Iming-Iming “PNS Khusus” Untuk Diaspora

Category: BERITA -> POLITIK | Posted date: 2019-03-08 15:47:41 | Updated date: 2018-05-03 19:22:06 | Posted by: Abdullah Alamudi


Ceknricek.com – POTENSI diaspora Indonesia kian serius dibidik pemerintah. Kini, ada iming-iming baru. “Pemerintah siap menerima diaspora yang berkemampuan tinggi, masuk menjadi PNS (pegawai negeri sipil) jalur khusus, “ kata Menteri Pendayagunaan Aparatu



Ceknricek.com – POTENSI diaspora Indonesia kian serius dibidik pemerintah. Kini, ada iming-iming baru. “Pemerintah siap menerima diaspora yang berkemampuan tinggi, masuk menjadi PNS (pegawai negeri sipil) jalur khusus, “ kata Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Reformasi Birokrasi DR Asman Abnur.

Dalam wawancara khusus dengan tim ceknricek. com, Selasa (27/3/ 2018) di kantornya, Asman, 57, pengusaha yang kemudian menjadi politisi PAN itu mengatakan, tawaran yang digagasnya terutama untuk para diaspora yang berkiprah dalam bidang yang masih langka di Indonesia. Misalnya, teknik hitech dan IT. “Kita menyadari agar negara bisa maju, maka penyelenggara negara harus berpikiran maju. Kita perlu orang-orang pintar,” tambah mantan anggota DPR itu.

Orang pintar dari diaspora, jika mereka diangkat nanti sebagai PNS khusus, diharapkan bisa mengefektifkan proses kelancaran pelayanan birokrasi.

PNS jalur khusus memang berbeda dengan PNS biasa. Misalnya, dalam besarnya gaji dan fasilitas tambahan lainnya, seperti infrastruktur.

Asman Abnur menjelaskan, banyak sarjana lulusan luar negeri, yang sudah mendapat bea siswa negara, tapi tidak mau bekerja di dalam negeri. Bukan karena gaji kecil. Tapi karena infrastruktur yang mereka harapkan tidak ada atau tidak lengkap.

Menpan Asman belum mau menyebut angka gaji dan fasilitas apa saja yang bakal diberikan nanti kepada diaspora. Yang pasti, pemerintah, katanya, akan berupaya menyesuaikan angka penerimaan tersebut dengan yang diterima para diaspora di luar negeri.

Orang boleh mengernyitkan kening mendengar rencana itu. Soalnya bukan rahasia, selama ini beda penerimaan para perantau kita dengan saudara mereka para PNS di tanah air amatlah jauh.  Seorang diaspora karyawan biasa (blue collar workers) dan sudah pengalaman bekerja di atas lima tahun — di AS dan Eropa— misalnya, bisa bergaji sekitar Rp50 juta per bulan. Apalagi mereka yang sudah mencapai tingkat manajer (white collar).

Toh, Menteri Asman bersikukuh tawaran PNS jalur khusus nantinya akan bisa kompetitif.  “Sekarang saja sudah ada PNS eselon satu yang bergaji Rp 40 jutaan.” Dengan tingkat gaji dan fasilitas PNS eselon satu, menteri berdarah Minang itu percaya para diaspora yang memiliki nasionalisme dan kecintaan tinggi pada tanah airnya, akan menerima tawaran tersebut.

Dino Patti Djalal, pendiri Kongres Diaspora Indonesia (KDI) sepakat pada harapan Asman Abnur. “Gagasan itu sangat positif. Insentif yang sudah lama ditunggu diaspora,” katanya kepada ceknricek.com.

Dia membenarkan dari sisi materi apa yang ditawarkan pemerintah masih kecil. Tapi, diaspora tidak hanya melihat materi. “Mereka ingin diakui dan dihargai. Dengan mendapatkan pengakuan mereka umumnya mendapat kepuasan batin,” ujar mantan Dubes RI di Amerika itu.

Hampir semua diaspora yang sudah sukses di luar negeri, katanya, merasa bangga jika mereka bisa pulang dan memberikan kontribusi pada negara. “Mungkin tidak selamanya atau permanen. Gak apa-apa. Yang penting selama di Indonesia mereka sudah memberikan kontribusi.”Tak bisa dimungkiri, diaspora alias para perantau Indonesia yang mukim di luar negeri adalah kekuatan anak bangsa yang masih belum dimanfaatkan maksimal. Padahal, rata rata mereka sudah hidup sukses dan berkecukupan — terutama yang sudah merantau di atas 10 tahun.

Sejak Tahun 1600-an

Data Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemlu RI menyebutkan, jumlah total diaspora sekarang berkisar 8 juta jiwa. Dua juta diantara dikenal sebagai TKI (Tenaga Kerja Indonesia).

Jika satu diaspora rata-rata bergaji Rp 50 juta per bulan. Bisa dihitung rupiah yang beredar di tangan mereka. Para diaspora itu sendiri tersebar di manca negara (lihat: infografis).

