Jembatan Cinta dan Mitos Pulau Tidung

Category: Berita -> SOSIAL BUDAYA | Posted date: 2018-07-05 09:41:09 | Updated date: | Posted by: Raynaldi Wahyu


PULAU Tidung menjadi salah satu destinasi favorit diantara pulau lain di kawasan Pulau Seribu. Jembatan Cinta, salah satu obyek wisata dan menjadi primadona bagi wisatawan untuk mengabadikan momen bersama pasangannya. Dari jembatan itu juga para turis bol



Ceknricek.com - PULAU Tidung menjadi salah satu destinasi favorit diantara pulau lain di kawasan Pulau Seribu. Jembatan Cinta, salah satu obyek wisata dan menjadi primadona bagi wisatawan untuk mengabadikan momen bersama pasangannya. Dari jembatan itu juga para turis boleh terjun bebas ke pinggir laut dengan kedalaman sekitar 5 meter. Ada mitos mereka yang terjun ke laut dari jembatan itu akan menemukan cinta sejatinya.

Begitulah. Tim ceknricek.com, pekan lalu, sempat mampir ke pulau yang cukip dekat jaraknya dengan ibukota. Wisawatan yang mau ke pulau itu, bisa berangkat dari Muara Angke. Lalu berlayar dengan kapal kecil sekitar 2-3 jam untuk sampai ke pulau itu.

Pulau Tidung tidak hanya menyuguhkan Jembatan Cinta atau Saung Sunset, bagi para pemburu matahari terbenam saja. Di sebelah baratnya, tidak jauh dari dermaga utama ada Makam Raja Pandita.

Makam ini terletak tak jauh dari TPU Pulau Tidung, pusara warga setempat maupun orang yang mengasingkan diri. Makam tokoh bernama lengkap Aji Muhammad Sapu ini berada di dalam sebuah bangunan menyerupai rumah. Bagian depannya ditembok dan dipagar. Pintunya digembok oleh penjaga makam atau kuncen.

Memasuki pelataran makam, terdapat prasasti Raja Pandita. Plataran tersebut cukup luas. Begitu pun bangunan tempat Raja Pandita disemayamkan. Di sebelah makam almarhum, persis di sampingnya, berjejer dua makam anaknya bernama Teah dan Hamidun.

Kondisi makam kini sudah lebih terurus ketimbang sebelumnya. Mulai dari penataan, juga pagar besi yang sebelumnya hanya dibatasi oleh bambu sebagai pagar.

Mohamad Napsir, penjaga makam, yang juga masih keturunan Raja Pandita, mengatakan, sampai sekarang masih cukup banyak peziarah berdatangan. Mereka datang dari mana-mana. Pada waktu yang tidak menentu. “Enggak tentu. Tapi kemarin habis lebaran lumayan banyak yang datang.”

Biasanya pada hari biasa juga ada tamu yang datang. Misalnya, rombongan majelis taklim dari Jawa Tengah dan Surabaya. “Juga belum lama ini dari Banten ada 63 orang,” ujarnya, saat berbincang dengan ceknricek.com di Makam Raja Pandita, Pulau Tidung.

Tidak hanya peziarah yang berasal dari luar Pulau Tidung, warga setempat juga acap kali berziarah ke makam Raja Tidung XIII itu. Selain mengirimkan doa, warga yang mayoritas merupakan keturunan Raja Pandita juga meminta kesembuhan. Namun mereka tetap berdoa kepada Sang Pencipta sebagai yang menentukan kesembuhan seseorang.

“Seperti di sini juga ada orang yang sakit enggak bisa jalan. Mintanya sama Allah tetap. Cuma dia mengirimkan surat Al Fatihah kepada raja ini. Alhamdulillah, sekarang ia  sudah bisa jalan. Tadinya enggak bisa jalan total. Turun aja digotong ke sini. Tiga kali dia ziarah ke sini minta sama Allah dan berdoa di makam raja, akhirnya sembuh, “ tutur Napsir.

Kuncen itu menegaskan kalau makam tersebut didirikan dari hasil urunan keluarga Raja Pandita. Serta warga sekitar. Bukan prakarsa pemerintah setempat. Ada peziarah yang tulus mengirimkan doa, namun ada juga yang menyalah artikannya. Napsir mengaku sempat kecolongan peziarah yang bersikap aneh saat berada di dalam makam.

“Kalau sayakan begitu penziarah masuk saya keluar. Enggak berani masuk. Terserah aja, yang penting jangan macam-macam. Ziarah silahkan tapi jangan mengada-ada. Kami di sini  Islam,” ujarnya.

Dia bercerita. Pernah tertipu sama seorang China . Orang itu dua kali datang. Pertama bawa mangga. Ditaruh di dekat makam. Bersama kopi pahit dan dupa. Kayaknya minta kekayaaan. Atau yang lain. Napsir tidak tahu. Dua kali bawa pisang dua sisir. “Sajen itu akhirnya saya bawa pulang aja ,” tukas Napsir.

Kuncen ini sudah menjaga makam Raja Pandita selama tiga tahun.

Sekilas Raja Pandita.

Bagi warga dayak Tidung, nama Raja Pandita sangat disegani. Selain tokoh yang anti penjajah, ia juga panutan. Terutama karena kegigihannya dalam menentang Belanda. Ia akhirnya ditangkap dan diasingkan ke kukusan terbesar Kepulauan Seribu.

Raja Pandita juga melegenda lantaran dikenal sebagai raja yang arif dan bijaksana. Ia dianggap sebagai raja yang memersatukan suku-suku yang dulunya berkonflik.

Raja Pandita yang mempunyai nama kecil Raja Kaca ini adalah keturunan dari Raja Kalimantan yang bersuku Tidung. Raja Pandita sendiri adalah raja yang kharismatik dan berwibawa. Dia asli etnik Tidung Malinau. Makamnya sempat dicari oleh sanak keluarganya ke penjuru tanah air.

Dari sekian waktu lamanya, masyarakat Pulau Tidung tidak seorangpun yang mengetahui bahwa Pandita atau Kaca adalah seorang raja yang berasal dari Kalimantan Timur. Maklum, selama dia singgah di Pulau Tidung, sang raja tidak pernah membawa gelarnya. Ia hanya dikenal sebagai Kaca. Sampai meninggal pun beliau hanya di kenal sebagai masyarakat biasa yang tidak beda dengan masyarakat lainnya

Pada suatu hari datanglah sekelompok orang dari kalimantan ke Pulau Tidung. Mereka sedang mencari tahu tentang Pulau Tidung. Mengapa pulau ini di namakan Pulau Tidung?

Setelah mengetahui informasi bahwa ada keluarga Kaca, merekapun saling bertemu. Dalam pertemuan singkat itu, kelompok orang dari Kalimantan itu diketahui adalah keluarga dari Raja Pandita. Mereka sedang mencari keberadaan makam Raja Pandita yang dulu telah diasingkan Belanda

Dalam pembicaraan mereka, ternyata Kaca adalah nama kecil dari Raja Pandita sewaktu beliau belum diangkat sebagai Raja.

Akhirnya, keduanya sama-sama berkesimpulan. Bahwa nama Pulau Tidung diberikan oleh Raja Pandita yang berasal dari suku Tidung Kalimantan Timur.