Rokok Tembakau Vs Liquid Vape: Lebih Aman Mana untuk Dihirup?

Category: Pengetahuan -> KESEHATAN | Posted date: 2018-07-07 09:26:32 | Updated date: | Posted by: Ulupi Dwip


Merokok menjadi kegiatan rutin yang dilakukan sebelum atau sesudah melakukan kegiatan. Bahkan banyak orang yang menjadikannya gaya hidup. Padahal, hampir bisa dipastikan mereka yang merokok mengetahui segala jenis kandungan berbahaya yang ada di dalam seb



Ceknricek.com— Merokok menjadi kegiatan rutin yang dilakukan sebelum atau sesudah melakukan kegiatan. Bahkan banyak orang yang menjadikannya gaya hidup. Padahal, hampir bisa dipastikan mereka yang merokok mengetahui segala jenis kandungan berbahaya yang ada di dalam sebatang rokok. 

Rokok konvensional yang tadinya hanya berbentuk batangan dengan gulungan tembakau, kini seiring berkembangnya teknologi yang semakin pesat, muncul tren rokok elektrik yang disebut vape. Vape berbentuk rokok seperti biasa, namun tidak membakar tembakau. Rokok ini membakar cairan dengan menggunakan tenaga listrik yang berasal dari baterai. Akan tetapi,  “katanya” vape lebih tidak berbahaya dari rokok konvensional. 

Apakah benar vape lebih tidak berbahaya dari rokok konvensional? Simak tulisan ceknricek.com berikut ini. 

Rokok Tembakau

Rokok biasanya digulung menggunakan kertas putih dan di dalamnya terdapat daun-daun tembakau. Anda pasti tahu, bahwa produsen rokok sendiri pun telah mengingatkan bahayanya merokok yang disampaikan pada kemasan atau bungkus rokok tersebut, seperti dapat mengalami gangguang pernapasan, batuk kering, hingga yang paling parah kanker. 

Dalam setiap bungkus rokok juga terdapat tulisan bahwa rokok mengandung nikotin. Biasanya kandungan nikotinnya berbeda-beda, tergantung dari ciri khas produk tersebut. 

Tapi tahukah Anda? Sebenarnya terdapat sekitar 12 bahan kimia yang sangat tidak baik untuk tubuh. Seperti, nikotin, tar, sianida, benzene, cadmium, metanol, asetilena, amonia, formaldehida, hidrogen sianida, arsenik, dan karbon monoksida. Bayangkan jika ke 12 bahan kimia tersebut masuk kedalam tubuh Anda dan merusaknya secara perlahan-lahan, menyeramkan bukan?

Vape 

Vape memang sekarang ini sedang banyak digandurungi oleh sebagain orang. Orang tersebut biasanya beralih dari rokok tembakau bertujuan untuk mengurangi bahaya dari rokok konvensional. 

Cairan (atau biasa disebut liquid) yang digunakan pada vape adalah sebuah cairan khusus yang mengandung zat utama gliserin atau propilen glikol. Nah, liquid pada vape tersebut mengandung nikotin yang sama pada rokok tembakau. 

“Tapi kan vape lebih enak karena ada rasanya?”, pertanyaan itu mungkin menjadi alasan bagi Anda untuk tetap menggunakan vape sebagai pengganti rokok tembakau. Tetapi, perasa dari vape tersebut mengandung bahan kimia diasetil yang jika masuk ke dalam paru-paru akan mengendap dan dapat menyebabkan bronkiolitis obliterans. Bronkiolitis obliterans memiliki gejala seperti batuk kering, sesak napas, demam, dan sakit kepala, iritasi kulit, hidung dan tenggorokan. 

Jadi Lebih Bahaya Mana? 

Rokok tembakau mengeluarkan asap hasil pembakaran tembakau serta ke 12 bahan kimia yang dapat menyebabkan berbagai macam penyakit kronis hingga gangguan kehamilan dan janin, sedangkan vape sendiri menghasilkan uap dari cairan perasa buah dan nikotin yang dipanaskan. Liquid yang terdapat dalam vape dapat menyebabkan gangguan tenggorokan, hidung, dan pernapasan

Kesimpulannya, sebenarnya rokok apapun yang Anda gunakan baik itu berbahan dasar  tembakau maupun liquid, keduanya sama bahayanya karena bisa Anda bayangkan jika setiap hari bahan kimia masuk ke dalam tubuh Anda. Tidak ada bahan kimia yang baik bagi tubuh. Hingga saat ini, tidak ada fakta yang membuktikan bahwa vape lebih aman dibandingkan dengan rokok tembakau. Keduanya sama-sama memberikan efek jangka panjang maupun pendek terhadap penikmatnya. 

Satu-satunya cara untuk Anda mengurangi racun rokok bukan beralih dari rokok tembakau ke liquid. Melainkan Anda harus mengubah gaya hidup Anda menjadi gaya hidup yang sehat dengan mengonsumsi makanan yang mengandung gizi baik serta berolahraga atau Anda bisa mengikuti terapi untuk berhenti merokok.