Film Indonesia 2017

Category: ENTERTAINMENT -> FILM & MUSIK | Posted date: 2018-05-05 04:18:14 | Updated date: 2018-05-17 00:51:14 | Posted by: Asro Rokan


Ceknricek.com - Setyo dari Radio Trijaya FM menelepon Jumat (29/12) pagi, minta waktu wawancara per telepon. Lima menit kemudian penyiar Lia Christie menyapa dalam acara siaran langsung yang mengangkat topik : Film Indonesia 2017.



Ceknricek.com - Setyo dari Radio Trijaya FM menelepon Jumat (29/12) pagi, minta waktu wawancara per telepon. Lima menit kemudian penyiar Lia Christie menyapa dalam acara siaran langsung yang mengangkat topik : Film Indonesia 2017.

Saya menyampaikan catatan tentang film Indonesia. Pertama, secara angka-angka. Jumlah film Indonesia yang beredar 2016 - 2017 menggembirakan karena alami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Menurut data filmindonesia.or.id tahun 2016, 132 judul dan tahun 2017 naik menjadi 138 judul. Jumlah penonton 36 juta (2016) dan untuk 2017 sampai November sudah melampaui angka 2016. Diperkirakan sampai akhir tahun sekitar 42 juta penonton. Jumlah uang 2017 dari karcis mendekati angka 800 milyar rupiah. Naik 200 % dibandingkan 2015. Ambil contoh "Warkop Reborn 1" (2016) tujuh juta penonton dan berlanjut "Warkop Reborn 2" (2017) sekitar 5 juta penonton. Revenue dari karcis buat produser kalau pukul rata Rp15 ribu tiap penonton maka terakumulasi  untuk dua seri Warkop saja Rp180 miliar. Angka yang wow! Maka Warkop Reborn seri 1 dan 2 pun mencatat rekor terlaris sepanjang sejarah film Indonesia.

"Pengabdi Setan" film yang dibuat ulang Rapi Film mengantar film ini juga membuat rekor film horor Indonesia terlaris sepanjang sejarah. Dapat Poin di ajang Festival Film Indonesia. Koin dari pendapatan besar tiket orang menonton. Film ini menurut data filmindonesia.or.id mendapatkan lebih 4 juta penonton.

Film lainnya "Ayat-Ayat Cinta 2" produksi MD Production sekarang juga panen, menyusul sukses serial pertamanya. "Susah Sinyal" pun demikian. Film produksi Star Vision ini masih bertahan di bioskop dengan 3 film Indonesia lainnya di akhir tahun. Menurut produsernya, Ir Chand Parwez, dalam sembilan hari diputar di bioskop, "Susah Sinyal" sudah meraih lebih satu juta penonton.

Yang juga mesti dicatat kata Parwez market share film Indonesia sudah melampaui 35 %. "Di luar India, Indonesia tertinggi sekarang di seluruh dunia," tambahnya menguatkan.

Dua tahun terakhir jumlah film yang mendapatkan penonton lebih satu juga bertambah, menjadi lebih dari 10 judul.

Saya mencatat Star Vision belakangan seperti memfokuskan produksinya menembak segmen penonton remaja. Maka, termasuk 10 besar itu. Dia mencoba konsisten di situ, dan tampaknya ketemu. Nama Star Vision sekalian menjadi brand bagus. Film apapun yang dibuat selalu dapat respon. Remaja menjadi captive marketnya. Risetnya tentang penonton remaja dan kegemaran generasi milineal dieksplor sedemikian rupa.

Kepada Lia, fenomena ini saya sebutkan dengan istilah film Indonesia sudah menemukan karakternya. Yaitu : fokus pada keinginan masyarakat penonton. Apakah itu berarti membebek selera penonton? Itu hal berbeda. Sebagai bukti, film itu tetap menyelipkan pesan kuat tanpa menggurui. Tanpa memaksa, tanpa doktrin.

