DSA Itu Bukan Temuan Dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (K) RI

Category: BERITA -> KESEHATAN | Posted date: 2018-05-06 00:33:03 | Updated date: 2018-05-17 04:34:45 | Posted by: Marah Sakti Siregar


Ceknricek.com - KONTROVERSI DR Terawan Agus Putranto (TAP) dengan metode terapi "cuci otak" nya rupanya tak segera padam pasca rekormendasi keras MKEK IDI. SK lembaga etik kedokteran itu malah memantik kontroversi baru. Yakni, munculnya dua kubu yang bela



Ceknricek.com - KONTROVERSI DR Terawan Agus Putranto (TAP) dengan metode terapi "cuci otak" nya rupanya tak segera padam pasca rekormendasi keras MKEK IDI. SK lembaga etik kedokteran itu malah memantik kontroversi baru. Yakni, munculnya dua kubu yang belakangan makin lantang bersilang pendapat di ruang publik.

Inilah agaknya dampak atas beredar rekomendasi keras Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) yang meminta PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia) segera memberhentikan sementara (selama setahun ) DR TAP sebagai anggota IDI. Begitu SK MKEK itu bocor —via berita ceknricek.com: 'Sanksi "pecat" buat DR Terawan'—sontak muncul kelompok pendukung dokter ahli stroke itu.
 Mereka adalah para tokoh yang mengaku merasakan manfaat metode terapi pengobatan DR TAP.

 Prof DR Prijo Sidipratomo

Diwakili antara lain oleh Usahawan Aburizal Bakrie dan pakar hukum Prof Mahfudz MD, kubu ini gencar memberikan testimoni kebenaran terapi pengobatan DR TAP, yang juga anggota Tim Dokter Kepresidenan itu.
 Kubu kedua, kebanyakan diwakili para dokter dan profesor kedokteran
 yang ngotot menegakkan kode etik kedokteran dan keterbukaan kebenaran ilmiah. Kubu ini diwakili para dokter penegak etik yang dipimpin Prof DR Prijo Sidipratomo, ketua umum MKEK dan para sejawatnya sesama pengurus MKEK.

Mereka didukung oleh sejumlah profesor lain. Diantaranya profesor yang memimpin perhimpunan dokter ahli. Sebutlah, misalnya, Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) yang dipimpin Prof DR Hasan Machfoed. Tokoh ini sejak awal secara konsisten memang terus menolak dan menggugat metode terapi "cuci otak" yang diterapkan DR TAP untuk mengatasi stroke.

"Di seluruh dunia (kedokteran) tidak ada itu terapi "cuci otak" yang memodikasi DSA (Digital Substraction Angiogram)," kata Prof Hasan Machfoedz kepada ceknricek.com.
 Neurolog senior Universitas Airlangga ini, terus mengulang pandangannya. Bahwa DSA itu alat diagnosa. Bukan alat terapi pengobatan. Apalagi bisa dijadikan alat preventif untuk stroke.

"DSA itu sudah ada sejak tahun 1917an. Jadi tidak benar, jika dikesankan DR Terawan yang menemukannya." (Lihat: Dokter Juga Bisa Tidak Ilmiah).
 Prof Hasan mengatakan dia tidak bermaksud mendiskreditkan DR TAP dan Universitas Hasanuddin, Makassar, yang sudah menganugerahkan gelar doktor pada TAP yang lulus dokter di UGM dan mengambil S2 Radiologi di Unair. "Jadi di Radiologi, DR Terawan itu yunior saya juga," tukasnya.

Tapi, dari tataran ilmiah, dia serius mengatakan sangat setuju pada usulan berkembang belakangan ini agar Unhas—karena luasnya perbedaan pandangan atau kontroversi "keilmiahan" metode terapi "cuci otak" DR TAP—sebaiknya melakukan eksaminasi ilmiah tertutup atas disertasi TAP. "Itu sesuatu yang mungkin bisa jadi solusi. Dan hanya bisa dilakukan oleh Unhas," ujarnya.

Ya, demi penegakan kebenaran ilmiah suatu metode terapi pengobatan.
 Mungkinkah sebuah disertasi yang sudah dinyatakan lulus dieksaminasi ilmiah? Apakah Unhas mau dan siap melakukannya? Rektor Unhas Prof DR Dwia Aries Pulubahu belum mau menjawab.
 Kepada wartawan ceknricek.com yang menghubunginya Rabu malam (4/3/18), Prof Dwia semula menyatakan siap menjawab pertanyaan via WhatsApp. Tapi, setelah pertanyaan masuk, rektor Unhas itu tak kunjung menuliskan jawabannya.