Gemulai Tarian Jawa Penari Inggris

Category: ENTERTAINMENT -> FILM & MUSIK | Posted date: 2018-05-06 00:42:38 | Updated date: 2018-05-17 00:30:57 | Posted by: Farid Iskandar


Ceknricek.com - Denting gamelang sering didengar warga di Dusun Pete, Desa Majaksingi, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Di tempat itulah Rachel Harrison bersama suaminya, Adi Maryono, membangun sanggar tari dan gamelan. Namanya Sangga



Ceknricek.com - Denting gamelang sering didengar warga di Dusun Pete, Desa Majaksingi, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Di tempat itulah Rachel Harrison bersama suaminya, Adi Maryono, membangun sanggar tari dan gamelan. Namanya Sanggar Seni Joglo Pete. Nama sanggar dipetik dari nama dusun tempat mereka tinggal.

Sanggar Seni Joglo Pete membuka kelas umum dan gratis sekali dalam sepekan setiap hari Minggu. Kelas tari klasik dibuka pukul 14.00 WIB. Sementara, untuk latihan gamelan pukul 19.30 WIB. “Selain tari klasik Jawa, gamelan, warga juga bisa latihan nyinden,” kata Rachel dalam sebuah wawancara dengan Ceppy F Bachtiar dari Tabloid C&R, beberapa waktu lalu.

Ketertarikan Rachel pada kesenian tradisional Jawa berkebalikan dengan profesi konsultan geologi yang digelutinya selama ini. Ia mengenal seni tari sejak menikah dengan Adi, pria Magelang, pada 9 Agustus 2014, di Borobudur. Kebetulan, suaminya juga menggeluti bidang geologi.

Sebelum menikah, perempuan asal Inggris ini sudah delapan tahun bermukim di Indonesia. Ia bekerja sebagai konsultan geologi dan ahli eksplorasi emas dan tembaga di Jawa Timur sejak tahun 2009. Di tahun yang sama Rachel mulai belajar bahasa Indonesia.

Empat tahun setelah itu, ia pindah ke Borobudur untuk menangani sejumlah proyek eksplorasi di Jawa, Sulawesi dan Amerika Selatan, sebelum kemudian menetap di Ubud, Bali selama dua tahun (2014).

Sejak menikah, ia mulai tertarik dunia seni tari. Bahkan, di pesta pernikahan mereka menggabungkan tradisi budaya Inggris dan Jawa. Rachel bahkan harus mempelajari tari Jawa, yang belum sama sekali pernah ia lakukan sebelumnya.

Sembilan kali ia belajar tari Gatutkaca-Pergiwo kepada Wisnu Aji Setyo Wicaksono, putra master tari Tejo Sulistyo. Latihan digelar di studio Tejo di Yogyakarta. Termasuk dapat workshop intensif selama seminggu di rumah Rachel di Ubud.

“Di pesta pernikahan dalam budaya Inggris, suami-istri harus jadi the first dance. Kami menari Gatutkaca-Pergiwo dalam koreografi lakon Abimanyu dan keluarga cakil. Rasanya indah sekali sampai ingin meneruskan belajar tari Jawa,” kenang Rachel.

Tahun 2016, ia bertemu seniman dalang dan tari Ki Eko Sunyoto di komunitas Beksa Kinara-Kinnari di Yogyakarta. Selama tiga tahun, ia berlatih tari Kinara-Kinnari. Ini adalah tarian setengah manusia dan setengah burung dari relief Candi Pawon dan Borobudur.

Rachel dan rekan-rekannya pernah menari Kinara-Kinnari untuk menyemangati 8.754 peserta sepanjang rute ‘Bank Jateng Borobudur Marathon 2017’ di kawasan Candi Borobudur, pada 19 November 2017.

Tarian Kinara-Kinnari

Yang membuat lulusan S-3 University of Tasmania, Australia ini tertarik tarian Kinara-Kinari adalah geraknya yang beda dibanding tari klasik Jawa lain. Tari ini lebih bebas seperti burung dan banyak arti. “Ditemukan guru tari saya, Ki Eko Sunyoto, saat meditasi di Candi Pawon. Tari ini butuh kelenturan, menguras tenaga, dan konsentrasi tinggi,” kata Rachel.

Jika tak ada kesibukan bekerja, ia biasa berlatih tari di sanggar merangkap rumahnya. Rumahnya di kaki bukit Menoreh, ia akui sangat indah. Lengkap dengan udara sejuk dan panorama indah dari Candi Borobudur, Gunung Merapi, Merbabu, dan Sumbing.

“Pukul tiga siang, ada komunitas nenek dan kakek dari Kerug Batur di atas bukit Menoreh. Mereka jalan kaki satu jam untuk latihan gamelan di sanggar saya. Ada yang umur 70-an dan masih sehat, kuat, dan senang berlatih gamelan,” ungkapnya.

Di sanggarnya, Rachel menyediakan guru tari Eko Sunyoto. Untuk gamelan, dilatih oleh Yulius Gunawan dan Heri Widiyanto. Sementara, Agnesia Tutik Utami, melatih sinden. Setiap Selasa malam, ada latihan dari komunitas gamelan dan tari dari anak-anak muda puncak Setumbuh.

“Semua gratis. Selama ini, enggak ada sanggar gamelan dan tari di sekitar Borobudur. Saya mau teruskan budaya Jawa yang sangat halus dan penuh makna di area Magelang,” ucapnya. Menurut Rachel, dari belajar seni tari seseorang bisa jadi berkarakter sabar, halus, sehat, dan berenergi positif.

Empat tahun mahir menari Jawa, Rachel hapal sebelas lebih tari tradisional Jawa. Selain Gatutkaca-Pergiwo dan Kinara-Kinnari, adalah Janoko-Cakil, Golek Sri Rejeki, Karonsih, Srikandi-Larasati, Lambangsih, dan fragmen Asamardahana.

Beberapa kali, ia tampil untuk resepsi pernikahan, wayang, hingga pembukaan pameran lukisan di kaki gunung sekitar Borobudur. Seperti Jogya Gallery hingga Siswa Sukra, gamelan grup asal Inggris. “Mei nanti, saya (menari) ke Jakarta. Mudah-mudahan, selanjutnya, ke luar negeri,” sambung lulusan S-2 University of Bristol, Inggris (2012-2014) ini.

Penuh Makna 

Rachel tertarik pada budaya Jawa karena penuh makna dan sangat luhur berisi nilai-nilai hidup dan kebaikan. Sayang, meski lama menetap di Indonesia, ia belum jadi warga negara Indonesia. Untuk pelepas rindu, keluarganya di Inggris, saban tahun terbang ke Indonesia.

“Saya masih tunggu Pak Jokowi beri izin orang asing punya dua paspor (Indonesia dan Inggris). Saya baru ada KITAS (Kartu Izin Tinggal Terbatas/Tetap),” tutur perempuan kelahiran Leicester, Inggris, 13 November 1984 silam ini.

Sudah nyaman tinggal di Indonesia, ia tak punya rencana kembali ke negaranya. “Cuaca di Inggris terlalu dingin, hehe. Lebih cocok (tinggal) di Jawa. Makanan di Indonesia enak. Budayanya sangat halus dan ramai,” katanya.

Ketika disinggung, adakah keinginan mengajar seni tari di Inggris, ia mengangkat bahu. Rachel membangun sanggar tari, justru karena melihat kondisi anak muda di Jawa lebih tertarik budaya barat.

Rachel mantap menetap di Dusun Pete, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Ia enggan kembali ke negeri asalnya karena terlanjur cinta Indonesia.