nasionalisasi Semen Padang 5 Juli 1958-2018!

*Penulis wartawan utama, pemred Harian Singgalang dan komisaris PT Semen Padang.