Tak cuma hidup sejahtera, banyak anak rantau Indonesia itu adalah warga unggulan di negara yang mereka diami. Misalnya, dalam kecakapan intelektual di bidang pendidikan; penguasaan sains dan teknologi: kesuksesan di ladang bisnis dan investasi (lihat: tokoh diaspora).

Migrasi perantau Indonesia ke manca negara, menurut sejarah, dimulai sekitar tahun 1600-an oleh beberapa warga masyarakat Makassar ke wilayah Australia.

Selain itu, langkah kolonial Belanda membuang ulama legendaris asal Gowa Syekh Yusuf Al Makassar ke Cape Towh, Afrika Selatan pd 1683 juga menjadi tonggak awal penyebaran diaspora Indonesia. Disamping, tentu, tindakan lain pemerintah kolonial Belanda yang memindahkan secara paksa masyarakat Jawa ke Suriname pada 1890-1939.

Setelah kemerdekaan, tak ada lagi migrasi paksaan. Yang terjadi kemudian, karena kebutuhan sendiri warga negara berjuang merantau ke pelbagai negara. Jadilah mereka para migran atau perantau yang kemudian belakangan populer disebut diaspora Indonesia.

Pengaruh dan peran mereka makin terasa penting dan positif dalam membantu tugas perwakilan resmi RI di mana-mana. Misalnya, mereka kerap membantu dan ikut jadi ujung tombak perwakilan RI dalam diplomasi tidak resmi, termasuk menjembatani penyelasaian masalah yang sering muncul di kalangan para perantau WNI.

Jumlah terus meningkat dan potensi juga terus berkembang rupanya menyadarkan pemerintah pusat. Awal Juli 2102 pemerintah RI mulai menghimpun mereka melalui penyelenggaraan Kongres Diaspora Indonesia I (KDI I) yang dilaksanakan di Los Angeles, AS. Pemrakarsa kegiatan ini adalah Dubes RI untuk AS kala itu dijabat Dino Patti Djalal.

Kebijakan pemerintah Presiden SBY dalam menghimpun diaspora itu kemudian diteruskan pemerintahan Presiden Jokowi. Malah, dengan perhatian dan intensitas lebih besar. Kegiatan KDI pun — sudah diadakan empat kali— kemudian diadakan di Indonesia. Ini sekalian memberi kesemempatan para diaspora pulang kampung.

Antusiasme para diaspora untuk berkontribusi mendorong kemajuan negara sebenarnya cukup besar. Tapi, untuk menarik mereka pulang kampung tak mudah. Sudah lewat lima tahun KDI berlalu, belum banyak tokoh diaspora bisa ditarik pulang ke tanah air.

Presiden Jokowi akhirnya membuat terobosan. Tapi sayangnya sempat bikin heboh. Yakni, ketika dia mengangkat Arcandra Tahar, seorang diaspora sukses di AS, menjadi menteri ESDM di kabinetnya pada Juli 2016. Langkah ini menuai protes. Itu gara-gara Arcandra belakangan diketahui pada Maret 2012 pernah angkat sumpah menjadi warga negara Amerika.

Sempat bertugas selama 20 hari, Arcandra, ahli migas dan memiliki hak paten tentang desain pengeboran migas off shore itu, kemudian diberhentikan. Namun, karena pemerintah memerlukan keahliannya, ia diangkat kembali sebagai wakil menteri ESDM setelah admistrasi kewarganegaraanya dibereskan.

Warga negara potensial macam para diaspora unggulan selayaknya memang diajak menyokong kemajuan negaranya. Langkah itu belakangan ini intens dilaksanakan banyak negara Asia. Selain Indonesia dan Malaysia, dua negara berpopulasi besar —seperti India dan RRC—aktif melakukannya.

Pemerintah RRC, misalnya, adalah contoh negara paling agresif dan berani dalam taktik menarik warga perantaunya. Bukan cuma diaspora, tapi semua etnis China di manca negara mereka undang dan bebaskan masuk ke Daratan Tiongkok.

Bulan lalu, mulai 1 Februari 2018, pemerintah RRC  menyediakan visa khusus bagi keturunan etnis China di seluruh dunia untuk tinggal atau berkunjung ke China. Dengan visa itu mereka bisa tinggal selama lima tahun, atau berkunjung ke China daratan berkali-kali.

Lewat kebijaksaan itu jelas sekali PM Jinping ingin memanfaatkan semua keturunan etnis China di seluruh dunia untuk ikut berkontribusi memperkuat ekonomi China.

RRC adalah negeri adidaya baru. Tapi, mereka malah berani membuat policy lebih agresif guna menarik tak cuma para diaspora, tapi juga saudara seetnisnya.

Langkah agresif banyak negara itulah, imbuh Doni Patti Djalan, yang perlu diperhatikan dan dilakukan pemerintah. Agar bisa bergerak lebih cepat dan berani dalam merangkul dan memanfaatkan para diaspora kita.