Yang menarik fenomena ini terjadi justru setelah peran pemerintah berkurang, kalau tak mau mengatakan tidak ada. Jejak pemerintah hanya terlihat pada penyelenggaraan acara Festival Film Indonesia. Tapi dua ajang festival diselenggarakan pemerintah tiap tahun hampir tak berperan, tidak terasa faedahnya. Sekadar bunyi saja tidak. Lihat saja rating acara festival itu yang disiarkan oleh stasiun televisi.

Pemerintah bukan tak mau berperan. Bayangkan saja sampai ada dua kementerian yang mengurusi perfilman. Kementerian Pariwisata dan Kementerian Pendidikan Nasional. Tetapi sama-sama seperti kebingungan memulai dari mana kecuali masing-masing bikin FFI.

UU Perfilman No 33 tahun 2009 memang sampai hari ini belum punya landasan operasional dalam bentuk Peraturan Pemerintah. Padahal, PP itu diamanatkan oleh UU. Bahkan ada sanksi jika kementerian yang diamanatkan untuk melahirkan itu tidak merealisasikan PP tersebut.

Peran organisasi perfilman? Itu sudah lama lenyap. Sejak tahun 1992 ketika UU Perfilman No 8 yang pertama atau yang lama, berlaku. Dewan Film Nasional, BPPN, dan terakhir BPI, juga tak bunyi. Begitu juga dengan Badan Ekonomi Kreatif. Pokoknya, saya ingin mengatakan catatan keberhasilan film Indonesia belakangan lebih karena jalan dan tangan Tuhan.

Saya menyampaikan dua catatan dalam wawancara live di Radio Trijaya FM kemarin. Yang di atas itu catatan pertama. Catatan kedua, ini.

Produser film ternyata lebih dahulu menemukan cara dan jalan cepat menyesuaikan diri dengan dinamika masyarakat di era teknologi digital ketimbang insan pers media mainstream. Saat ini sebagian besar media mainstream khususnya media cetak masih tertatih-tatih dan ngos-ngosan menyesuaikan diri dengan dinamika perubahan masyarakat.

Tercatat ratusan penerbit media cetak alami penurunan tiras dan iklan. Sebagian menyerah dan tutup, termasuk penerbitan dari grup media besar. Sebagian yang migrasi ke media on line juga masih mengeluh karena belum ketemu karakter yang tepat. Ada yang sudah dapat poin memang, dapat hits yang tinggi, atau menempati urutan tinggi menurut lembaga survey tetapi penghasilan mereka belum seimbang dengan pengeluaran. Yang bertahan memang masih cukup banyak, ini lantaran segera menyadari dan bergegas berubah dan melindungi diri dari gempa maha dahsyat akibat perubahan pola komunikasi.

Padahal industri pers dan film hampir seumur di negeri kita. Separuh abad industri pers pernah menjadi pemimpin, dan dunia film yang tertatih-tatih. Industri film sangat bergantung dunia pers. Kata pers bagus, penonton manut bilang itu film bagus. Datang berbondong-bondong ke bioskop. Jangkauan pers lebih luas mencakup seluruh wilayah tanah air

Ketergantungan itu sudah semakin semakin kini. Promo-promo film menyebar lewat media sosial menembus batas dunia. Pelaku-pelaku film banyak yang memiliki akun di media sosial yang followers (pengikutnya) puluhan juta. Itulah yang dominan bekerja mempromosikan film untuk menjangkau masyarakat seluas-luasnya.

Insan film juga sudah memanfaatkan riset yang akurat untuk mendeteksi sasaran segmennya, ditambah pula dengan perhatian besar pada kemasan.

Dalam catatan, produser film yang eksis sekarang ini masih didominasi oleh perusahaaan lama, di atas 25 tahun usianya, seperti Star Vision (ex Kharisma Jabar Film) Rapi Films dan MD (ex Parkit Films) bahkan sudah hampir mencapai usia setengah abad. Artinya, mereka sadar untuk berubah.