Indonesia Tegaskan Komitmen Pengelolaan Terumbu Karang

Category: Berita -> INTERNASIONAL | Posted date: 2018-07-05 16:26:15 | Updated date: | Posted by: Ilham Bintang


MENTERI Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menghadiri pertemuan “Make Our Ocean Great Again” (Mewujudkan Lautan Kita Berjaya Kembali) di Paris, Rabu (4/7). Pertemuan bertepatan dengan serah terima Sekretariat International Coral Reef Initiative (ICRI



Ceknricek.com – MENTERI Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menghadiri pertemuan “Make Our Ocean Great Again” (Mewujudkan Lautan Kita Berjaya Kembali) di Paris, Rabu (4/7). Pertemuan bertepatan dengan serah terima Sekretariat International Coral Reef Initiative (ICRI Secretariat Handover) Prancis kepada Monaco, Australia, dan Indonesia, di Muséum National d'Histoire Naturelle. Hadir dalam acara itu, Pangeran Albert II dari Monaco, Ms. Brune Poirson (Menteri Muda Ekologi dan Transisi Inklusif Prancis), Peter Thomson (Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Kelautan), dan Dr. Russel Reichelt (Chairman and CEO the Great Barrier Reef Marine Park Authority) yang mewakili Australia, serta para pakar dan praktisi terumbu karang.

Menteri Susi dalam pertemuan itu menyampaikan ucapan terima kasih atas nama pemerintah RI  karena mempercayai  Indonesia sebagai Ketua Bersama Sekretariat ICRI. Priode kepengurusan bersama dengan Monaco dan Australia ini 2 tahun (2018 – 2020 ). “Atas nama Pemerintah Indonesia, saya ingin menyampaikan kami senang berkolaborasi dengan Monaco dan Australia sebagai Ketua Bersama untuk menjalankan sekretariat ICRI,” ungkap Menteri Susi.

Menteri Susi menjanjikan Indonesia akan terus melanjutkan upaya memperkuat kerjasama dalam konservasi dan pengelolaan terumbu karang serta mencegah dampak perubahan iklim dengan membangun ketahanan terumbu karang. Keterlibatan Indonesia dalam ICRI merupakan bentuk komitmen Indonesia dalam konservasi dan pengelolaan terumbu karang secara berkelanjutan. “Kami menyadari, terumbu karang adalah warisan bersama untuk semua generasi. Oleh karena itu, kami ingin memastikan pemanfaatan ekosistem terumbu karang untuk perikanan, ketahanan pangan, dan kesejahteraan manusia dapat dilakukan secara bijak dengan memperhatikan aspek keberlanjutan,” tegas dia.

Menteri Susi juga menegaskan bahwa sebagai negara kepulauan yang 2/3 wilayahnya merupakan lautan, Pemerintah Indonesia menempatkan komitmen tinggi pada isu-isu laut dan pesisir. Upaya ini telah dilakukan di antaranya melalui keikutsertaan Indonesia pada Word Ocean Conference (WOC) dan Coral Triangle Initiative on Coral Reefs Fisheries and Food  Security (CTI-CFF). 

“Pada 2009 lalu, Indonesia merupakan inisiator utama pendirian CTI-CFF yang merupakan bentuk komitmen kami terhadap  pentingnya ekosistem terumbu karang dalam penyediaan sumber daya dan jasa lingkungan di Kawasan segitiga Karang (Coral Triangle Area),” lanjut dia.

Tahun depan (2019) merupakan satu dekade keanggotaan Indonesia dalam CTI-CFF, dan Indonesia tetap melanjutkan komitmennya dalam mengelola secara berkelanjutan Kawasan Segitiga Karang. Menurutnya, Indonesia juga akan memperkuat kerja sama untuk menanggulangi ancaman kepunahan terumbu karang dan akibatnya bagi masyarakat dan lingkungan. 

Inisiator Resolusi Lingkungan

Dalam sambutannya, Menteri Susi menyampaikan Indonesia adalah inisiator Resolusi Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nation Environment Assembly/UNEA), resolusi 2/12 tentang pengelolaan terumbu karang yang berkelanjutan. Resolusi ini diadopsi pada sesi kedua (UNEA-2) pada Mei 2016 dan merupakan salah satu referensi global dalam mengelola terumbu karang. Resolusi tersebut memberikan arahan bagi kebijakan dan pengelolaan terumbu karang dalam konteks agenda pembangunan 2030. 

“Sebagai langkah tindaklanjut dari resolusi tersebut, Indonesia bekerja sama dengan United Nation Environment Program (UNEP) telah menyelenggarakan pertemuan konsultasi lanjutan resolusi UNEA pada 28-29 Juni 2016 di Manado, Sulawesi Utara, dan berpartisipasi aktif dalam konsil khusus yang dibentuk UNEP untuk implementasi resolusi 2/12,” Menteri Susi memaparkan.

Tak hanya itu, komitmen Indonesia terhadap pengelolaan terumbu karang dunia juga kembali ditegaskan dalam penyelenggaraan Our Ocean Conference (OOC) ke-5 yang akan dilaksanakan di Bali, Indonesia pada 29 – 30 Oktober 2018 mendatang. Dengan penyelenggaraan OOC, akan ditegaskan kembali komitmen global dalam mengatasi kerusakan terumbu karang yang sudah parah melalui kerja sama yang lebih konkret dan berkelanjutan. 

“Ekosistem terumbu karang merupakan salah satu habitat utama yang penting untuk perikanan, wisata pantai, dan adaptasi perubahan iklim. Eksosistem ini juga rentan terhadap polusi laut. Ekosistem karang akan menjadi bagian area tematik utama yang akan dibahas dalam OOC 2018,” tutur Menteri Susi. Keterangan ini disampaikan Lilly Aprilya Pregiwati, Plt. Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri dalam rilis yang diterima ceknricek.com Kamis(4/7) pagi.

Menurutnya, OOC 2018 dapat menjadi forum promosi kelestarian terumbu karang yang sudah mendapat perhatian dan dukungan kuat PBB melalui resolusi 2/12 UNEA dan Target Aichi (Target 10) tentang pengurangan degradasi terumbu karang. OOC juga dapat dijadikan ajang promosi komitmen ICRI kepada negara dan organisasi dunia. Untuk itu, Menteri Susi menyambut baik adanya Pertemuan Tingkat Tinggi tentang terumbu karang dalam penyelenggaraan OOC 2018. 

“Saya mengundang para pemimpin dunia, kepala pemerintahan, menteri, pejabat dan masyarakat sipil untuk berpartisipasi dan mengumumkan aksi. Kita harus menunjukkan kepada dunia bahwa kita dapat melakukan sesuatu untuk menyelamatkan lautan kita. Saya ingin melihat komitmen bersama untuk menjadikan laut kita sebagai warisan kita. Saya menunggu kehadiran Anda di Bali,” pungkas Menteri Susi.